PADEK.JAWAPOS.COM — Budidaya lebah tanpa sengat atau madu galo-galo dikembangkan warga Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, sebagai alternatif ekonomi sekaligus upaya mengurangi aktivitas penebangan kayu di kawasan hutan.
Budidaya tersebut dikembangkan secara serius sejak 2022 oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Shahabat Alam Minangkabau. Kini, koloni yang dikembangkan anggota kelompok mencapai sekitar 200 koloni.
Pemilik sekaligus Ketua KTH Shahabat Alam Minangkabau, Ahmad Zaki, 27, mengatakan budidaya madu galo-galo awalnya didorong keinginan mengalihkan aktivitas masyarakat yang berpotensi merusak kawasan hutan.
“Alasan di balik adanya budidaya madu galo-galo ini untuk mengurangi aktivitas orang yang menebang kayu di hutan. Kita alihkan dengan berbudidaya madu,” ujar mahasiswa S2 Teknik Elektro Universitas Andalas tersebut kepada Padang Ekspres, Rabu (30/9/2026).
Budidaya itu telah diketahui Dinas Kehutanan Sumatera Barat. Bagi kelompok, pengembangan galo-galo tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.
Zaki sendiri memiliki lima koloni di sekitar rumahnya. Jika digabungkan dengan milik anggota kelompok, jumlahnya sekitar 200 koloni.
Dalam kondisi mendukung, satu koloni dapat dipanen minimal 40–60 hari. Sekali panen, satu koloni yang bagus menghasilkan sekitar 300–500 gram madu.
Jika seluruh koloni kelompok dipanen bersamaan, hasilnya dapat mencapai sekitar 50–100 kilogram. Produksi sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan ketersediaan tanaman berbunga sebagai sumber pakan.
“Kami tidak panen sejak Agustus sampai sekarang, karena kondisi cuaca dan udara yang belum memungkinkan. Kami tidak merasa rugi sebab menjaga koloni itu tetap ada lebih penting,” katanya.
Tidak Panen Demi Menjaga Koloni
Lebah galo-galo membutuhkan lingkungan yang sesuai agar koloni tetap berkembang. Zaki mengatakan lokasi sarang sebaiknya tidak terpapar asap maupun bahan kimia, seperti dari pembakaran ban dan sumber polusi lainnya.
Lebah mencari sumber makanan yang berada dalam radius maksimal sekitar satu kilometer dari sarang. Karena itu, keberadaan tanaman berbunga yang menghasilkan nektar menjadi bagian penting dalam budidaya.
Kebersihan sekitar sarang juga perlu dijaga. Sejumlah hewan seperti semut, cicak, dan kodok harus dihindari dari kawasan koloni.
Kotak koloni ditempatkan sekitar 1,2 meter dari permukaan tanah. Posisi tersebut dipilih agar tidak terlalu tinggi ketika proses panen, tetapi juga tidak terlalu rendah sehingga dapat membahayakan lebah.
Berbeda dengan lebah madu yang umum dikenal, galo-galo merupakan kelompok lebah tanpa sengat sehingga relatif lebih mudah dan aman dibudidayakan.
Madu yang dihasilkan memiliki rasa cenderung asam dan manis. Menurut Zaki, karakter tersebut berkaitan dengan kandungan propolis serta sumber sari bunga yang dikumpulkan lebah.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI 2023, terdapat 40 jenis lebah tanpa sengat di Indonesia. Sementara data inventarisasi keanekaragaman hayati dan laporan program Perhutanan Sosial Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat mencatat sekitar 24 jenis lebah tanpa sengat (galo-galo) teridentifikasi di Pulau Sumatera.
Dinas Kehutanan Sumatera Barat bersama peneliti lebah dari Universitas Andalas memfokuskan bantuan stup hibrida pada empat jenis utama, yakni Heterotrigona itama, Geniotrigona thoracica, Tetrigona melanoleuca, dan Tetrigona binghami.
Dipasarkan hingga Budiman Swalayan
KTH Shahabat Alam Minangkabau mulai memiliki galeri pada 2024 setelah mendapat bantuan melalui salah satu program BSI Maslahat untuk rehabilitasi tempat tersebut.
Kelompok juga berkolaborasi dengan Fakultas Peternakan Universitas Andalas dalam alat teknologi panen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Imam Bonjol Padang, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Madu dijual dengan ukuran dan harga berbeda. Ukuran 100 gram dijual Rp70 ribu, 200 gram Rp100 ribu, 300 gram Rp150 ribu, dan 500 gram Rp400 ribu.
Selain melalui galeri, pemasaran dilakukan secara daring dan melalui media sosial kelompok. Produk tersebut kini juga dipasok ke Budiman Swalayan.
Manfaat budidaya tidak hanya dirasakan dari penjualan madu. Pembuatan kotak atau sarang menjadi pekerjaan tambahan bagi warga yang memiliki keterampilan pertukangan. Sementara ibu-ibu anggota kelompok mulai berperan dalam memberikan penjelasan dan pengetahuan mengenai budidaya kepada pengunjung.
Zaki mengatakan budidaya galo-galo relatif tidak terlalu berat dilakukan sebagai usaha sampingan. Hal utama yang perlu dijaga ialah koloni dan ketersediaan pakan.
“Kita cukup menjaga pakan dengan menanam bunga atau tanaman-tanaman yang bisa menjadi pendukung galo-galo untuk hinggap dan mencari saripati,” katanya.
Namun, kelompok masih menghadapi kendala berupa keterbatasan peralatan panen. Belum seluruh anggota memiliki peralatan lengkap, termasuk baju dan pelindung wajah untuk mencegah getah galo-galo menempel pada pakaian saat panen.
Zaki berharap budidaya madu galo-galo semakin dikenal masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Ia menilai banyak orang sudah mengetahui galo-galo, tetapi belum memahami lebih jauh mengenai budidaya dan manfaatnya.(mg7)
Editor : Hendra Efison