Kondisi tersebut dirasakan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada periode yang sama di tahun-tahun lalu, pedagang biasanya sudah merasakan lonjakan penjualan yang cukup tinggi.
Salah seorang pedagang pakaian di pasar tersebut, Budi (36), mengatakan bahwa hingga saat ini peningkatan penjualan belum signifikan. Padahal masyarakat sudah memasuki lebih dari dua pekan bulan Ramadan.
“Ini sudah masuk puasa sekitar dua minggu lebih, tapi peningkatan penjualan tidak begitu signifikan. Memang ada peningkatan, tapi baru sekitar 10 persen. Biasanya sudah meningkat tajam,” ujarnya saat ditemui di lapaknya di Pasar Baru Pulau Punjung.
Menurut Budi, salah satu penyebab lesunya penjualan baju lebaran diduga karena kondisi ekonomi masyarakat yang sedang kurang stabil. Hal tersebut membuat daya beli masyarakat menurun dan berdampak pada berbagai sektor perdagangan.
“Bisa dikatakan ekonomi sedang lesu sehingga berdampak pada semua sektor. Mudah-mudahan mendekati lebaran penjualan bisa meningkat signifikan,” harapnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar pakaian yang dijualnya dipasok dari sejumlah daerah di Pulau Jawa. Meski begitu, harga yang ditawarkan kepada pembeli relatif terjangkau.
“Kita hanya menjual sekitar Rp25 ribu untuk satu helai kaos oblong. Harganya cukup murah,” katanya.
Para pedagang berharap mendekati Hari Raya Idulfitri jumlah pembeli akan meningkat, sehingga penjualan pakaian lebaran dapat kembali bergairah seperti tahun-tahun sebelumnya. (ita)
Editor : Adetio Purtama