Harga Emas Melemah, Investor Tunggu PCE dan Pidato Kevin Warsh

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:05 WIB
Harga emas dunia yang sempat menyentuh  US$4.700 turun ke US$4.619 per ounce pada perdagangan Rabu 26 Agustus 2026. (Foto ilustrasi: Pegadaian)
Harga emas dunia yang sempat menyentuh US$4.700 turun ke US$4.619 per ounce pada perdagangan Rabu 26 Agustus 2026. (Foto ilustrasi: Pegadaian)

PADEK.JAWAPOS.COM — Harga emas yang sempat menyentuh US$4.700 per troy ounce, melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) ketika investor mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu perhatian utama Federal Reserve.

Pada pukul 16.08 WIB, harga emas spot turun menjadi US$4.619,53 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas turun menjadi US$4.674,51 per ounce.

Pergerakan tersebut membuat emas berada di jalur untuk mengakhiri tren kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.

Namun, penurunan harga minyak memberikan sedikit dukungan terhadap logam mulia.

Harga minyak mentah dunia turun di bawah US$90 per barel di tengah laporan kemajuan upaya diplomatik untuk menghentikan konflik di Timur Tengah.

Harga Minyak Turun, Jadi Penopang Emas

Iran dan Oman melakukan pembicaraan mengenai pembentukan “temporary joint maritime corridor” yang memungkinkan sebagian pelayaran kembali melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, kantor berita Rusia melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengumumkan kesepakatan gencatan senjata baru dalam beberapa hari mendatang.

Penurunan harga minyak menjadi perhatian pasar emas karena biaya energi turut memengaruhi inflasi. Kenaikan harga minyak yang tajam dapat meningkatkan tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi.

Kondisi tersebut cenderung menekan harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.

Ketika suku bunga tinggi, aset yang menghasilkan imbal hasil dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas.

Sebaliknya, penurunan harga energi dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan berpotensi memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.

Investor Tunggu Data PCE dan Pidato Kevin Warsh

Fokus investor selanjutnya tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat serta pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).

PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter. Data PCE Juli 2026 yang dirilis Rabu menunjukkan inflasi PCE tahunan sebesar 3,7 persen, sedangkan inflasi inti PCE mencapai 3,3 persen.

Pidato tersebut menjadi perhatian karena merupakan pidato utama pertama Warsh sebagai Ketua The Fed di Jackson Hole. Investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS berikutnya.

Data inflasi dan pernyataan Warsh berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan harga emas berikutnya.

“Ini bisa memberikan katalis untuk pergerakan besar berikutnya” pada emas, kata David Morrison, Senior Market Analyst di Trade Nation,.dikutip dari Investing.

Dengan demikian, pasar emas kini menghadapi dua katalis utama: perkembangan inflasi AS melalui data PCE dan sinyal kebijakan moneter dari Warsh.

Keduanya dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap suku bunga, dolar AS, serta daya tarik emas sebagai aset yang tidak menghasilkan bunga.(*)

Editor : Heri Sugiarto
PCE AS Kevin Warsh harga emas terbaru harga minyak dunia harga emas hari ini