PADEK.JAWAPOS.COM - Di tengah padatnya agenda nasional, langkah Shinta Widjaja Kamdani justru berlabuh di Sumatera Barat. Bukan tanpa alasan. Bagi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu, daerah bukan sekadar titik di peta, melainkan simpul penting masa depan ekonomi Indonesia.
“Saya memilih ke Padang, karena daerah juga harus tumbuh,” ujarnya di hadapan para pengurus dan anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumbar, Kamis (23/4/2026) di Pangeran Beach Hotel, Padang.
Di ruangan itu, ia tak hanya berbicara. Ia mengamati. Wajah-wajah muda yang mulai mengisi organisasi menjadi sinyal yang membuatnya optimistis. Regenerasi, kata dia, bukan lagi wacana melainkan kebutuhan mendesak.
Shinta mengingatkan, menjadi bagian dari Apindo bukan semata soal keuntungan finansial. Ada nilai yang lebih besar: kontribusi. “Kalau dulu mungkin orang berpikir ‘cuan’, sekarang tidak cukup hanya itu. Kita harus berpikir apa yang bisa kita berikan,” katanya.
Baginya, organisasi ini adalah ruang pengabdian. Bahkan, ia berkelakar, “Kalau tidak dapat di dunia, mungkin nanti di akhirat.” Candaan ringan itu disambut tawa, namun pesannya mengendap serius.
Selama 2,5 tahun memimpin, ia mengaku lebih banyak berkeliling daerah, menyerap aspirasi langsung dari pelaku usaha. Dari sanalah ia memahami: tantangan di lapangan jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di pusat.
Salah satu perubahan besar dalam arah kebijakan Apindo adalah pergeseran fokus. Dari sekadar mengurus ketenagakerjaan, kini menjadi penciptaan lapangan kerja. “Tujuan utama kita jelas: membangun usaha yang berkelanjutan dan menciptakan pekerjaan,” tegasnya. Artinya, strategi diperluas mulai dari menarik investasi, mengembangkan UMKM, hingga memperkuat industri. Semua diarahkan pada satu tujuan: membuka lebih banyak peluang kerja.
Namun, di balik optimisme, ada realitas yang tak bisa dihindari. Shinta menyoroti persoalan klasik yang masih membelit dunia usaha: regulasi dan perizinan. “Dari dulu sampai sekarang, kita masih bicara soal izin yang lama,” katanya.
Belum lagi soal biaya produksi yang tinggi, mulai dari energi, bunga pinjaman, hingga bahan baku yang sebagian besar masih impor. Semua itu membuat daya saing industri Indonesia tertinggal. “Cost kita terlalu mahal. Sementara harga tidak bisa ikut naik. Ini yang jadi tekanan,” jelasnya.
Di tengah gencarnya wacana hilirisasi, Shinta mengingatkan pentingnya industrialisasi yang menyeluruh. Tanpa industri hulu yang kuat, Indonesia akan terus bergantung pada impor. “Kalau tidak, kita akan terus jadi pasar,” ujarnya lugas. Ia menilai, pemerintah perlu lebih serius memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif, bukan hanya berhenti di level regulasi.
Sumatera Barat, seperti banyak daerah lain, kata Shinta didominasi oleh UMKM. Jumlahnya besar, namun tantangannya sama: sulit naik kelas. “Kita banyak menciptakan UMKM baru, tapi yang berkembang masih sedikit,” katanya.
Melalui Apindo, berbagai program disiapkan, mulai dari UMKM Academy hingga dukungan ekspor. Tapi satu hal yang ditekankan: UMKM tidak bisa berjalan sendiri. Solusinya? Masuk ke dalam rantai pasok industri besar. “Kalau masuk ekosistem, itu jauh lebih kuat daripada jalan sendiri,” ujarnya.
Shinta juga menyoroti digitalisasi. Di era ekonomi baru, digitalisasi menjadi keniscayaan. Namun, Indonesia masih menghadapi keterbatasan talenta digital. “Teknologinya ada, tapi tenaga kerjanya kurang,” kata Shinta. Ia mendorong pelaku usaha untuk mulai beradaptasi, karena perubahan tidak bisa dihindari. Bahkan, sektor manufaktur pun kini mulai bergeser ke arah otomatisasi.
Investasi Daerah: Peluang yang Harus Dijemput
Bagi Shinta, masa depan investasi Indonesia ada di daerah. Namun, daerah juga harus siap bersaing. “Investor akan membandingkan. Kalau dipersulit, mereka akan ke daerah lain,” ujarnya. Karena itu, ia mendorong adanya business matching antara pengusaha lokal dan investor, baik nasional maupun internasional. Apindo, kata dia, siap menjadi jembatan.
Di akhir pertemuan, Shinta kembali menegaskan pentingnya kebersamaan. Di tengah tantangan ekonomi global, semangat kolektif menjadi kunci. “Walaupun kondisi tidak mudah, kita harus tetap optimis dan bergerak bersama,” katanya.
Sumatera Barat, dengan segala potensinya, disebutnya memiliki peluang besar untuk tumbuh. Tinggal bagaimana semua pihak; pengusaha, pemerintah, dan Masyarakat bisa berjalan seirama. Dan dari Padang, pesan itu menggema: masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan di pusat, tetapi juga di daerah; tempat mimpi-mimpi kecil bertumbuh menjadi kekuatan besar. (*)
Editor : Adriyanto Syafril