PADEK.JAWAPOS.COM — Baru tiga bulan menjalankan usaha bebek petelur, Ari Fandra, 25, warga Jorong Sikayan Talang, Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan, kini memperoleh pendapatan sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan.
Ari memulai usaha tersebut pada Juli 2026 dengan populasi sekitar 500 ekor bebek. Dari jumlah itu, produksi telur rata-rata mencapai sekitar 85 persen setiap hari atau sekitar 425 butir ketika produksi berada pada tingkat tersebut.
Usaha yang dijalankan dengan nama Usaha Dagang (UD) Batu Gajah itu dikelola Ari secara mandiri. Sesekali, ia mendapat bantuan dari teman di sekitar lokasi peternakan.
Selain beternak bebek petelur, UD Batu Gajah juga bergerak dalam jual-beli hasil bumi serta penyaluran telur bebek.
Ari mengatakan, keputusan beternak bebek petelur berawal dari keinginannya memiliki usaha sampingan yang tidak terlalu terikat waktu. Menurutnya, perawatan bebek relatif mudah karena pemberian pakan dan pengawasan utama cukup dilakukan pada pagi dan sore hari.
“Saya ingin punya kebebasan dalam menjalankan bisnis sebagai sampingan. Beternak bebek petelur tidak terlalu terikat waktu dan perawatannya juga tidak terlalu banyak,” kata Ari.
Dalam pemasaran, Ari terlebih dahulu memprioritaskan warga sekitar yang membeli telur untuk kebutuhan rumah tangga. Telur yang tersisa kemudian disalurkan kepada pengepul untuk dijual kembali ke pasar.
“Kalau untuk pengepul yang membeli di sini untuk dijual ke pasar, harganya Rp2.500 per butir,” ujarnya.
Modal awal menjadi salah satu kebutuhan terbesar ketika Ari memulai peternakan. Ia memilih menggunakan pakan komplit dari pabrik agar pengelolaan ternak lebih praktis, sehingga membutuhkan modal cukup besar pada tahap awal.
Untuk lokasi peternakan, Ari memanfaatkan lahan milik neneknya. Lokasi yang cukup jauh dari permukiman membuat aktivitas peternakan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Ia juga memanfaatkan serbuk kayu yang tersedia di sekitar lokasi sebagai alas kandang. Penggunaan bahan tersebut membantu menekan biaya operasional peternakan.
Meski pengelolaannya relatif mudah, usaha bebek petelur tetap memiliki kendala. Salah satunya muncul ketika memasuki musim hujan karena kondisi kandang lebih mudah becek dan berbau.
Selain itu, bebek juga lebih mudah mengalami stres saat kondisi lingkungan berubah.
“Kalau musim hujan ini agak kurang bersahabat. Bebeknya mudah stres, kandang juga mudah berbau dan agak becek,” katanya.
Ari menyebut bebek petelur memiliki masa produktif sekitar dua tahun. Setelah produktivitas telurnya menurun, bebek tersebut masih dapat dimanfaatkan sebagai bebek pedaging.
Selama sekitar tiga bulan berjalan, Ari menilai usaha tersebut berkembang cukup lancar. Karena itu, ia berencana meningkatkan populasi ternak secara bertahap.
Dari populasi awal sekitar 500 ekor, Ari menargetkan jumlah bebek petelurnya dapat mencapai 2.000 ekor ke depan.
“Rencananya mau menambah populasi sampai 2.000 ekor. Semoga semuanya berjalan lancar,” ujarnya.(mg9)
Editor : Hendra Efison