PADEK.JAWAPOS.COM-Hujan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Bukittinggi memicu terjadinya pergeseran tanah di kawasan Ngarai Sianok, tepatnya di Kelurahan Bukik Cangang Kayu Ramang Kecamatan Guguak Panjang Kota Bukittinggi.
Peristiwa ini berdampak langsung pada 11 kepala keluarga (KK) dengan total 68 jiwa yang bermukim di Bukit Cangang RT 01 RW 05, Kelurahan Bukit Cangang Kayu Ramang, Kecamatan Guguk Panjang.
Kalaksa BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri menyebutkan peristiwa pergeseran tanah ini terjadi sekitar pukul 09.30 WIB.
“BPBD bersama sejumlah pihak terkait seperti TNI, Polri, Damkar, Dinas Sosial, Kecamatan, Kelurahan dan Tagana serta PMI telah melakukan evakuasi terhadap masyarakat terdampak. Seluruh masyarakat terdampak kita evakuasi ke mess KPPM Bukittinggi,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, permukiman warga tersebut memang berada di zona merah dan terletak sekitar dua hingga 10 meter dari bibir ngarai. Untuk saat ini kita fokus untuk melakukan evakuasi terhadap warga terdampak.
Untuk jangka panjang, akan dilakukan evaluasi izin bagi masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut.
”Untuk jangka panjang, tentu tidak diizinkan tinggal di lokasi tersebut, Posisinya di zona merah dan tentunya mengancam jiwa harta dan lain lain untuk masyarakat tersebut,” tambahnya.
Ia juga memberikan imbauan kepada masyarakat Kota Bukittinggi untuk terus mewaspadai potensi bencana yang disebabkan kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir.
Terutama terkait potensi bencana di sekitar ngarai dan potensi pohon tumbang.
Bencana Meluas di 9 Kecamatan
Hujan yang tak kunjung reda selama beberapa hari terakhir membuat bencana meluas di sejumlah kecamatan di Kabupaten Agam.
Berdasarkan data terbaru dari pemerintah nagari, kecamatan, serta BPBD, tercatat 28 titik jalan terdampak dan 11 rumah warga mengalami kerusakan atau terendam banjir.
Bencana menyebar di sembilan wilayah kecamatan, Banuhampu, Tanjungraya, Palupuh, Palembayan, Lubukbasung, Ampekkoto, Ampeknagari, Tanjungmutiara dan Malalak.
Kerusakan paling luas terjadi di Kecamatan Palembayan yang mencatat banyak titik longsor. Badan jalan amblas di Jorong Pasarpalembayan, pohon tumbang di Jorong Kototinggi, hingga longsor besar yang menutup akses di Jorong Labeh, Lubuakgadang, dan Silungkang.
Di Silungkang, material longsoran bahkan merusak dua rumah warga. Longsor juga menutup total jalur Padang–Kotogadang menuju Matur.
Sejak Senin siang, tim BPBD bersama kecamatan dan nagari telah turun melakukan pendataan serta berkoordinasi dengan PU Sumbar. Pembersihan material masih berlangsung menggunakan alat berat.
Senin siang, longsor setinggi 2,5 meter menutup jalan sepanjang 6 meter di Jorong Subarang Air, Nagari Salarehaia Timur. Material tanah dan pohon membuat akses terputus. BPBD berkoordinasi dengan PUTR Agam untuk penanganan alat berat.
Sementara di Tiku, Kecamatan Tanjungmutiara, angin kencang merusak satu rumah milik Ronika Putra, 44, setelah atapnya tersapu angin. Banjir juga menutup dua akses vital di Jorong Muaroputuih–Ujunglabung Timur, dan Labuhan–Subang-subang.
Di sisi lain, hujan lebat Senin dini hari memicu jalan amblas dan longsor di tiga titik Nagari Pagadih, Kecamatan Palupuah. Di Jorong Batehgadang, jalan provinsi amblas 80 sentimeter sepanjang 10 meter, longsor menutup akses 3 meter.
