Pantauan di lokasi menunjukkan transaksi belum ramai. Kondisi pasar yang kumuh serta genangan air di sejumlah titik membuat pengunjung harus memilih jalur yang relatif lebih kering untuk berbelanja.
Salah seorang pedagang, Erni (42), mengatakan hujan pada pagi hari hampir selalu berdampak pada sepinya aktivitas pasar.
Baca Juga: Harga Cabai dan Bawang di Pasar Baru Pulau Punjung Mulai Naik Jelang Ramadhan
Menurutnya, kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap pendapatan pedagang.
“Kalau pagi sudah hujan, biasanya pasar pasti sepi. Apalagi kalau hujan sampai siang, transaksi jelas menurun karena pasar ini hanya sampai siang,” ujar Erni.
Ia menjelaskan, Pasar Baru Pulau Punjung digelar dua kali dalam sepekan, yakni setiap Jumat dan Minggu.
Aktivitas pasar pada hari Minggu umumnya lebih ramai dibandingkan Jumat, jika cuaca mendukung.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan hingga Petir di Kawasan Gunung Marapi Minggu Malam
“Kalau tidak hujan, Minggu biasanya jauh lebih ramai. Tapi kalau hujan pagi, pengunjung berkurang,” katanya.
Erni menambahkan, pedagang yang berjualan di Pasar Baru Pulau Punjung tidak hanya berasal dari Kabupaten Dharmasraya.
Sebagian pedagang datang dari daerah lain seperti Alahan Panjang dan Batusangkar.
“Tidak ada perbedaan pedagang dari mana pun. Kami sama-sama mencari nafkah,” ujarnya.
Baca Juga: Pewarta Foto ANTARA Iggoy el Fitra Luncurkan Buku “Orang-orang Bermata Biru di Minangkabau”
Sementara itu, salah seorang pengunjung, Yeni (32), warga Kecamatan Gunung Medan, mengeluhkan kondisi pasar yang becek saat hujan turun.
“Kalau hujan kondisinya becek dan tidak nyaman, tapi tetap harus belanja,” kata Yeni.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan kondisi pasar tradisional agar lebih tertata dan nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.
“Kalau bisa ada pembenahan atau pemeliharaan pasar supaya transaksi lebih nyaman,” ujarnya.(ita)
Editor : Hendra Efison