Kallera dan Cafora, Kopi Robusta dengan Sentuhan Katekin Siap Masuk Pasar Cina

Mhd. Nazir Fahmi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:47 WIB
Kopi robusta yang difermentasi menggunakan katekin dan disiapkan untuk menyasar pasar Cina. (Foto: Mhd Nazir Fahmi)
Kopi robusta yang difermentasi menggunakan katekin dan disiapkan untuk menyasar pasar Cina. (Foto: Mhd Nazir Fahmi)

PADEK.JAWAPOS.COM — PT Salimbado Jaya Indonesia menyiapkan Kallera dan Cafora, dua brand kopi berbahan robusta yang difermentasi menggunakan katekin, untuk memasuki pasar Cina. Inovasi tersebut dikembangkan untuk menghasilkan karakter rasa berbeda dengan mengurangi rasa pahit kopi robusta, tetapi tetap mempertahankan sensasi kelat.

Owner PT Salimbado Jaya Indonesia, Sepdi Tito, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari keinginan menciptakan produk kopi dengan karakter berbeda dari robusta pada umumnya.

Menurut Sepdi, kopi robusta konvensional memiliki karakter pahit yang cukup kuat. Melalui proses fermentasi, karakter pahit tersebut dapat dikurangi sehingga menghasilkan rasa yang lebih lembut, tetapi tetap memiliki sensasi kelat sebagai ciri tersendiri.

“Kalau main di kopi standar, seperti robusta, untuk pasar lokal agak susah berkompetisi dengan yang lain. Dari situ muncul ide bagaimana kopi ini difermentasi menggunakan katekin,” kata Sepdi.

Dari proses tersebut kemudian dikembangkan dua brand, yakni Kallera dan Cafora. Keduanya disiapkan untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda sekaligus membuka peluang pasar baru.

Sepdi mengatakan pengembangan produk tersebut tidak hanya ditujukan untuk pasar dalam negeri. Pasar luar negeri menjadi sasaran utama, terutama Cina yang dinilai memiliki jumlah konsumen besar dan mulai menunjukkan pertumbuhan minat terhadap kopi.

“Target kami memang luar negeri. Kopinya bisa berupa roasted bean maupun kopi yang sudah jadi, untuk retail atau perusahaan-perusahaan,” ujarnya.

Peluang pasar Cina semakin terbuka setelah produk kopi tersebut dibawa untuk diperkenalkan dalam sebuah ekspo di negara tersebut.

Sepdi menyebut respons calon konsumen terhadap cita rasa kopi hasil fermentasi katekin cukup positif. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah karakter rasanya yang dinilai berbeda dengan kopi yang selama ini banyak beredar di pasar Cina, termasuk kopi asal Vietnam.

“Responsnya bagus. Mereka bilang kopi ini berbeda dengan kopi Vietnam,” katanya.

Menurut Sepdi, Cina menjadi pasar yang menarik karena budaya minum teh yang kuat mulai berdampingan dengan meningkatnya konsumsi kopi. Karakter kopi hasil fermentasi katekin dinilai memiliki peluang karena menawarkan pengalaman rasa yang berbeda.

“Biasanya teh dan kopi itu punya karakter masing-masing. Kalau kopi difermentasi dengan katekin, rasa pahit kopinya berkurang, tetapi sensasi kelatnya masih muncul. Jadi ada karakter tehnya sedikit, tetapi karakter kopinya tetap ada,” jelasnya.

Meski demikian, Sepdi menyadari membangun pasar ekspor tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, strategi awal yang disiapkan adalah masuk secara bertahap melalui pasar retail dengan volume relatif kecil.

“Peluangnya ada, tetapi mungkin tidak cepat. Kita mulai pelan-pelan dulu, retail 12 kilogram, 50 kilogram. Nanti kalau pasarnya terbentuk, ada potensi untuk menjadi besar,” katanya.

Saat ini PT Salimbado Jaya Indonesia masih melakukan persiapan fasilitas produksi sebelum produk Kallera dan Cafora dipasarkan secara lebih luas.

Persiapan tersebut meliputi rumah proses serta mesin pengolahan kopi. Setelah fasilitas produksi siap, perusahaan akan mulai melakukan pengujian pasar, termasuk di dalam negeri.

Untuk mendukung produksi dalam skala lebih besar, mesin yang disiapkan ditargetkan memiliki kemampuan pengolahan sekitar 2–3 ton kopi per hari.

“Sekarang kita prepare dulu rumah prosesornya, kemudian mesin-mesinnya. Setelah itu baru kita coba masuk ke pasar lokal juga,” ujar Sepdi.

Pengembangan Kallera dan Cafora menjadi bagian dari upaya PT Salimbado Jaya Indonesia memperluas bisnis komoditas ke produk dengan nilai tambah. Perusahaan yang berbasis di Sumatera Barat tersebut selama ini juga bergerak dalam perdagangan dan ekspor berbagai komoditas pertanian.

Bagi Sepdi, tantangan berikutnya bukan sekadar menghasilkan kopi dalam jumlah besar, melainkan menemukan konsumen yang cocok dengan karakter produk.

Sebab, menurutnya, produk yang berbeda harus diikuti dengan kemampuan menemukan pasar yang tepat. Dari sinilah pengembangan Kallera dan Cafora diarahkan, yakni menciptakan kopi dengan karakter baru sekaligus membangun pasar secara bertahap, baik di dalam negeri maupun mancanegara. (mnf)

Editor : Heri Sugiarto
Kallera Cafora katekin pasar Cina kopi robusta