PADEK.JAWAPOS.COM—Erma Neli (57), atau yang akrab disapa Uni Lili, memulai usaha rendang dari persoalan sederhana: penjualan pakaian, jilbab dan kosmetik yang menurun di Pasar Padang Aro.
Sembilan tahun sejak usaha rendang dirintis pada 2016, produk olahan Erma kini berkembang hingga memiliki sekitar 35 varian dan dipasarkan melalui reseller di sejumlah negara.
Ide menjual rendang secara daring muncul dari anak Erma yang saat itu menempuh pendidikan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Erma rutin mengirimkan rendang buatannya kepada sang anak sekitar dua kali dalam sebulan. Rendang itu kemudian dibagikan kepada teman dan dosen.
Respons positif terhadap cita rasa rendang tersebut mendorong Erma mencoba memasarkannya secara daring.
“Awalnya kami membuat sekitar 3 sampai 5 kilogram. Ternyata laku, kemudian kami masukkan ke marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak. Setelah itu berkembang ke Shopee dan Instagram,” kata Erma.
Pemasaran melalui media sosial kemudian mendorong penjualan. Promosi melalui sejumlah figur publik juga turut memperkenalkan Rendang Uni Lili kepada konsumen yang lebih luas.
Meski pemasaran berkembang secara digital, Erma tetap mempertahankan pengolahan secara tradisional.
Ia menggunakan kayu bakar kulit manis untuk memasak rendang karena dinilai menjadi salah satu ciri khas aroma dan cita rasanya.
Bahan baku seperti kelapa, cabai, jahe dan lengkuas juga dipilih dalam kondisi segar dan diolah sendiri. Erma tidak menggunakan bahan yang telah diolah maupun bumbu siap pakai dari pasar.
Kini, Rendang Uni Lili memiliki sekitar 35 varian. Sekitar 20 merupakan varian rendang, sedangkan 15 lainnya berupa bumbu rendang, gulai, cincang, sate Padang, soto Padang dan asam padeh.
Produksi berlangsung setiap hari. Kebutuhan daging sapi untuk rendang mencapai sekitar 80 kilogram per hari, sedangkan produksi dendeng membutuhkan sekitar 20 kilogram daging.
Erma juga mengembangkan rendang dalam kemasan sachet untuk kebutuhan haji, umrah, travelling, oleh-oleh hingga souvenir.
Harga rendang daging dalam kemasan tersebut Rp23 ribu per sachet, rendang jengkol Rp15 ribu dan rendang paru Rp20 ribu.
Erma menyebut produk itu memiliki daya tahan lebih dari satu setengah tahun.
Perluasan pasar kemudian membawa Rendang Uni Lili ke luar negeri. Erma menyebut kini terdapat sekitar 20 reseller di sejumlah negara, di antaranya Jepang, Norwegia dan Australia.
Pengiriman luar negeri masih dilakukan dalam skala terbatas. Jumlah terbesar yang pernah dikirim mencapai sekitar 500 kilogram.
Salah satu permintaan datang dari Taiwan berupa 500 pcs rendang jengkol setelah produk diperkenalkan dalam sebuah pameran di Pangeran Hotel Beach, Padang.
“Pembeli dari Taiwan tertarik dengan rendang jengkol karena teksturnya lembut dan tidak berbau,” katanya.
Dalam pengembangan usaha, Rendang Uni Lili mendapat pembinaan dari Disperindagkop Solok Selatan serta instansi pemerintah tingkat provinsi dan pusat.
Pembinaan mencakup pengolahan bahan, higienitas, sanitasi, sertifikasi halal hingga pencegahan kontaminasi.
Namun, pengembangan sarana produksi selama ini dilakukan secara mandiri. Erma mengatakan belum pernah memperoleh bantuan berupa pembelian peralatan maupun pembangunan dapur.
Ketersediaan tenaga kerja dan bahan baku juga menjadi tantangan. Sebagian pekerja merupakan ibu-ibu di sekitar lokasi usaha yang membutuhkan pelatihan sebelum terlibat dalam produksi.
Sementara itu, ketersediaan daging sapi menjadi perhatian ketika permintaan meningkat.
Erma berharap usaha yang dirintis sejak 2016 tersebut dapat terus berkembang dan dilanjutkan generasi berikutnya.
“Saya berharap anak-anak atau keluarga bisa melanjutkan dan mengembangkan usaha ini, sehingga usaha yang sudah dibangun dari awal tidak berhenti sampai di sini,” tutupnya. (mg9)
Editor : Hendra Efison