Kegiatan yang berlangsung di RM Simpang Raya, Sabtu (28/02/2026), tersebut dihadiri pengurus IPSI Bukittinggi serta sejumlah tokoh silat dan adat.
Hadir dalam acara itu Tuan Guru PS Gantang Alam, MM St Marungguah, Affendri St Mangkuto, Anhar Kari Muncak, Afferi Mangkuto Sati, dan Eliyus Bachtiar St Saidi.
Turut hadir Rajo Alam Luhak Nan Tigo, Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari, yang juga menjabat sebagai Ketua Silat Tuah Sakti Riau.
Kegiatan buka puasa bersama ini digelar sebagai ajang silaturahmi antara pengurus IPSI, perguruan silat, tokoh adat, dan unsur pemerintahan dalam suasana kekeluargaan sambil menikmati hidangan khas Minangkabau.
Rajo Alam Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar menikmati hidangan, tetapi menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan menjaga nilai adat serta budaya yang diwariskan leluhur.
Ia juga mengutip QS Al-Hujurat Ayat 13 yang menekankan pentingnya saling mengenal dan menjaga ketakwaan sebagai landasan persaudaraan.
Dalam pernyataannya, ia menyebut pencak silat sebagai warisan sejarah bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan karena nilai pendidikan di dalamnya membentuk karakter tangguh, kuat, dan berbudi luhur sebagai identitas bangsa.
Rajo Alam juga menyampaikan salam takzim kepada Tuangku Yerri Amiruddin Dt Rangkayo Batuah selaku Ketua IPSI Bukittinggi serta mengapresiasi kebersamaan yang terjalin antara IPSI, perguruan silat, dan tokoh adat.
Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan terus terjaga guna membangun generasi muda yang berkarakter, berbudaya, beradab, serta menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kebersamaan hingga waktu berbuka, dengan harapan silaturahmi yang terbangun dapat berlanjut dalam misi melestarikan dan mengembangkan warisan budaya, khususnya bela diri silat.
Melalui momentum Ramadan, pengurus IPSI Bukittinggi dan para tokoh yang hadir menegaskan komitmen untuk terus mendukung kegiatan pelestarian silat tradisi sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.(*)
Editor : Hendra Efison