Program ini dirancang untuk mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi motor penggerak budaya literasi, baik di lingkungan pemerintahan maupun di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pessel, Adril Yesmen, Kamis (19/2), menyampaikan bahwa gerakan tersebut mengajak setiap ASN membaca minimal satu buku dalam periode tertentu, kemudian membagikan pengetahuan atau ringkasan yang diperoleh kepada lingkungan kerja maupun masyarakat.
Menurut Adril, peluncuran program akan dilakukan dalam waktu dekat sebagai bagian dari strategi penguatan Nagari Pandai yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia berbasis literasi.
Ia menegaskan bahwa ASN tidak hanya berperan sebagai pelaksana kebijakan, tetapi juga teladan dalam membangun budaya belajar yang berkelanjutan di tengah birokrasi dan masyarakat.
Dengan kebiasaan membaca yang terstruktur dan terukur, aparatur diharapkan memiliki wawasan lebih luas serta mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin berkualitas dan profesional.
Sasaran program ini mencakup seluruh ASN di lingkungan Pemkab Pessel, mulai dari tingkat kabupaten hingga nagari, dan akan terintegrasi dengan aktivitas literasi di perpustakaan daerah maupun perpustakaan nagari.
Pelaksanaan Gerakan 1 ASN 1 Buku dilakukan melalui mekanisme terukur, di mana setiap ASN diwajibkan melaporkan buku yang dibaca serta menyusun ringkasan atau ulasan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga akan menyediakan daftar buku rekomendasi yang relevan dengan bidang tugas masing-masing perangkat daerah agar bacaan yang dipilih mendukung peningkatan kompetensi aparatur.
Selain berbasis bacaan cetak, program ini turut dikaitkan dengan penguatan literasi digital, sehingga ASN didorong memanfaatkan koleksi e-book dan layanan perpustakaan digital guna memperluas akses terhadap sumber pengetahuan.
Adril menjelaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan upaya membangun perubahan budaya kerja agar ASN lebih inovatif, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Hasil ringkasan buku ASN ke depan dapat dipublikasikan melalui media internal pemerintah atau forum diskusi rutin, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada individu, tetapi menyebar secara kolektif.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan akan melakukan monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan program berjalan konsisten dan tidak bersifat seremonial.
Dalam implementasinya, gerakan ini akan bersinergi dengan Dinas Pendidikan serta perangkat nagari untuk memperluas dampak literasi hingga ke tingkat masyarakat.
Program tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan reformasi birokrasi yang menekankan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menjadi momentum baru memperkuat Progul Nagari Pandai 2025–2030.
Pemerintah daerah optimistis Gerakan 1 ASN 1 Buku dapat membangun tradisi belajar sepanjang hayat di kalangan aparatur, sehingga literasi tumbuh sebagai gerakan bersama yang dimulai dari ASN sebagai teladan.(*)
Editor : Hendra Efison