Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani: Pertanian dan Perkebunan Prioritas, Tekan Ketergantungan Pusat

Rommy Delfiano • Senin, 10 Maret 2025 | 10:26 WIB

PAPARKAN: Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani dalam bincang-bincang dengan pimpinan media di Padang, Sabtu (8/3).(ROMMI DELFIANO/PADEK)
PAPARKAN: Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani dalam bincang-bincang dengan pimpinan media di Padang, Sabtu (8/3).(ROMMI DELFIANO/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-DISANGSIKAN sejumlah kalangan memimpin Dharmasraya awal-awal memutuskan maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 2024 lalu, bukan hanya minim pengalaman namun juga kodratnya sebagai perempuan.

Ternyata, menjadi pelecut baginya guna memberikan yang terbaik dalam pembangunan Dharmasraya.  Bagaimana program-program pembangunan yang digulirkannya dalam lima tahun mendatang.

Caca—panggilan Annisa Suci Ramadhani menuturkannya kepada wartawan Padang Ekspres ROMMI DELFIANO di sela-sela berbuka puasa bersama pimpinan media di Padang, Sabtu (8/3).

Selamat atas lembaran sejarah kempemimpinan perempuan pertama di Sumbar yang ada Anda buku, semua ini jelas tak mudah?

Jelas, semua ini bukanlah pekerjaan mudah. Namun, bersama wakil saya, Ibu Leli Arni, kita ingin memberikan yang terbaik kepada Dharmasraya. Yang pasti, banyak tantangan yang harus kami hadapi. Kebijakan efisiensi anggaran dilakukan pemerintah pusat, ikut berdampak kepada daerah ini.

Terutama, proyek-proyek infrastruktur yang sudah direncanakan. Ini tidak terlepas kepada indeks keseluruhan fiskal Sumbar lemah. Kita sangat tergantung dana transfer dari pusat. Implikasinya, proyek infrastruktur transfer pusat memberikan dampak langsung.

Seperti dampaknya?
Ya, anggaran infrastruktur yang sudah direncanakan di Pekerjaan Umum tahun 2025 ini, dipotong sampai 57 persen. Pemotongan ini menghabiskan seluruh anggaran proyek yang sudah direncanakan. Namun, sekarang kita sedang berjuang memperoleh dana transfer bagi hasil kelapa sawit dari pemerintah pusat.

Cuma saja, informasi yang diperoleh, terdapat kelebihan dalam pembayaran sebelumnya. Bila benar seperti itu adanya, tidak ada pembangunan infrastruktur tahun ini di Dharmasraya. Hal lain membuat kita harus berpikir keras, anggaran kita juga defisit Rp 70 miliar.

Di sisi lain, terdapat pembiayaan-pembiayaan yang harus dibayarkan segera, salah satunya BPJS. Harusnya dianggarkan 6-7 bulan, namun sampai sekarang belum dianggarkan.

Bagaimana Anda melihat persoalan ini?

Jujur ini tantangan. Mujurnya, pemerintah sesuai arahan disampaikan sejumlah menteri dalam retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil), Magelang, beberapa waktu, menjelaskan bahwa efisinesi anggaran dilakukan sekarang ini, sejatinya bukan pengurangan.

Namun, hanya realokasi. Nah, ke mana efisiensi anggaran ini dialokasinya nantinya, jelas ke sektor kesehatan, pendidikan dan ada pula infrastruktur. Jumlahnya, sekitar Ro 50 triliun lah.

Anggaran ini dikembalikan lagi ke daerah. Tentunya, sepanjang sesuai dengan program-program pemerintah. Apakah itu, swasembada pangan, ketahanan energi, makan bergizi gratis dan lainnya.

Lantas, apa yang Anda lakukan?

Yang jelas, sekarang ini kita harus melakukan recofusing anggaran dulu. Tentunya, berpedoman kepada Inpres No 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Anggaran. Kita sudah menyampaikan kepada seluruh jajaran, jika ingin dinas luar, harus izin bupati dulu.

Sampai kapan, ya sampai kebijakan recofusing anggaran berakhir. Artinya, di sini kita melakukan penghematan. Khusus infrastruktur, sebulan ini kita akan ukur ulang/memetakan mana saja seharusnya kewenangan Pemkab Dharmasraya.

Anda selaku pemimpin tentu harus memberi contoh?

Jelas. Hal pertama, kita sudah sepakat tidak akan mengalokasikan anggaran pembelian mobil dinas. Kita pun sudah memeriksa, mobil dinas sekarang masih layak digunakan menjadi kendaraan operasional ke daerah. Termasuk, memangkas perjalanan dinas.

Selaku pemimpin, sudah menjadi keharusan memberikan contoh.
Keterbatasan anggaran seperti ini, jelas harus ada sektor unggulan digarap. Sebetulnya, kita sudah mengkaji sektor apa saja yang perlu diprioritaskan dalam kondisi sekarang.

Berdasarkan kajian itu, prioritas kita menitikberatkan kepada pembangunan sektor pertanian, perkebunan, serta pertambangan. Pertanian dan perkebunan fokus utama kita. Kita melihat, kedua sektor ini sangat krusial dikembangkan.

Terlebih, alam kita mendukung pengembangan kedua sektor ini. Buktinya, kita selalu surplus beras. Cuma tantangannya, kita memiliki 86 sungai. Bila tidak tertangani dengan baik, berpotensi menghadirkan bencana. Seperti sekarang ini, akibat bencana bari-baru ini 200 ha lahan pertanian kita rusak.

Kita juga mengembangkan konsep desa tematik, one village one product. Tentinya, pembangunan instratrukturnya tetap kita upayakan.

Sektor ini (pertanian, red) tidak tergarap sebelumnya?

Sudah. Cuma saja, kendala selama ini ya pasarnya tidak jelas. Mujurnya, sekarang pasarnya sudah ada. Menyusul, digulirkannya program makan bergizi gratis. Kita menargetkan, kebutuhan sayur dan lainnya, di-supplay pelaku usaha lokal.

Bila ini berjalan, perputaran uang bisa mencapai miliaran dan jelas sangat membantu petani. Kita juga membantu pembibitan dan lainnya. Kita sudah membentuk Satgas Ketahanan Pangan juga.

Untuk 100 hari kerja, apa prioritas Anda?

Yang jelas, kita menyiasati dan mengatur ulang perencanaan. Mau tak mau, ya kita menekankan pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Baik lewat, pasokan pangan lokal dalam MBG melalui desa tematik.

Lalu, membentuk BUMD tambang, BUMD pabrik kepala sawit. Khusus BUMD tambang, kita sudah belajar ke daerah timur dalam pengolahan nikel. Modalnya hanya Rp 3 miliar dalam membuat pabrik.

Artinya, skema-skemanya sudah ada, tinggal sekarang pilihan kita dalam mengesekusinya. Soal modal, bisa meminjam ke luar negeri dengan catatan neraca keuangan kita harus sehat dulu. Di samping itu, membebaskan keterisolasian daerah akibat bencana akhir-akhir ini.

Anda yakin mencapainya?

Jelas, terlebih kita juga sudah belajar banyak dengan mentor-mentor di daerah ini. Baik, Bapak Marlon, Bapak Adi Gunawan dan Bapak Sutan Riska. Terpenting lagi, dukungan masyarakat Dharmasraya di rantai maupun ranah. (ROMMI DELFIANO)

Editor : Novitri Selvia
#bumd #Annisa Suci Ramadhani #program kerja #defisit anggaran #swasembada pangan #pad #Bincang #bupati dharmasraya #pertanian