PADEK.JAWAPOS.COM — Setiap pagi, Ida, 35, menyiapkan jagung, ubi, pisang hingga edamame untuk dijual. Setelah dagangan siap, ia membuka lapak pukul 07.00 WIB sambil membawa anaknya.
Hingga pukul 14.00 WIB, Ida bergantian melayani pembeli, menyiapkan makanan, dan mengurus anak di sela aktivitas berjualan. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari, dengan Sabtu sebagai hari libur.
Usaha makanan kukusan tersebut baru dirintis Ida sekitar dua minggu. Baginya, berjualan menjadi cara untuk tetap produktif tanpa meninggalkan aktivitas mengurus anak.
Di sela melayani pembeli dan menyiapkan dagangan, Ida tetap mengurus anak yang dibawanya berjualan.
Ia menjalani rutinitas tersebut setiap hari di Jalan Poros depan Kantor Bupati Solok Selatan, dan memilih Sabtu sebagai hari libur berjualan.
Keputusan menjual makanan kukusan berawal dari perhatiannya terhadap banyaknya makanan yang mengandung gula. Ida kemudian mencoba menghadirkan pilihan makanan yang diolah dengan cara dikukus.
“Banyak makanan yang mengandung gula, jadi cara menguranginya saya membuat makanan melalui kukusan ini,” ujar Ida.
Beragam makanan tersedia di lapaknya. Mulai dari jagung, ubi, pisang, edamame, kentang, labu, kacang tanah hingga telur.
Harga makanan tersebut dipatok mulai Rp2 ribu. Namun, jumlah yang terjual setiap hari tidak selalu sama.
Menurut Ida, kondisi cuaca turut memengaruhi banyak atau sedikitnya pembeli.
Dari sejumlah menu yang ditawarkan, jagung dan ubi menjadi makanan yang paling banyak diminati.
Ida menyebut respons masyarakat terhadap lapaknya cukup baik.
Menurutnya, pembeli mengapresiasi keberadaan makanan kukusan karena pilihan kuliner seperti itu masih jarang ditemui di Solok Selatan.
Respons tersebut membuat Ida semakin terdorong memperkenalkan makanan yang dibuatnya kepada masyarakat.
Meski baru merintis usaha, Ida berharap jualan kukusannya terus berkembang.
Ia ingin makanan yang dibuatnya semakin dikenal dan diterima lebih luas oleh masyarakat Solok Selatan.
“Harapannya bisa maju terus dan berkembang supaya makanan ini lebih dikenal banyak orang,” tuturnya.
Bagi Ida, berjualan kukusan bukan hanya menjadi aktivitas untuk mengisi waktu.
Lapak sederhana tersebut menjadi cara baginya tetap produktif sembari menjalankan peran mengurus anak.(mg9)