SKUTER asal Italia tersebut kerap mewarnai jalan-jalan di Sumbar. Bahkan hampir setiap bulannya ada iven-iven yang melibatkan para pecinta tunggangan khas Negeri Pizza tersebut. Komunitas vespa klasik pun kini menjamur, pecintanya tidak hanya orangtua, tetapi juga anak muda termasuk pelajar.
Mereka tidak malu dan minder menggunakan motor tua tersebut sebagai kendaraan utama, padahal ratusan kendaraan baru yang lebih maju secara teknologi muncul setiap tahunnya. Sah-sah saja jika tren menggunakan vespa sudah menjadi gaya hidup dari mereka yang menyukainya.
Kebanggaan muncul di wajah mereka saat mengendarai vespa klasik di jalanan. Kini memiliki vespa keluaran tahun 60-an, 70-an dan 80-an menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka. Bahkan menggunakan vespa bagai menjalankan sebuah ritual dan menganggap kebudayaan yang harus dilestarikan.
Fernandes, 39, salah satu pemilik vespa di Kota Solok mengatakan, vespa baginya bukan sekadar kendaraan, tapi bagian dari gaya hidupnya. Sebab ia sudah memiliki kendaraan tersebut selama puluhan tahun.
Meskipun ia memiliki mobil dan motor lainnya, tapi memiliki vespa persoalan lain. Vespa menurutnya sebuah style dan gaya hidup, yang nanti mempertemukan dia dengan pengendara vespa lain, dan mengajarkan tentang solidaritas dan saling peduli. Ya, para pecinta kendaraan tersebut memang terkenal dengan kekompakan meski tidak saling kenal. Dan mereka juga punya rasa solidaritas yang tinggi.
“Solidaritas itulah kenapa vespa layak dijadikan sebuah style, ketika orang-orang saling tidak peduli di jalanan, tapi pengendara vespa sangat ramah antar sesamanya,” jelasnya.
Dijelaskannya, kepedulian antar sesama pengguna vespa tidak pandang apapun. Ia menyebut, satu vespa satu rasa bukanlah isapan jempol belaka, para pengguna vespa tak segan untuk saling tolong menolong satu sama lainnya.
Ia menambahkan, menggunakan vespa klasik membuat penggunanya sadar diri dan rendah hati, dan memupuk rasa toleransi, tidak peduli sekaya apapun, dari suku manapun, agama apapun, selama sama-sama mengendarai vespa berarti tetap sama.
“Jika sudah di atas vespa, berarti kita sama, kita satu, pecinta vespa, menjaga kedamaian, memanfaatkan kebebasan dengan cara yang cerdas, dan toleransi pada teman,” katanya.
Anggara Joland, 27, salah satu pecinta kendaraan itu mengatakan, menggunakan vespa memunculkan kebanggaan tersendiri di jalanan, karena nilai-nilai kesederhanaan tergambar jelas di desain vespa yang elegan tersebut.
Apalagi vespa itu murah tapi tidak murahan, karena kualitas mesinnya terjamin. Rata-rata harga vespa standar cukup terjangkau, yakni menurut Joland berkisar antara Rp 5-10 juta, tergantung kondisinya, tapi ada juga yang dibanderol puluhan juta rupiah bahkan ratusan juta.
“Vespa ini unik, dari segi desain saya sangat tertarik, mudah untuk menyukainya, memberikan sensasi lain saat berkendara, apalagi di jalanan sangat ramai akan motor jepang, dan kita para pengguna vespa memberikan warna yang lain dijalanan,” ujarnya.
Namun, yang namanya vespa klasik pasti harus membutuhkan perhatian lebih, terkait ini Anggara Joland mengatakan bahwa konsekuensi dalam menggunakan kendaraan itu tentunya harus lebih sering memanjakan vespa klasik, karena motor tua harus dipastikan terawat maksimal agar peformanya tetap garang.
“Jika tidak mau tangannya kotor karena oli vespa, berarti belum pantas membawa vespa, dan inilah salah satu yang membuat vespa adalah sesuatu yang special, intinya cowok yang suka vespa itu keren, vespa aja diperhatikan habis-habisan, apalagi wanita,” selorohnya.
Digemari Perempuan
Tak hanya di gemari laki-laki, pesona vespa klasik juga membuat kaum hawa tertarik, apalagi, akhir-akhir ini semakin banyak perempuan pengguna vespa klasik bermunculan di jalanan.
Salah satunya, Elsa, 21, mahasiswa ISI Padangpanjang, menyebut pertama kalinya Ia menggunakan vespa, yakni pada saat SMP, kebetulan orangtuanya sudah memiliki vespa sejak Elsa masih kecil.
“Dulu ayah punya vespa, tapi karena penasaran, saya juga belajar, dan yang bikin saya suka, mengendari vespa jadi menambah percaya diri, karena kan beda sendiri di jalan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga kerap berkumpul dengan sesama pengguna vespa klasik, dan menurutnya, kekompakan, solidaritas dan persaudaraan antar pengguna vespa itu memang benar adanya.
“Meskipun saya perempuan, saya tidak khawatir jika ada kerusakan di jalan, toh pengguna vespa saling peduli,” tambahnya.
Kemudian, Feby, 20, yang juga kuliah di ISI Padangpanjang mengatakan, vespa menurutnya bukan sekadar alat transportasi biasa, melainkan juga menambah pertemanan, baik antar sesama komunitas maupun pengguna vespa lainnya.
“Kita di komunitas juga tidak sekadar ngumpul tak jelas, kita juga melakukan kegiatan sosial, apalagi selama pandemi ini kita sudah 2 kali melakukan kegiatan sosial,” katanya.
Kemudian, sebagai perempuan, ia juga tidak canggung menggunakan vespa, sebab merasa beda dari yang lain, dan hal itu yang membuat ia semakin percaya diri. Ia juga tak khawatir jika vespanya bermasalah, sebab menurutnya itu tantangannya, dan yang jelas ia selalu merawat vespa milimnya, dengan bantuan teman-temannya juga.
“Alhamdulillah, jarang mogok, karena saya sebisa mungkin merawat vespa ini, dengan bertanya dengan teman-teman lain,” pungkasnya. (*) Editor : Novitri Selvia