Beralih dari Padi ke Cabai Hijau, Petani Solsel Raup Panen 236,5 Kilogram

Lara Putri Yulina • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 13:45 WIB
Jurniati memanen cabai hijau di Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Solok Selatan. Hasil panen ketiganya mencapai 236,5 kilogram.
Jurniati memanen cabai hijau di Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Solok Selatan. Hasil panen ketiganya mencapai 236,5 kilogram.

PADEK.JAWAPOS.COM — Keterbatasan air untuk mengairi sawah membuat Jurniati, 38, petani di Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan, beralih menanam cabai hijau. Pada panen ketiga, Jumat (16/10/2026), ia memperoleh 236,5 kilogram cabai dari lahan sekitar 150 meter persegi.

Jurniati mulai membudidayakan cabai hijau pada awal 2026. Sebelumnya, lahan berukuran sekitar 10 x 15 meter tersebut digunakan untuk menanam padi.

“Kalau padi membutuhkan air yang banyak, sementara air di sini kurang. Kalau cabai hijau, perawatannya lebih murah dan hasilnya lebih menguntungkan daripada padi,” ujarnya.

Hasil Panen Cabai Hijau Terus Meningkat

Jurniati mengatakan, hasil panen padi yang diperolehnya paling banyak sekitar 15 kaleng. Hasil tersebut masih harus dikurangi biaya pengolahan lahan, pembajakan, hingga perontokan padi.

Ia juga mempertimbangkan perbedaan kebutuhan perawatan antara cabai hijau dan cabai merah. Menurutnya, cabai merah membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga panen pertama serta perawatan yang lebih intensif.

Sementara itu, cabai hijau mulai bisa dipanen sekitar dua bulan setelah penanaman. Pada panen pertama, Jurniati memperoleh 42 kilogram, kemudian meningkat menjadi 75 kilogram pada panen kedua.

Hasil panen ketiga mencapai 236,5 kilogram, melampaui hasil panen sebelumnya. Jumlah tersebut juga lebih tinggi daripada hasil panen yang biasanya mencapai sekitar 150 kilogram.

“Biasanya hasil panen paling banyak sekitar 150 kilogram. Kali ini bisa mencapai 236,5 kilogram,” katanya.

Harga Cabai Hijau Mencapai Rp47 Ribu per Kilogram

Cabai hijau hasil panen Jurniati dijual kepada pengepul di Jorong Sampu, Nagari Lubuk Gadang Utara, Kecamatan Sangir. Harga jual bergantung pada kualitas cabai, yakni Rp47.000 per kilogram untuk kualitas super dan Rp40.000 per kilogram untuk kualitas menengah.

Jika seluruh hasil panen 236,5 kilogram terjual dengan harga Rp40.000 per kilogram, nilai penjualan kotor mencapai Rp9,46 juta. Angka tersebut merupakan simulasi, bukan nilai transaksi aktual maupun keuntungan bersih yang diterima Jurniati.

Dalam kerja sama ini, Jurniati mengelola tanaman mulai dari penanaman, pemupukan, perawatan, hingga panen. Sementara itu, pemilik lahan menyediakan modal awal sekitar Rp1,5 juta untuk membeli plastik mulsa, pupuk, pestisida, dan kebutuhan produksi lainnya.

Pemilik lahan juga menanggung biaya produksi, termasuk upah pekerja saat panen. Jurniati dibantu lima pekerja yang mulai memetik cabai pukul 07.00 WIB hingga selesai, dengan upah Rp15.000 per jam.

Lahan tersebut bukan milik Jurniati. Sesuai kesepakatan, hasil usaha dibagi dua antara dirinya dan pemilik lahan setelah biaya yang dikeluarkan diperhitungkan.

Pasokan Air Masih Menjadi Kendala

Meski hasil panen meningkat, Jurniati masih menghadapi kendala pasokan air, terutama saat musim kemarau. Tanaman cabai hijau membutuhkan air yang cukup agar pertumbuhannya tetap optimal.

Ia juga melakukan pemupukan setiap 15 hari untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Jurniati kini menyiapkan lahan baru untuk kembali menanam cabai hijau.

Ia berharap hasil panen berikutnya terus meningkat sehingga usaha pertanian yang digelutinya memberikan hasil lebih baik.

“Harapan saya, semoga hasil panen ke depannya semakin meningkat,” tutupnya. (mg9)

Editor : Hendra Efison
Cabai hijau Solok Selatan Panen cabai hijau Budidaya cabai hijau petani Solok Selatan