PADEK.JAWAPOS.COM — Penjualan dadiah di Pasar Bawah, Kota Bukittinggi, tidak selalu ramai setiap hari. Kondisi itu membuat pedagang harus menakar jumlah dadiah yang dibawa agar tidak terlalu banyak tersisa.
Salah seorang pedagang, Ibuk Inun, 63, telah berjualan dadiah di Pasar Bawah, Kelurahan Aur Tajungkang Tengah Sawah, selama lebih dari enam tahun. Hingga kini, panganan tradisional berbahan susu kerbau tersebut masih menjadi salah satu dagangan yang dipertahankannya.
Setiap hari, sekitar 15 hingga 20 buah dadiah diantar langsung oleh produsen dari wilayah Gaduik, Kabupaten Agam. Jumlah tersebut kemudian dijual kepada pembeli yang datang ke Pasar Bawah.
Namun, jumlah dadiah yang terjual dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Ketika pembeli ramai, sekitar 10 hingga 15 buah dapat terjual dalam sehari.
Sebaliknya, saat pasar sepi, dadiah yang terjual hanya sekitar dua hingga empat buah. Perbedaan tersebut membuat pedagang perlu memperhitungkan stok yang dibawa setiap hari.
Dadiah juga tidak dapat disimpan terlalu lama pada suhu ruang. Menurut keterangan yang disampaikan pedagang, dadiah dapat bertahan sekitar empat hari pada kondisi tersebut.
Karena itu, dadiah yang belum terjual menjadi pertimbangan ketika menentukan jumlah yang akan dibawa produsen pada hari berikutnya. Stok harus disesuaikan dengan kondisi penjualan agar tidak terlalu banyak tersisa.
Dadiah sendiri dibuat dari susu kerbau segar. Susu yang telah diperah dimasukkan ke dalam wadah berbahan buluh, kemudian ditutup dan dibiarkan mengalami fermentasi secara alami.
Tidak ada bahan lain yang ditambahkan dalam proses tersebut. Fermentasi membuat susu yang semula cair berubah menjadi panganan berwarna putih dengan tekstur lembut dan rasa asam khas.
Di Pasar Bawah, dadiah masih dicari sebagian masyarakat meskipun jumlah pembelinya tidak selalu sama setiap hari. Keberadaan konsumen tersebut membuat Ibuk Inun tetap mempertahankan dadiah sebagai salah satu dagangan yang dijualnya.
Harga dadiah saat ini Rp15 ribu per buah. Harga tersebut meningkat dibandingkan ketika Ibuk Inun pertama kali berjualan lebih dari enam tahun lalu, yakni Rp10 ribu per buah.
Harga jual tersebut mengikuti harga yang ditetapkan produsen. Perubahan harga dari produsen kemudian turut memengaruhi harga dadiah yang dijual kepada konsumen di pasar.
Dadiah dapat dinikmati dengan berbagai cara. Sebagian masyarakat menyantapnya bersama nasi dengan tambahan bawang merah, garam, dan cabai.
Selain itu, dadiah juga dapat dinikmati bersama ampiang dan gula merah. Perpaduan tersebut memberikan pilihan rasa berbeda dari dadiah yang memiliki cita rasa asam khas.
Bagi masyarakat yang masih mengenal dan mengonsumsinya, dadiah tetap menjadi salah satu panganan tradisional Minangkabau yang dicari. Aktivitas jual beli di Pasar Bawah menjadi salah satu ruang bagi panganan berbahan susu kerbau tersebut untuk tetap hadir di tengah masyarakat.
Dari produsen di Gaduik hingga pedagang di Pasar Bawah, perjalanan dadiah berlangsung setiap hari. Jumlah yang dibawa pun perlu disesuaikan dengan kondisi pasar karena tidak semua dadiah habis terjual dalam sehari.
Selama masih ada pembeli yang mencarinya, Ibuk Inun tetap menjadikan dadiah sebagai salah satu dagangan yang dipertahankan. Meski penjualan naik turun, panganan yang dibuat melalui fermentasi alami itu masih memiliki tempat di Pasar Bawah Bukittinggi.(mg10)
Editor : Hendra Efison