Film ini diadaptasi dari buku American Prometheus karya Kai Bird dan Martin J. Sherwin, yang mengisahkan kehidupan J. Robert Oppenheimer, fisikawan jenius di balik lahirnya bom atom.
Namun, di balik kejeniusannya, Nolan menelusuri sisi kelam dari sains, ambisi, dan rasa bersalah manusia.
Menurut The Guardian, Nolan menulis dan menyutradarai film ini dengan pendekatan psikologis—bukan sekadar drama sejarah, melainkan eksplorasi mendalam tentang konflik moral antara kemajuan dan kehancuran.
Ceritanya berpusat pada masa krusial Manhattan Project, saat Amerika Serikat mengembangkan senjata nuklir di tengah Perang Dunia II. Cillian Murphy tampil luar biasa sebagai Oppenheimer.
Berdasarkan ulasan New York Times, Murphy memerankan sosok ilmuwan ini dengan intensitas yang sunyi namun menghantui—seorang pria yang hidup di antara kebanggaan ilmiah dan dosa moral.
Sinematografi Hoyte van Hoytema memperkuat atmosfer film melalui penggunaan format IMAX 65mm.
Adegan uji coba bom Trinity Test di Los Alamos dibuat tanpa efek CGI, melainkan menggunakan ledakan praktikal yang memberikan sensasi realistis dan mencekam.
Menurut Variety, film ini juga mengulas sisi politik kehidupan Oppenheimer. Setelah perang, ia menentang pengembangan senjata nuklir lanjutan dan menjadi suara moral yang kemudian dibungkam oleh negaranya sendiri.
Di titik ini, Oppenheimer bukan hanya kisah tentang ilmuwan, tetapi juga refleksi tentang tanggung jawab moral dan kekuasaan.
Musik garapan Ludwig Göransson menambah kedalaman emosional film. Ritme disonansi dan tensi cepat mencerminkan pergulatan batin sang ilmuwan, sebagaimana dipuji oleh BBC Culture sebagai salah satu skor terbaik dalam film modern.
Secara tematik, Oppenheimer berbicara tentang paradoks kemajuan manusia—bahwa di balik setiap penemuan besar, ada harga kemanusiaan yang harus dibayar.
Kalimat legendaris dari Bhagavad Gita yang diucapkan Oppenheimer, “Now I am become Death, the destroyer of worlds,” menjadi simbol penyesalan terdalam seorang ilmuwan atas ciptaannya.
Menurut Time Magazine, Nolan berhasil mengubah kutipan tersebut menjadi pengalaman emosional yang nyata—perasaan bersalah yang menghantui umat manusia hingga kini.
Selain pencapaian artistik, film ini juga sukses secara komersial. Berdasarkan data Box Office Mojo, Oppenheimer meraup lebih dari US$950 juta di seluruh dunia, menjadikannya film biografi terlaris sepanjang masa.
Namun, yang paling berharga dari film ini bukanlah angka, melainkan refleksi moral yang ditinggalkannya: apakah pengetahuan adalah anugerah, atau justru kutukan?
Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Nolan menyebut film ini sebagai “kisah tentang manusia yang menciptakan alat untuk menghancurkan dirinya sendiri, dan harus hidup dengan beban itu selamanya.” (CC5)
Editor : Hendra Efison