Di Jorong Tigokampuang, halaman kantor nagari amblas 15 meter, material longsor menutup 80 meter ruas jalan provinsi, masih bisa dilewati terbatas dan di Jorong Pagadihhilia, batu dan material longsor menutup jalan 2 meter, hanya bisa dilewati roda dua.
Petugas kecamatan dan nagari telah melakukan pendataan di seluruh titik. Material longsor juga menutup ruas jalan provinsi Padang–Bukittinggi (via Malalak) di Nagari Balingka, Kecamatan Malalak, dengan tinggi timbunan 50–100 sentimeter sepanjang 15–20 meter.
Tak lama berselang, pohon tumbang dan longsor menutup akses di Jorong Limobadak, Nagari Malalak Timur.
“Saat ini, personel BPBD masih standby di Balingka, membantu pembersihan material longsor. Akses ke Malalak Timur masih belum bisa karena tertutup longsor di Balingka,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam Abdul Ghafur, Senin (24/11) sore.
Longsor Tutup Akses Jalan
Tanah longsor dan banjir bandang menjadi penyebab utama kerusakan infrastruktur.
Di Kecamatan Tanjungraya, material longsor menutup ruas lingkar Nagari Sicawan–Paninjauan pada dua titik, sementara tiga kolam renang, ladang warga, dan bangunan semipermanen turut tertimbun.
Kecamatan Palupuh mencatat beberapa kejadian signifikan, termasuk pohon tumbang yang menutup jalan provinsi Palupuh–Bukittinggi, amblasnya badan jalan Pasia–Lurahdalam sepanjang 25 meter, dan longsor di Jalan Airkijang.
Kondisi serupa juga terjadi di Jorong Batehgadang, Tigokampuang, hingga Pagadihhilia. Di Palembayan, longsor besar merusak badan jalan provinsi di Jorong Pasar Palembayan, menutup akses di Jorong Labeh, serta memutus beberapa jalur vital lainnya.
Sementara di Jorong Lubuakgadang dan Silungkang, material longsor kembali menghambat akses kabupaten.
Sebelumnya, Lubukbasung juga mengalami dua titik gangguan, yaitu pohon tumbang di Jorong Sago dan longsor di Jorong Batuhampar. Sedangkan di Kecamatan Ampekkoto, jalan amblas terjadi di Jorong Situju, serta longsor di ruas Padang–Bukittinggi via Malalak.
Di Ampeknagari, luapan Batang Sitanang menggenangi beberapa ruas jalan dengan ketinggian 30 cm hingga 1 meter, bahkan merendam SDN 17 Gantiang hingga proses belajar terganggu.
“Secara keseluruhan, sedikitnya 28 titik jalan di Agam terdampak banjir, longsor dan amblas. Kemudian ada 11 rumah yang rusak dan terendam, tiga di Banuhampu, empat di Tanjungraya, sisanya di Palembayan,” ujar Abdul Ghafur.
BPBD Agam menyebut, seluruh tim TRC bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, nagari, KSB, hingga unsur masyarakat telah melakukan pembersihan material, evakuasi, pengaturan lalu lintas, serta pendataan kerusakan.
“Kami terus melakukan asesmen lapangan dan berkoordinasi dengan pihak PUPR provinsi maupun balai wilayah untuk percepatan penanganan,” tambahnya.
Hingga Senin malam, sejumlah titik masih belum dapat dilalui kendaraan, terutama pada ruas Padang-Bukittinggi via Malalak, Matur–Kotogadang, Pasaman-Bukittinggi di Air Kijang dan beberapa ruas jalan provinsi lainnya di Palembayan.
Pembersihan material menggunakan alat berat terus dilakukan, sementara beberapa badan jalan yang amblas masih menunggu penanganan teknis dari dinas terkait.
BPBD Agam mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi susulan mengingat curah hujan masih tinggi di sejumlah wilayah.
Dampak Banjir di Padangpariaman Meluas
Hujan deras tanpa henti memicu banjir meluas di Padangpariaman. Pasalnya, debit air yang meningkat drastis membuat sejumlah sungai besar, seperti Batang Anai, Batang Ulakan, Batang Tapakih, dan Batang Kamumuan meluap dan menggenangi pemukiman warga.
