Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Film Dokumenter Palestina-Israel No Other Land Menang Oscar 2025: Kisah Perjuangan dan Kolaborasi

Hendra Efison • Senin, 3 Maret 2025 | 23:00 WIB

Poster Film Dokumenter koproduksi Palestina-Israel, No Other Land. (Foto Jaff-filmfest)
Poster Film Dokumenter koproduksi Palestina-Israel, No Other Land. (Foto Jaff-filmfest)
PADEK.JAWAPOS.COM—Malam puncak Academy Awards ke-97 yang digelar di Dolby Theatre, Hollywood, pada Minggu (2/3) waktu setempat atau Senin (3/3) pagi WIB menjadi saksi sejarah bagi perfilman dunia.

Film dokumenter koproduksi Palestina-Israel, No Other Land, meraih penghargaan bergengsi sebagai Best Documentary Feature Film dalam ajang Oscar 2025.

No Other Land mengisahkan perjuangan Basel Adra, seorang aktivis Palestina, dalam menentang penggusuran paksa yang dilakukan militer Israel di Masafer Yatta, Tepi Barat.

Film ini adalah hasil kolaborasi antara Adra dengan jurnalis Israel Yuval Abraham serta dua sineas lainnya, Hamdan Ballal dan Rachel Szor, yang berasal dari Palestina dan Israel.

Saat menerima penghargaan, keempat sineas ini menyampaikan pesan yang menggugah. "Karena bersama-sama, suara kita lebih kuat. Kita melihat satu sama lain bahwa kehancuran yang mengerikan di Gaza dan penduduknya harus diakhiri," ujar Abraham dalam pidato kemenangan mereka.

Mengangkat Kisah Perjuangan di Masafer Yatta

Film ini menampilkan rekaman langsung dari Adra yang mendokumentasikan penghancuran rumah, sekolah, dan sumur di Masafer Yatta oleh tentara Israel.

Salah satu adegan paling mencolok dalam film ini memperlihatkan seorang tentara Israel menembak pria setempat yang menolak penggusuran rumahnya.

"Saya mulai merekam bukan karena ingin membuat film, tetapi karena saya ingin dunia tahu apa yang terjadi di desa saya. Ketika rumah-rumah dihancurkan, saya merasa harus melakukan sesuatu," ungkap Adra dalam wawancara dengan The Guardian.

Proses Produksi yang Penuh Tantangan

Pembuatan No Other Land berlangsung selama empat tahun, dari 2019 hingga 2023. Tim produksi menghadapi berbagai kendala, termasuk pembatasan pergerakan bagi anggota tim Palestina serta penyitaan peralatan oleh militer Israel.

Sebagai jurnalis Israel, Abraham memiliki akses ke wilayah yang tidak bisa dijangkau Adra. Sebaliknya, Adra dapat merekam kejadian yang tidak bisa didokumentasikan oleh Abraham. "Itulah kekuatan kolaborasi ini," ujar Abraham kepada The Independent.

Namun, kerja sama mereka juga penuh dengan tantangan emosional dan politis. "Ada momen di mana Basel marah kepada saya karena saya bisa kembali ke rumah yang aman di Israel, sementara dia tetap berada di bawah ancaman. Kolaborasi ini penuh tantangan, tetapi juga penuh kejujuran," lanjut Abraham.

Abraham menekankan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat turut berperan dalam mempertahankan status quo di wilayah tersebut. Ia mengkritik kebijakan Israel yang menghancurkan kehidupan Adra dan menyerukan solusi politik yang tidak didasarkan pada supremasi etnis. "Rakyat saya hanya bisa benar-benar aman jika rakyat Basel juga bebas dan aman," imbuhnya.

Prestasi dan Tantangan Distribusi

Piala Oscar yang diraih No Other Land menjadi penghargaan prestisius terbaru bagi film ini. Sebelumnya, film ini juga memenangkan penghargaan penonton dan penghargaan film dokumenter di Festival Film Internasional Berlin pada Februari 2024 serta penghargaan Best Nonfiction Film dari New York Film Critics Circle pada Desember 2024.

Meski mendapat pujian internasional, film ini mengalami kendala distribusi di Amerika Serikat. Untuk memenuhi syarat Oscar, No Other Land sempat ditayangkan selama satu pekan di Lincoln Center, New York, pada November tahun lalu. Namun, minat yang tinggi membuat film ini akhirnya dirilis secara independen di hampir 100 bioskop di AS, dengan tiket yang terjual habis.

"Saya berharap ini akan berubah. Kami tidak menunggu perilisan bioskop konvensional karena permintaan di Amerika Serikat saat ini sangat tinggi," kata Abraham.

Kemenangan di Academy Awards semakin memperkuat suara komunitas yang selama ini terpinggirkan. "Kami menyerukan kepada dunia agar mengambil tindakan serius untuk menghentikan ketidakadilan dan menghentikan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina," tandas Adra dalam pernyataan terakhirnya.

Latar Belakang Konflik di Tepi Barat

Lebih dari 500 ribu pemukim Israel tinggal di wilayah Tepi Barat, yang merupakan rumah bagi sekitar tiga juta warga Palestina. Sementara itu, warga Palestina hidup di bawah kekuasaan militer, menghadapi penggusuran paksa dan pembatasan akses yang ketat.

Dengan kemenangan No Other Land di Oscar 2025, suara perjuangan rakyat Palestina semakin menggema di panggung dunia. Film ini bukan sekadar dokumentasi peristiwa, tetapi juga seruan untuk keadilan dan kemanusiaan.(jpg)

Editor : Hendra Efison
#No Other Land #Film Dokumenter Palestina Israel #Kisah Perjuangan dan Kolaborasi #Oscar 2025