Di Balik Harga Cabai, Ada Biaya Perawatan yang Tak Sedikit

Harizatul Ismi • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 13:45 WIB
Petani cabai di Ampalu, Nagari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, merawat tanaman cabai yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, Jumat (9/10/2026).
Petani cabai di Ampalu, Nagari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, merawat tanaman cabai yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, Jumat (9/10/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM — Petani cabai di Ampalu, Nagari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk merawat tanaman hingga masa panen.

Biaya plastik, pupuk, dan racun tanaman menjadi pengeluaran yang harus diperhitungkan agar tanaman tetap produktif dan hasil panen bisa menopang kebutuhan keluarga.

Anton, 44, salah seorang petani cabai di Ampalu, mengatakan usaha tani cabai membutuhkan perawatan berkelanjutan.

Selama sekitar 20 tahun menekuni pekerjaan tersebut, ia harus menyiapkan biaya untuk berbagai kebutuhan tanaman, mulai dari plastik hingga racun untuk mengatasi hama dan penyakit.

Menurut Anton, modal yang dibutuhkan untuk bertani cabai mencapai sekitar Rp5 juta.

Kenaikan harga sejumlah kebutuhan produksi, terutama plastik, turut menambah beban biaya yang harus ia siapkan.

“Sekarang plastik 10 kilogram harganya sekitar Rp500 ribu. Dulu, dengan uang yang sama, bisa mendapatkan 20 kilogram. Sekarang yang 20 kilogram sudah sekitar Rp1 juta,” ungkapnya.

Biaya Perawatan Capai Jutaan Rupiah

Selain plastik, Anton memperkirakan biaya pembelian racun tanaman sejak awal hingga akhir masa tanam mencapai sekitar Rp4,5 juta.

Pengeluaran tersebut menjadi bagian dari biaya perawatan yang harus diperhitungkan selama tanaman tumbuh hingga menghasilkan cabai.

Anton menanam dua jenis cabai, yakni cabai merah dan cabai setan. Ia menjual cabai merah sekitar Rp80 ribu per kilogram, sedangkan cabai setan berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram.

Tanaman cabai mulai bisa dipanen ketika berusia sekitar tiga bulan. Jika kondisi tanaman tetap baik, masa produktifnya dapat berlangsung hampir satu tahun.

Dari usaha tersebut, Anton menyebut hasil bersih yang diperolehnya bisa mencapai lebih dari Rp20 juta.

Namun, pendapatan petani dapat berbeda bergantung pada kondisi tanaman, jumlah panen, harga jual, dan biaya produksi.

Hasil Panen untuk Biaya Pendidikan Anak

Bagi Anton, bertani cabai bukan sekadar cara memperoleh penghasilan. Hasil kebunnya menjadi tumpuan untuk membiayai pendidikan anak hingga memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Pendapatan dari cabai ini untuk kuliah anak saya dan kebutuhan keluarga. Walaupun harga murah, saya belum pernah sampai terlalu rugi,” katanya.

Meski demikian, Anton berharap harga cabai tidak turun di bawah Rp40 ribu per kilogram.

Menurutnya, harga jual perlu tetap memadai agar sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan selama masa tanam.

Erson, 55, petani cabai lain di Ampalu yang sudah sekitar lima tahun menekuni usaha tersebut, juga menghadapi pengeluaran perawatan tanaman.

Ia mengatakan, pembelian pupuk dan racun menjadi kebutuhan yang harus disiapkan agar tanaman tetap tumbuh dengan baik.

Erson biasanya menggunakan racun tanaman dengan harga yang lebih terjangkau.

Namun, ketika daun cabai mengalami keriting, ia perlu membeli produk yang dinilainya lebih sesuai untuk menangani kondisi tanaman tersebut.

“Kemarin karena daunnya keriting, saya memakai racun yang lebih bagus. Harganya sekitar Rp200 ribu sebotol,” ujarnya.

Petani Berharap Harga Tetap Menguntungkan

Untuk kebutuhan plastik, Erson menghabiskan sekitar 16 kilogram dengan biaya kurang lebih Rp700 ribu.

Sementara itu, biaya racun tanaman dari awal hingga akhir masa tanam diperkirakan mencapai lebih dari Rp2 juta.

Besarnya pengeluaran tersebut membuat Erson berharap harga jual cabai tidak turun di bawah Rp45 ribu per kilogram.

Ia menyebut, ketika harga cabai berada di kisaran tersebut, pendapatannya pernah mencapai sekitar Rp30 juta.

Usaha tani cabai telah menjadi sumber penghidupan keluarganya sejak anaknya mulai kuliah hingga menyelesaikan pendidikan.

Karena itu, harga jual dan biaya perawatan menjadi dua hal penting yang memengaruhi hasil usaha petani.

Bagi Anton dan Erson, menjaga tanaman tetap produktif membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Harga cabai yang memadai diharapkan dapat membantu mereka menutup pengeluaran produksi sekaligus mempertahankan penghasilan untuk kebutuhan keluarga. (mg8)

Editor : Hendra Efison
biaya perawatan cabai petani cabai Limapuluh Kota usaha tani cabai harga cabai Nagari Halaban