ISPA di Bukittinggi Tembus 2.410 Kasus pada September 2026

Dian Nurul Haq • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:15 WIB
Kabut asap masih menyelimuti Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (20/10/2026). (Foto: Dian Nurul Haq)
Kabut asap masih menyelimuti Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (20/10/2026). (Foto: Dian Nurul Haq)

PADEK.JAWAPOS.COM— Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Bukittinggi meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dengan jumlah tertinggi mencapai 2.410 kasus pada September 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, Ramli Andrian, Senin (19/10/2026), meminta masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah dan memperbanyak konsumsi air putih.

“Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih,” ujar Ramli.

Ia mengingatkan masyarakat agar memberi perhatian lebih kepada balita dan lanjut usia (lansia), yang termasuk kelompok rentan terhadap gangguan kesehatan. Warga juga diminta memantau kondisi kesehatan anggota keluarga dan segera mendatangi fasilitas kesehatan jika gejala gangguan pernapasan memburuk.

Kasus ISPA Naik dari Juli hingga September

Data Dinkes Kota Bukittinggi menunjukkan rata-rata kasus ISPA meningkat dari 46 kasus per hari pada Juli 2026 menjadi 74 kasus per hari pada Agustus. Angka tersebut kembali naik menjadi 92 kasus per hari pada September.

Secara kumulatif, Dinkes mencatat 1.247 kasus ISPA pada Juli, meningkat menjadi 1.788 kasus pada Agustus, lalu mencapai 2.410 kasus pada September 2026.

Memasuki Oktober, rata-rata kasus ISPA tercatat 98 kasus per hari. Jumlah kasus harian tertinggi mencapai 124 kasus, sedangkan terendah sebanyak 72 kasus.

“Angka tersebut masih berada di atas kondisi normal. Dalam keadaan normal, jumlah kasus ISPA di Bukittinggi biasanya tidak melebihi 70 kasus per hari,” jelas Ramli.

Hingga 15 Oktober 2026, Dinkes mencatat 1.285 kasus ISPA. Angka ini merupakan catatan sementara untuk Oktober, bukan jumlah kasus sepanjang bulan tersebut.

Balita dan Lansia Perlu Mendapat Perhatian

Ramli menyebutkan, kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia. Meski demikian, balita dan lansia memerlukan perhatian lebih, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Jika mengalami gejala gangguan pernapasan yang memburuk, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pemko Bukittinggi Terapkan PJJ dan Bagikan Masker

Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap, Pemerintah Kota Bukittinggi menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi pelajar. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan.

Pembagian masker turut dilakukan untuk membantu melindungi masyarakat selama kabut asap masih memengaruhi kualitas udara di Bukittinggi.

Pemerintah mengharapkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan hingga kondisi udara membaik.(*)

Editor : Hendra Efison
ISPA Bukittinggi September 2026 kabut asap Bukittinggi kasus ISPA Sumatera Barat dampak karhutla PJJ Bukittinggi