PADEK.JAWAPOS.COM — Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumatera Barat meminta pengembangan hilirisasi gambir mempertimbangkan kondisi riil pelaku usaha agar peningkatan nilai tambah tidak mengganggu rantai produksi, perdagangan, dan ekspor yang telah berjalan.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Hilirisasi Gambir Sumatera Barat yang diselenggarakan Universitas Andalas, Sabtu (10/10/2026).
Ketua APINDO Sumbar, AE Rina Pangeran hadir bersama Sepdi Tito, pengurus APINDO Sumbar yang juga merupakan eksportir gambir.
Rina mengatakan, masukan dari pelaku usaha, khususnya eksportir, perlu disandingkan dengan hasil riset akademisi. Menurutnya, terdapat perbedaan antara data penelitian dan kondisi nyata yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.
Karena itu, jalur hilirisasi yang direncanakan perlu dikaji secara menyeluruh agar tidak mengganggu rantai usaha dan pola hilirisasi gambir yang selama ini berjalan.
Ia menilai pengembangan industri gambir perlu memperhitungkan peran seluruh pelaku dalam ekosistem usaha. Perubahan yang tidak mempertimbangkan kondisi lapangan berpotensi berdampak pada pihak-pihak yang terlibat dalam rantai produksi hingga ekspor.
Riset dan Pelaku Usaha Perlu Disinergikan
Rina mengatakan, pengembangan hilirisasi gambir membutuhkan keseimbangan antara hasil riset, kepentingan akademisi, kebutuhan industri, dan pengalaman pelaku usaha.
Dengan pendekatan terintegrasi, pengembangan hilirisasi di Sumatera Barat diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
APINDO Sumbar, lanjut Rina, mendukung penguatan ekosistem hilirisasi gambir, peningkatan nilai tambah produk, serta perluasan akses pasar.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, eksportir, dan pelaku usaha dinilai diperlukan agar gambir Sumatera Barat semakin berdaya saing di pasar nasional maupun internasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.(*)
Editor : Heri Sugiarto