Tumpukan sampah, got yang kotor dan rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan seng bekas menjadi pemandangan yang hampir seragam ketika berkunjung ke Gang Warna-warni Purus, Kota Padang. Berjarak kurang dari 50 meter dari bibir Pantai Kota Padang, Gang Warna-warni, Purus menjadi salah satu kawasan kumuh, meskipun lokasinya paling dekat dengan kawasan pariwisata kebanggaan Kota Padang.
Tidak semua air sisa pakai warga masuk ke dalam got, beberapa genangan air keputihan bekas cucian dibiarkan begitu saja di sudut-sudut rumah bersamaan dengan sampah-sampahnya. Sesekali ketika angin berhembus, siapapun dapat mencium aroma anyir menyengat menusuk hidung, entah berasal dari got atau genangan air, atau dari campuran keduanya.
Kawasan yang terletak tepat di belakang Rusunawa Purus itu dihuni oleh padat penduduk yang rata-rata memiliki pekerjaan serabutan, mulai dari nelayan, penjaga toko, penjual cemilan, hingga pemulung sampah plastik. Hal itu membuat berbagai permasalahan sosial yang begitu rumit, salah satunya kemiskinan, pendidikan rendah dan angka kelahiran yang terus melonjak.
Salah satu warga ditemui oleh Padang Ekspres di Gang Warna-warni Emi, 42, suaminya bekerja sebagai tukang becak. Bahkan ia tidak mampu membuat ukuran kamar mandi menjadi lebih besar lagi, sehigga ia terpaksa harus mencuci piring di luar rumahnya. Emi memiliki 7 orang anak dan dua orang cucu. Meskipun begitu, Emi tampak tidak memiliki beban yang cukup berarti di matanya.
“Saya menetap disini semenjak usia 15 tahun, waktu itu baru menikah. Hingga sekarang saya menjalani kehidupan yang cukup bahagia dengan memiliki 7 orang anak dan 2 orang cucu. Tentu uang sebagai ojek becak tidak selalu membuat dapur mengepulkan asap, tapi ya gak usah dipikirin aja,” tuturnya sambil lanjut menggosok piring yang bernoda minyak.
Ia juga menyatakan mendapat beberapa bantuan dari pemerintah seperti PKH (Program Keluarga Harapan). Namun semenjak Februari lalu, bantuan berupa beras dan sembako itu berhenti ia peroleh. Namun kebutuhan akan sekolah anak juga tidak membebaninya karena poses belajar daring, sehingga jumlah uang dari suami, ia nilai masih cukup.
Selain Emi, Syafrida, janda 60 tahun itu tinggal bersama anak bungsu dan satu orang cucu. Memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anaknya, ia bekerja sebagai buruh pembuat ketupat. Namun karena usianya, sehari ia hanya dapat membuat 300 buah ketupat yang digaji sekitar Rp 3 ribu.
“Sudah lama saya menjadi janda, dan harus menghidupi seluruh anak-anak saya. Oleh karena itu saya membuat ketupat yang kemudian dijual kepada pemborongnya. Sehari saya dapat membuat hingga 300 buah ketupat dengan harga dua ribu rupiah per 200 buahnya. Uang itu saya sisihkan untuk sekolah anak, dan kebutuhan makan. Meskipun tidak terpenuhi, kami juga memperoleh sumbangan anak yatim yang dapat menunjang kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak,” jelasnya.
Ia mengaku meskipun ia seorang janda dan masih memiliki tanggungan anak, ia tidak memperoleh bantuan sosial dari pemerintah. Ida mengatakan bantuan yang ia peroleh hanya sekali, yaitu berupa beras 3 karung, telur, dan uang dengan jumlah Rp 500 ribu. Setelah itu bantuan itu nihil ia peroleh hingga sekarang.
