Beragam alasan mendasari keputusan tersebut, meskipun ancaman keselamatan terus membayangi setiap saat.
Dengan segala risiko yang ada, sekitar 28 kepala keluarga (KK) hingga kini masih menetap di kawasan tersebut. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (5/12), kondisi sejumlah rumah warga tampak memprihatinkan.
Beberapa bangunan terlihat telah miring, sementara sebagian rumah lainnya berdiri tepat di batas tebing ngarai. Jenis bangunan pun beragam, mulai dari rumah permanen, semi permanen, hingga rumah kayu, dengan kondisi lantai yang tampak tidak lagi datar.
Situasi di wilayah tersebut semakin mengkhawatirkan setelah pada penghujung November lalu, kawasan ini sempat diterjang longsor akibat curah hujan yang tinggi.
Akibat kejadian itu, sekitar 28 KK yang bermukim di sekitar lokasi sempat diungsikan karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan di beberapa titik.
Salah seorang warga, Asni (56), mengungkapkan bahwa dirinya telah tinggal di lokasi tersebut sejak tahun 1985. Awalnya ia hanya mengontrak rumah, sebelum akhirnya dapat membeli dan menetap hingga sekarang. Asni tinggal bersama dua orang anak, satu menantu, serta satu orang cucu.
“Saya di sini sudah sejak tahun 1985. Awalnya mengontrak, lalu dibeli, jadi sudah milik saya. Sekarang di rumah ini saya tinggal bersama dua orang anak saya, satu menantu, dan satu cucu,” sebut Asni.
Meski tinggal di kawasan yang berisiko tinggi, Asni mengaku tetap memilih bertahan karena keterbatasan ekonomi. Setelah cukup lama kehilangan suaminya, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain untuk pindah ke tempat yang lebih aman.
“Bagaimana mau pindah? Kalau pun pindah, menyewa saja rasanya sangat berat, apalagi kalau harus membeli rumah. Itu tidak terpikirkan,” imbuhnya.
Asni juga menyebutkan bahwa pemerintah telah memberikan rekomendasi agar warga pindah dari lokasi tersebut. Namun, rekomendasi itu menurutnya belum disertai dengan solusi nyata atau bantuan relokasi.
“Mau bagaimana lagi, jadi saya dan anak-anak saya tetap bertahan di sini. Walaupun selalu merasa cemas, apalagi saat hujan turun. Terlebih-lebih kalau hujannya malam, tidak bisa tidur nyenyak,” tuturnya.
Dengan dibalut rasa was-was yang terus menghantui, Asni tetap menjalani aktivitas sehari-hari di rumah tersebut, meskipun beberapa waktu lalu sempat terjadi longsor di sekitar lokasi tempat ia tinggal.
Hal senada juga disampaikan oleh Sepri (54), warga lainnya yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak lahir. Ia mengaku bahwa selama 54 tahun bermukim di sana, baru kali ini merasakan kejadian longsor yang cukup besar dan mengkhawatirkan.
“Saya sudah tinggal di sini sejak lahir, sudah 54 tahunan. Selama itu baru kali ini kejadian longsor seperti itu. Sebelumnya pernah, tapi tidak sebesar ini,” ujarnya.
Menurut Sepri, tinggal di bibir ngarai ditambah dengan kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir membuat rasa cemas semakin meningkat, bahkan saat hendak meninggalkan rumah untuk bekerja.
“Saat ini tentu tidak nyaman, bahkan untuk meninggalkan keluarga saat pergi bekerja. Apalagi kalau sudah mendung, saya sangat khawatir. Saya melihat warga lainnya juga merasakan hal yang sama,” imbuhnya.
Sepri, seperti halnya Asni, juga menyebut faktor ekonomi menjadi alasan utama dirinya tetap bertahan di kawasan rawan tersebut. Keterbatasan biaya membuat mereka tak memiliki pilihan selain hidup berdampingan dengan risiko longsor yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Hingga kini, puluhan warga di kawasan Bukik Cangang Kayu Ramang masih hidup dalam kecemasan dan ketidakpastian, menunggu adanya langkah konkret dari pemerintah terkait solusi relokasi yang aman dan terjangkau. (rna)
Editor : Adetio Purtama