PADEK.JAWAPOS.COM— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) 2026 menyelesaikan program pemetaan terpadu Nagari Lubuk Karak, Kecamatan Sembilan Koto, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, pada 6 Agustus 2026.
Program tersebut menghasilkan dua bentuk peta, yakni peta fisik berukuran besar yang dipasang di kantor wali nagari dan web pemetaan digital yang dapat digunakan untuk melihat informasi wilayah.
Sebelumnya, informasi mengenai batas jorong dan lokasi fasilitas umum di Nagari Lubuk Karak masih mengandalkan sketsa sederhana yang tidak berskala dan belum terintegrasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nagari Lubuk Karak memiliki luas 51,01 kilometer persegi dengan sekitar 1.207 jiwa yang tersebar di enam jorong, yakni Koto Lamo, Lubuk Karak, Siraho, Sumanik, Sungai Kapur, dan Singolan.
Pemetaan Dilakukan Secara Digital dan Partisipatif
Tim KKN UNP 2026 menggunakan ArcGIS 10.8 untuk digitasi dan pengelolaan basis data spasial, Google Earth Pro untuk verifikasi objek melalui citra satelit, serta Google Earth Engine untuk membaca riwayat tutupan lahan.
Proses pemetaan dilakukan dengan memisahkan sejumlah unsur wilayah, seperti jalan, sungai, permukiman, kebun kopi, dan kawasan hutan. Setiap unsur tersebut dapat ditampilkan atau disembunyikan sesuai kebutuhan.
Data tidak hanya diperoleh melalui perangkat lunak. Mahasiswa juga melakukan pengamatan langsung, pengukuran koordinat, serta wawancara dengan pemerintah nagari dan masyarakat.
Pendekatan partisipatif digunakan untuk memverifikasi batas wilayah dan memastikan lokasi fasilitas umum yang dimasukkan ke dalam peta sesuai dengan kondisi lapangan.
Sekretaris Wali Nagari Lubuk Karak, Ropi Juliasman S.M, menyambut hasil pemetaan tersebut. Menurutnya, peta membuat informasi wilayah lebih jelas dan tertata sehingga dapat membantu pemerintah nagari dalam perencanaan pembangunan dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
Ia berharap peta tersebut tetap dimanfaatkan dan diperbarui mengikuti perkembangan Nagari Lubuk Karak.
Peta untuk Pembangunan dan Mitigasi Banjir
Nagari Lubuk Karak memiliki sejumlah potensi dan kawasan yang membutuhkan informasi spasial. Di wilayah tersebut terdapat Hak Pengelolaan Hutan Nagari (HPHN) seluas 1.708 hektare berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 serta kawasan hutan lindung seluas 2.500 hektare.
Sungai Batang Momong juga membelah wilayah nagari. Sementara di Jorong Koto Lamo, agroforestri kopi telah berkembang sejak 2018.
Nagari Lubuk Karak juga memiliki Lubuk Tojuang yang disebut sebagai kawasan ekowisata nagari dan pernah masuk 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 serta 500 Besar ADWI 2023.
Dengan tersedianya peta terpadu, informasi mengenai wilayah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk perencanaan pembangunan dan pengembangan potensi nagari.
Peta tersebut juga dirancang untuk mendukung penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nagari, pengembangan ekowisata Lubuk Tojuang, penyusunan proposal pembangunan ke Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, serta mitigasi banjir.
Web pemetaan digital yang dibuat mahasiswa juga tetap dapat digunakan setelah masa KKN berakhir dan dikelola secara mandiri oleh pemerintah nagari.
Program pemetaan ini menjadi salah satu hasil pengabdian mahasiswa KKN UNP 2026 di Nagari Lubuk Karak. Peta yang dihasilkan diharapkan menjadi acuan spasial yang dapat terus diperbarui sesuai perkembangan wilayah nagari.(*)
Editor : Hendra Efison