Dari 11 kecamatan yang ada, 10 di antaranya masuk dalam kategori rawan banjir. Satu kecamatan lainnya, Sembilan Koto, bahkan menghadapi ancaman ganda: banjir dan longsor.
Informasi ini disampaikan oleh Ardianus Effendi, Analis Kebencanaan Subkor Kedaruratan dan Logistik di BPBD Dharmasraya. Ia menegaskan bahwa kondisi geografis dan aliran sungai menjadi faktor utama penyebab tingginya potensi bencana di daerah tersebut.
“Sebagian besar sungai di Dharmasraya bermuara ke Sungai Batang Hari. Sungai ini tidak hanya melintasi wilayah kami, tetapi juga mengalir dari Kabupaten Solok Selatan dan Muaro Bungo di Provinsi Jambi. Jika banjir terjadi di daerah hulu, otomatis wilayah hilir seperti Dharmasraya akan terdampak,” ujar Ardianus.
Adapun 10 kecamatan yang rawan banjir adalah:
- Koto Besar
- Asam Jujuhan
- Koto Baru
- Pulau Punjung
- Sitiung
- Sembilan Koto
- Koto Salak
- Timpeh
- Tiumang
- Padang Laweh
Satu-satunya kecamatan yang relatif aman dari banjir adalah Sungai Rumbai.
Banjir di Dharmasraya memiliki karakteristik yang unik; cepat datang dan cepat pula surut. Namun, dampaknya bisa langsung terasa jika wilayah hulu dilanda hujan deras dan banjir kiriman.
Ardianus mencontohkan, jika Kabupaten Solok Selatan kebanjiran, maka Dharmasraya hampir pasti ikut terdampak.
Sementara itu, Kecamatan Sembilan Koto menghadapi risiko tambahan berupa tanah longsor. Kondisi geografisnya yang berbukit serta tidak adanya jalur alternatif menuju kecamatan ini, membuat penanganan bencana harus dilakukan secara khusus.
“Kalau longsor atau banjir terjadi di Sembilan Koto, warga bisa terisolasi. Jalannya satu-satunya, tidak ada akses lain. Itu sebabnya perlu perhatian serius,” tegas Ardianus.
Beberapa sungai yang kerap meluap dan memicu banjir di Dharmasraya antara lain Sungai Batang Siat, Sungai Timpeh, Sungai Batang Hari, Sungai Batang Momong, dan Sungai Batang Piruko.
BPBD Dharmasraya pun terus menghimbau masyarakat agar selalu waspada, terutama saat musim hujan dengan curah tinggi. Kenaikan debit air secara mendadak bisa menyebabkan sungai meluap dan menggenangi permukiman.
“Kesadaran warga jadi kunci. Begitu hujan deras turun, langsung pantau kondisi air. Jangan sampai lengah,” pungkas Ardianus. (ita)
Editor : Hendra Efison