Roda Gandiang Uni Siska Bertahan Sejak 2012, Penjualan Tembus Pekanbaru

Harizatul Ismi • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 19:30 WIB
Ibu-ibu menggoreng roda gandiang menggunakan tungku api di tempat produksi Roda Gandiang Uni Siska, Payakumbuh. Usaha ini menjual sekitar 10 bal roda gandiang per minggu. (Harizatul Ismi)
Ibu-ibu menggoreng roda gandiang menggunakan tungku api di tempat produksi Roda Gandiang Uni Siska, Payakumbuh. Usaha ini menjual sekitar 10 bal roda gandiang per minggu. (Harizatul Ismi)

PADEK.JAWAPOS.COM— Usaha Roda Gandiang Uni Siska di Payakumbuh masih bertahan sejak 2012 dengan penjualan sekitar 10 bal per minggu. Makanan khas berbahan ubi ini bahkan dipasarkan hingga ke luar daerah, termasuk Pekanbaru.

Pemilik usaha, Siska, 35, mengatakan usahanya terus berjalan meski menghadapi pasang surut penjualan. Saat ini, omzet yang diperolehnya mencapai sekitar Rp5 juta per bulan.

“Dalam satu minggu kami bisa menjual sekitar 10 bal. Untuk satu bal harganya Rp200 ribu,” kata Siska.

Produk roda gandiang dipasarkan ke sejumlah pasar. Selain pelanggan dari dalam daerah, sejumlah pembeli dari luar daerah juga datang menjemput produk tersebut.

Diolah dengan Tungku Api

Siska menjelaskan, roda gandiang dibuat dari ubi yang diparut, kemudian diberi bumbu sebelum digoreng menggunakan minyak panas. Hingga kini, proses penggorengan masih mengandalkan tungku api.

Menurut Siska, adonan sengaja dibuat tidak terlalu padat agar menghasilkan tekstur yang renyah.

Produk tersebut dapat bertahan sekitar dua bulan, meski kerenyahannya bisa berkurang setelah melewati masa itu.

Roda gandiang umumnya dinikmati sebagai kudapan. Namun, makanan khas Payakumbuh ini juga dapat menjadi pelengkap hidangan berkuah, seperti soto dan miso.

Siska menyebut roda gandiang juga bisa disantap bersama makanan yang digemari anak muda, seperti seblak dan ramen.

Harga Bahan Baku Jadi Tantangan

Di tengah permintaan yang masih ada, Siska mengaku kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan produksi menjadi tantangan bagi usahanya. Harga minyak goreng yang meningkat cukup terasa terhadap biaya produksi.

Selain minyak goreng, harga plastik untuk pengemasan juga mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut menambah tantangan dalam menjalankan usaha makanan ringan tersebut.

Meski menghadapi kenaikan biaya produksi, Siska tetap menjalankan usaha yang telah dirintis lebih dari satu dekade itu.

Roda gandiang Uni Siska masih diproduksi dengan cara yang selama ini diterapkan.

Keberlangsungan usaha tersebut turut menjaga produksi makanan khas Payakumbuh yang pemasarannya telah menjangkau pembeli dari luar daerah.(mg8)

Editor : Hendra Efison
makanan khas Payakumbuh roda gandiang Payakumbuh Roda Gandiang Uni Siska usaha kuliner Payakumbuh oleh-oleh Payakumbuh