Lelah 20 Tahun Mengumpulkan Brondolan Sawit, Yuliarni Kini Jualan Es Jagung

Shintia Febriani • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:54 WIB
Yuliarni (44) menunjukkan es jagung dagangannya di kawasan Pertanian, Padang Tujuh, Pasaman Barat, Selasa (13/10/2026). (Shintia Febriani)
Yuliarni (44) menunjukkan es jagung dagangannya di kawasan Pertanian, Padang Tujuh, Pasaman Barat, Selasa (13/10/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM— Setelah lebih dari 20 tahun mengumpulkan brondolan sawit, Yuliarni, 44, beralih berjualan minuman untuk mencari penghasilan. Kini, ia menjajakan es jagung, es ubi ungu, dan es teh di kawasan Pertanian, Padang Tujuh, Kabupaten Pasaman Barat.

Keputusan itu diambil setelah ia merasa lelah menjalani pekerjaan lamanya. Saat mengumpulkan brondolan sawit, Yuliarni harus berjalan kaki sejauh enam kilometer saat berangkat dan enam kilometer saat pulang.

“Karena sudah lelah mencari brondolan, akhirnya mencoba membuka usaha kecil-kecilan dengan berjualan es jagung,” katanya, Selasa (13/10/2026).

Berawal dari Jualan Es Jagung

Usaha minuman tersebut telah berjalan selama tiga tahun. Pada awalnya, Yuliarni hanya menjual es jagung sebelum menambah menu lain setelah setahun berjualan.

“Awalnya hanya jualan es jagung saja. Setelah setahun, baru menambah jualan es ubi ungu dan es teh,” ungkapnya.

Kini, pembeli dapat memilih tiga jenis minuman yang dijual Yuliarni. Untuk es jagung, ia juga menyediakan beberapa pilihan topping, seperti Oreo, keju, dan cokelat.

Segelas es jagung dijual seharga Rp7.000. Sementara itu, bahan baku jagung dibelinya di pasar dengan harga berkisar Rp10.000 per kilogram, tetapi bisa naik menjadi Rp14.000 ketika harga sedang meningkat.

Penjualan Bergantung Cuaca

Dalam sehari, Yuliarni membeli sekitar lima kilogram jagung untuk kebutuhan berjualan. Namun, jumlah yang disiapkan tidak selalu habis terjual.

Menurutnya, cuaca ikut memengaruhi jumlah pembeli. Saat cuaca panas, penjualan es jagung bisa mencapai 46 gelas dalam sehari.

Akhir pekan juga menjadi waktu ketika pembeli cenderung lebih ramai. Meski begitu, jumlah penjualan tetap berubah-ubah mengikuti cuaca dan keramaian.

Setelah bertahun-tahun mengandalkan tenaga untuk mengumpulkan brondolan sawit, Yuliarni kini memilih meneruskan usaha minuman yang telah dirintisnya.

“Sekarang memilih berjualan saja. Mau bagaimana pun, sudah lelah kalau harus kembali mencari brondolan seperti dulu,” katanya.(*)

Editor : Hendra Efison
Padang Tujuh Yuliarni Pasaman Barat jualan es jagung brondolan sawit usaha minuman