PADEK.JAWAPOS.COM — Saat makanan kekinian silih berganti viral di media sosial, Silvi, 33, tetap bangun sejak pukul 03.30 WIB untuk membuat kue mangkuak, jajanan tradisional Minang yang proses pembuatannya membutuhkan waktu dan keterampilan khusus.
Sejak 2021, Silvi mengandalkan kue mangkuak sebagai sumber penghasilan. Setiap hari, ia menyiapkan bahan sejak dini hari sebelum mulai berjualan pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.
Bagi Silvi, membuat mangkuak bukan sekadar aktivitas berdagang. Ia mempertahankan makanan tersebut karena proses pembuatannya tidak mudah dan tidak semua orang mampu membuatnya.
“Karena kue mangkuak ini susah membuatnya dan tidak semua orang bisa bikin. Kalau kue yang viral mungkin ada masanya, tetapi kue tradisional seperti ini tidak habis masanya,” ujar Silvi, di Lubuk Buaya, Rabu (30/9/2026).
Kue mangkuak buatannya menggunakan tepung beras, kelapa, pandan dan gula aren. Salah satu tahapan yang cukup menyita waktu adalah menyiapkan santan.
Kelapa diperoleh dari langganannya di Pariaman. Dalam sekali pasokan setiap pekan, Silvi membeli sekitar 250 buah kelapa. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 buah digunakan setiap hari untuk diolah menjadi santan.
Untuk membuat proses produksi lebih praktis, Silvi kini menggunakan Klakat Stainless Steel sebagai tempat mengukus. Ia memiliki enam tempat kukusan dengan kapasitas masing-masing 25 mangkuak.
Rutinitas tersebut membuat Silvi mampu memproduksi sekitar 900 buah mangkuak setiap hari dengan omzet sekitar Rp1,8 juta.
Perjalanan penjualan mangkuak Silvi juga pernah mengalami lonjakan setelah produknya viral pada 2023. Selama sekitar satu tahun, kue buatannya mendapat perhatian dari sejumlah konten kreator Sumatera Barat, termasuk Awlapar.
Saat itu, penjualan bisa mencapai 1.200 mangkuak per hari. Pembeli bahkan menggunakan nomor antrean hingga 100. Setelah tren tersebut berakhir, penjualan kembali berjalan normal.
Pada 2025, Silvi sempat membuat akun TikTok sendiri untuk mempromosikan dagangan sekaligus melakukan siaran langsung atau live. Namun, aktivitas itu tidak berlangsung lama.
“Lama-kelamaan saya juga bosan sendiri. Jadi sekarang lebih fokus jualan saja, tidak lagi live di media sosial,” katanya.
Meski tidak lagi viral, Silvi tetap mempertahankan usaha tersebut. Bahkan ketika harga bahan baku meningkat, ia tidak langsung menaikkan harga jual.
Harga kelapa yang pernah mencapai Rp12 ribu per buah tidak membuat Silvi mengubah harga mangkuak. Ia tetap menjualnya Rp2.000 per buah agar pembeli tetap dapat menikmati makanan tradisional dengan harga terjangkau.
“Walaupun bahan dasar membuat naik, saya tetap jual dengan harga Rp2.000. Saya yakin rezeki tidak akan ke mana,” ujarnya.
Pelanggan utama Silvi berasal dari kalangan orang tua. Mangkuak biasanya dibeli untuk sarapan maupun makanan sehari-hari. Menurut Silvi, karakter pelanggan tersebut membuat mangkuak tetap memiliki pasar meski tidak lagi berada dalam tren viral.
Untuk kemasan, Silvi masih menggunakan kotak plastik dan sejauh ini tidak mendapat keluhan dari pembeli. Sementara pembeli yang membawa mangkuak ke luar daerah, seperti Jakarta, biasanya menyiapkan sendiri wadah yang lebih besar dari rumah.
Dalam penyajiannya, mangkuak juga menggunakan wadah tradisional atau sayak. Wadah tersebut biasanya diganti sekitar satu tahun sekali atau lebih cepat jika sudah retak.
Menariknya, sayak itu juga dibuat sendiri oleh Silvi dari batok kelapa.
Bagi Silvi, mempertahankan mangkuak juga berarti menjaga pengetahuan tentang kuliner tradisional Minang agar tetap dikenal generasi berikutnya.
Ia menyadari proses pembuatan yang panjang dan melelahkan dapat menjadi tantangan jika suatu saat usaha tersebut diwariskan kepada anaknya. Namun, Silvi tetap mengajarkan cara membuat mangkuak kepada sang anak agar mengenal makanan tradisional Minang.
“Kasihan juga kalau anak nanti harus melanjutkan karena pembuatannya susah. Persiapannya saja sudah bangun dari pukul 03.30. Tapi selagi saya masih bisa, saya akan tetap jualan dengan ciri khas ini,” tuturnya.
Meski demikian, Silvi tidak memaksakan anaknya untuk meneruskan usaha tersebut. Ia memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan pilihan ketika dewasa.
“Saya tetap ajarkan supaya dia tahu kue tradisional asli Minang. Suatu saat kalau saya sudah tidak ada, dia bisa ingat saya. Tapi untuk usahanya nanti, saya tidak mengekang anak harus melanjutkan,” katanya.
Silvi menilai pendidikan budaya di sekolah juga dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan makanan tradisional kepada anak-anak.
Ia mencontohkan SD 58 Lubuk Buaya, Kota Padang, tempat anaknya bersekolah, yang masih memberikan pembelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM).
Salah satu kegiatannya adalah membawa atau membeli kue tradisional setiap Selasa pada minggu kedua dan keempat setiap bulan. Kegiatan tersebut dikhususkan bagi siswa kelas III ke atas.
Melalui kegiatan itu, anak-anak datang membeli kue tradisional secara langsung. Menurut Silvi, kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang pengenalan bagi generasi muda yang belum banyak mengetahui makanan tradisional di daerahnya sendiri.
“Kalau bukan karena viral, kebanyakan anak-anak sekarang belum banyak tahu makanan tradisional. Setidaknya mereka harus tahu dan mencicipi, jangan sampai benar-benar hilang,” ujarnya.
Silvi juga bergabung dalam kegiatan UMKM di tingkat kelurahan. Namun, menurutnya, kegiatan tersebut masih relatif jarang dilakukan.
Ia berharap pemerintah memberikan dukungan yang lebih konkret kepada pelaku UMKM, terutama usaha makanan tradisional yang masih dikerjakan secara manual. Menurutnya, bantuan tidak harus selalu berupa modal. Peralatan yang dapat mempercepat dan mempermudah proses produksi juga akan membantu pelaku usaha.
“Harapannya ada bantuan dari pemerintah untuk pelaku UMKM. Jangan hanya mengharapkan dari caleg,” paparnya.
Di tengah perubahan selera masyarakat dan cepatnya pergantian tren kuliner, Silvi memilih tetap membuat mangkuak dengan resep, proses dan rasa yang telah dikenalnya sebagai makanan tradisional Minang.
Baginya, menjaga mangkuak tetap dikenal bukan hanya tentang mempertahankan sebuah produk dagangan, tetapi juga menjaga agar pengetahuan tentang makanan tradisional tidak terputus di satu generasi.
“Edukasi dari orang tua juga perlu tentang makanan tradisional. Jangan sampai makanan tradisional kita hilang,” ujar Silvi. (mg7)
Editor : Hendra Efison