Status tersebut ditetapkan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik yang dilakukan secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Berdasarkan keterangan tertulis PVMBG, pada periode pengamatan Selasa (20/1/2026) tercatat sejumlah aktivitas vulkanik dan kegempaan. Salah satunya adalah satu kali hembusan dengan amplitudo 1,2 mm dan durasi 46 detik.
Selain itu, PVMBG juga mencatat satu kali gempa tremor non-harmonik dengan amplitudo 2 mm dan durasi 79 detik. Aktivitas kegempaan lainnya meliputi dua kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo berkisar 0,8–1,1 mm dan durasi 13–17 detik, serta satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 1,3 mm dan durasi 13 detik.
Aktivitas tektonik juga terpantau, terdiri dari lima kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 0,8–2,6 mm dan durasi 10–31 detik, serta empat kali gempa tektonik jauh dengan durasi 48–138 detik.
PVMBG menegaskan bahwa hingga saat ini tingkat aktivitas Gunung Marapi masih berada pada Level II (Waspada). Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak memasuki atau melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah.
Selain itu, PVMBG juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Warga di sekitar gunung diminta untuk menggunakan masker apabila terjadi hujan abu, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta tidak menyebarkan hoaks terkait aktivitas Gunung Marapi.
Untuk memperoleh informasi yang akurat dan terbaru, masyarakat diimbau agar selalu memantau perkembangan aktivitas Gunung Marapi melalui kanal resmi PVMBG dan instansi terkait. (rna)
Editor : Adetio Purtama