Bupati Padangpariaman, John Kenedy Azis, menjelaskan Pemkab Padangpariaman telah mengaktifkan layanan tanggap darurat berbasis kolaborasi pentahelix.
Seluruh unsur terkait, mulai dari Sekkab, BPBD, Dinas PUPR, Dinas Kesehatan, TNI, Polri, hingga perangkat teknis lainnya, dikerahkan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Ia mengungkapkan bencana kali ini menimbulkan dampak luas dan sulit ditangani hanya dengan kekuatan APBD. Ia secara tegas meminta dukungan pemerintah pusat, terutama terkait normalisasi sungai—khususnya Sungai Batang Ulakan.
“Kami memohon perhatian pemerintah pusat, terutama BWS, untuk mempercepat normalisasi Batang Ulakan. Saat ini tiga kecamatan terendam dengan ketinggian air sekitar 80 sentimeter,” ujar JKA saat meninjau sejumlah titik banjir dan longsor, kemarin.
Ia juga mengungkapkan kerusakan di sektor pertanian dan ekonomi masyarakat. Lahan sawah dan tanaman jagung yang baru ditanam rusak, ternak warga dilaporkan hanyut, serta tambak ikan dan udang mengalami kerusakan berat.
“Dengan kondisi fiskal yang terbatas, mustahil bagi kami untuk memperbaiki seluruh infrastruktur yang rusak tanpa bantuan provinsi dan pusat,” tambah JKA didampingi Kalaksa BPBD Padangpariaman, Emri Nurman.
Katanya, wilayah yang mengalami kondisi terparah meliputi Perumahan Kasai Permai, Korong Surantiah, Ulakan, Kampuangdalam, Batanggasan, dan sekitarnya.
Pemkab juga telah menggelar rapat koordinasi dan menyiapkan dokumen pengajuan status tanggap darurat kepada BNPB. JKA juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi arahan petugas demi menghindari risiko tambahan.
“Semua petugas harus bergerak cepat, fokus pada keselamatan masyarakat dan upaya penanganan darurat,” tegasnya.
Dalam penanggulangan korban, lanjutnya, Pemkab Padangpariaman telah membuka delapan titik dapur darurat dan menyalurkan berbagai kebutuhan logistik, termasuk beras, minyak, serta bahan pokok lainnya.
“Sebanyak 2.000 paket makanan siap saji yang segera dibagikan ke seluruh lokasi bencana,” tukasnya.
Nagari Kampuanggalapuang salah satu yang terdampak banjir yang parah di Kecamatan Ulakantapakih. Wali Nagari Kampuanggalapuang, Ali Waldana, menjelaskan bahwa durasi hujan yang panjang membuat debit air meningkat drastis.
“Dalam beberapa hari terakhir hampir setiap hari turun hujan. Namun semalam intensitasnya lebih tinggi dan berlangsung lebih lama,” ungkapnya.
Akibatnya, air mulai memasuki rumah-rumah warga di dua korong yang berada di nagari tersebut. Ketinggian banjir bervariasi, dan kondisi paling parah terjadi di Korong Baruah yang terendam hingga dua meter.
Tingginya genangan air membuat warga harus dievakuasi bersama BPBD menggunakan perahu karet dan perlengkapan penyelamatan lainnya. “Dua korong terdampak ini dihuni 180 KK dengan total sekitar 500 jiwa,” jelas Ali Waldana.
Hingga kemarin, hujan masih mengguyur Kampuanggalapuang dan ketinggian air berpotensi terus bertambah.
Para korban banjir telah dipindahkan ke surau dekat Pasar Kampuanggalapuang sebagai lokasi pengungsian sementara. Sebagian lainnya memilih mengungsi secara mandiri ke rumah keluarga yang berada di wilayah aman.
Di sisi lain, banjir membuat banyak warga kehilangan pakaian layak pakai serta stok kebutuhan harian karena terendam air.
“Yang paling mendesak sekarang itu pakaian, bahan makanan, perlengkapan tidur, dan obat-obatan. Sudah banyak yang mulai sakit,” ujar Ali Waldana. (ptr/rna/apg)
Editor : Novitri Selvia