Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Transformasi Danantara Dorong Laba Pupuk Indonesia Naik 253 Persen pada Semester I 2026

Heri Sugiarto • Rabu, 15 Juli 2026 | 13:48 WIB
Pupuk Indonesia mencatatkan kinerja keuangan Semester I 2026 dengan laba Rp8,51 triliun hasil transformasi bisnis dan efisiensi operasional di bawah Danantara.(Foto: Corcom)
Pupuk Indonesia mencatatkan kinerja keuangan Semester I 2026 dengan laba Rp8,51 triliun hasil transformasi bisnis dan efisiensi operasional di bawah Danantara.(Foto: Corcom)

PADEK.JAWAPOS.COM – PT Pupuk Indonesia (Persero) membukukan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun pada periode Januari–Juni 2026. Capaian tersebut meningkat 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring transformasi bisnis, efisiensi operasional, dan penguatan tata kelola perusahaan yang dijalankan selaras dengan agenda Danantara Indonesia.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan transformasi bisnis yang didukung pemerintah melalui Danantara mulai memberikan hasil nyata terhadap kinerja keuangan perusahaan. Menurutnya, penerapan operational excellence dan cost leadership secara disiplin menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujar Rahmad dalam keterangan tertulis, Senin (13/7).

Selain mencatat pertumbuhan laba, Pupuk Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp59,67 triliun, naik 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, EBITDA meningkat 140 persen menjadi Rp14,28 triliun, didorong kenaikan volume produksi serta efisiensi biaya operasional.

Menurut Rahmad, perusahaan terus memperkuat ketahanan bisnis melalui strategi diversifikasi sumber pendapatan.

Langkah tersebut dilakukan dengan meningkatkan kontribusi segmen non-subsidi dan produk non-pupuk, sekaligus memperluas sumber pasokan dan skema kontrak bahan baku guna meredam dampak fluktuasi harga komoditas global terhadap struktur biaya perusahaan.

Transformasi bisnis juga terus diperkuat melalui berbagai program, mulai dari operational and digital excellence, penguatan holding business streamlining, peningkatan tata kelola distribusi public service obligation (PSO), hingga penguatan sektor komersial.

Dari sisi regulasi, transformasi tersebut didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, yang disebut perusahaan menjadi titik balik peningkatan efisiensi operasional.

Sebagai bagian dari agenda transformasi, Pupuk Indonesia juga menyiapkan program revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun mendatang sesuai arahan Danantara untuk mengoptimalkan portofolio aset BUMN agar semakin produktif dan memberikan nilai tambah.

Perusahaan juga menyiapkan sejumlah langkah strategis pengembangan bisnis, antara lain ekspansi dan diversifikasi portofolio produk melalui pengembangan metanol beserta turunannya, bisnis clean ammonia, serta pengembangan sektor industrial support.

Penyaluran Pupuk Bersubsidi Meningkat

Transformasi yang dilakukan Pupuk Indonesia juga disebut memberikan dampak terhadap penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani.

Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi, meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung implementasi sistem i-Pubers yang mempercepat proses penebusan pupuk serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menyederhanakan tata kelola distribusi pupuk bersubsidi.

Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 5,13 juta ton pupuk bersubsidi atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebanyak 9,8 juta ton.

“Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan,” kata Rahmad.

Fokus pada Keberlanjutan Bisnis

Di sektor operasional, Pupuk Indonesia menegaskan efisiensi dan optimalisasi aset akan terus menjadi strategi utama untuk menjaga daya saing perusahaan.

Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, perusahaan menyatakan memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri sekaligus merespons peluang pasar global tanpa mengganggu pasokan bagi petani Indonesia.

“Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” pungkas Rahmad.(*)

Editor : Heri Sugiarto
Pupuk Indonesia Semester I 2026 Laba Pupuk Indonesia 2026 Transformasi Danantara Pupuk Indonesia Kinerja keuangan Pupuk Indonesia Penyaluran pupuk bersubsidi 2026