Yusmiati juga mengeluhkan hal yang hampir serupa. Memiliki 4 orang anak membuatnya cukup kesulitan untuk membuat dapurnya selalu mengepul. Sejak suaminya meninggal, perempuan paruh baya itu menggantungkan hidup sepenuhnya kepada anak-anaknya.
“Dulu suami bekerja sebagai penyepuh emas, sehingga kebutuhan untuk hidup terpenuhi secara maksimal. Namun semenjak ia meninggal, kadang untuk makan saja susah, apalagi untuk menyekolahkan anak. Untungnya kedua anak saya memilih untuk tidak melanjutkan sekolah dan bekerja sebagai penjaga toko, sehingga dapat mencukupi kebutuhan harian dan biaya kontrakan,” sebutnya.
Yusmiati harus mengeluarkan uang sebesar Rp 400 ribu untuk biaya kontrak rumah dan listrik setiap bulannya. Ia mengatakan jika bukan dari dua anaknya, ia akan sangat kebingungan untuk mencari biaya tersebut. Perempuan yang memiliki seorang cucu itu mengatakan beberapa kali memperoleh bantuan langsung dari pemerintah, namun bantuan tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhannya secara penuh.
“Dulu saya pernah beberapa kali memperoleh bantuan langsung dari pemerintah, namun tentu jumlanya tidak cukup, ditambah lagi saya harus membayar kontrakan dan listrik setiap bulannya. Oleh sebab itu kedua anak saya berhenti sekolah dan memilih sebagai penjaga toko untuk menopang kebutuhan ekonomi harian saya,” sebutnya.
Lurah Purus, Fajri Rahmad Ersya mengatakan sebanyak 140 KK menghuni gang dengan nama populer gang Tanah Ombak itu, dibagi menjadi dua buah rukun tetangga (RT). Ia mengatakan bahwa gang tersebut dihuni oleh sebagian besar penduduk dengan pendapatan di bawah rata-rata.
“Dulunya profesi sebagian besar warga disana yaitu berdadang di sepanjang Pantai Padang, namun ketika kebijakan adanya pemindahan area berjualan pada tahun 2014 lalu membuat mereka kehilangan mata pencaharian. Oleh sebab itu, sebagian masyarakatnya menjadi sangat miskin dan bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu,” ujarnya.
Ia menyatakan sudah berbagai cara Ia lakukan untuk menangani permasalahan kemiskinan disana, seperti program Kampung Keluarga Berencana (KB), dan penyetaraan pendidikan yang dibantu oleh Komunitas Tanah Ombak yang bergerak tepat di kampung tersebut. Namun permasalahan terbesarnya yaitu mayoritas penghuni gang sudah terbiasa dengan pola pikir miskin dan cukup sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut.
“Kita sudah lakukan berbagai cara, seperti desa KB yang menjadi desa prioritas dalam pembangunan. Selain itu kita juga sudah meningkatkan minat akan pendidikan di sana bersama dengan Tanah Ombak. Namun membut perubahan disana tentu memakan waktu yang cukup lama karena targetnya yaitu mengubah pola pikir atau kebudayaan warga,” tutup Fajri.
Zurmailis, pencetus Komunitas Tanah Ombak mengatakan pernah mengajak untuk menjaga lingkungan bersama-sama dengan warga sekitar, namun hal tersebut berujung sia-sia. Meskipun sudah diajak untuk hidup bersih, kebiasaan itu tidak berlangsung lama, dan masyarakat kembali ke kebiasaan lama mereka.
“Bahkan beberapa rumah yang tidak dilengkapi dengan kamar mandi dan wc, anak-anaknya memilih untuk kencing di depan rumahnya masing-masing. Hal yang paling konkret yang dapat dilakukan yaitu mulai membiasakan para anak-anak sekitar sini untuk berubah, dan meninggalkan kebiasaan buruk tersebut melalui pendidikan yang asyik,” ujar Dosen Sastra Indonesia, Unand itu. (***) Editor : Novitri Selvia