Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masjid Tuo Sitiung: Bersejarah, Sentral Penyebaran Islam di Dharmasraya

Novitri Selvia • Rabu, 6 April 2022 | 10:09 WIB
BERSOLEK: Potret masjid lama (atas) dan hasil renovasi masjid.(IST)
BERSOLEK: Potret masjid lama (atas) dan hasil renovasi masjid.(IST)
Syekh Kapalo Koto orang atau tonggak pertama berkembangnya Islam di Sitiung. Nama aslinya tidak diketahui, namun nama Kapalo Koto merujukkan satu nama daerah di Sitiung.

Syekh Kapalo Koto sendiri datang ke Sitiung diperkirakan pertengahan abad 17 M dan mendirikan sebuah masjid di tepi Batang Tiung yang erat kaitannya dengan asal-muasal nama Sitiung. Jarak masjid tersebut kurang lebih 50 meter dari muara Batang Tiung
di Batanghari.

Tidak diketahui Syaikh Kapalo Koto berasal. Bahkan, juga tidak diketahui arah kedatangannya dari pesisir timur atau malah pesisir barat. Satu yang pasti, ulama yang satu ini pendatang di Sitiung.

Sedangkan pemahaman atau tariqah yang beliau bawa (diperkirakan) Tariqah asy-Syattoriyah atau Tariqah an-Naqsyabandiyah. Dua tarikat ini berkembang cukup pesat di Sumatera pada abad-abad Syaikh Kapalo Koto datang ke Sitiung.

Kampung Sitiung bagian atas (Sitiung sekarang) masih belum dihuni ketika Syakh Kapalo Koto datang. Atau pun kalau sudah berpenghuni, maka rumah-rumah di kampung Sitiung bagian atas masih sedikit.

Penduduk kampung Sitiung sebagian besar masih tinggal di tepi Batanghari, baik tepi sebelah kampung Sitiung sekarang maupun tepi seberang kampung Sitiung sekarang. Seiring berjalannya waktu dan penduduk kampung Sitiung mulai ramai, baru lah penduduk Sitiung secara bertahap-tahap pindah ke kuping atau koto.

Rumah Gadang Bukik Masojik (Rumah Gadang di atas bukit masjid Syaikh Kapalo Koto) rumah pertama dibangun di kampung Sitiung bagian atas atau Koto. Koto sendiri setingkat di bawah nagari dalam tatanan pemerintahan di Minangkabau.

Agaknya pada masa Syaikh Kapalo Koto ini tatanan pemerintahan Kampung Sitiung sudah bisa membentuk sebuah Koto karena penduduknya memang sudah ramai. Dan, sepertinya nama Syaikh Kapalo Koto berasal dari keberadaan Koto ini.

Syaikh Kapalo Koto bisa merujuk pada pimpinan sebuah Koto atau bisa juga nama ini muncul karena Syekh Kapalo Koto tinggal di Koto bagian kepala (atas atau hulu). Wallahu a’lam.

Di Rumah Gadang Bukik Masojik ini masih tersimpan Al Quran tulis tangan berusia ratusan tahun, lehau-nya (tempat meletakkan Al Quran ketika dibaca), jubah, dan sorban. Barang-barang tersebut terbungkus kain putih dan digantung di loteng Rumah Gadang Bukik Masojik tersebut.

Menurut ahli waris Rumah Gadang Bukik Masojik, barang-barang tersebut di atas peninggalan Syekh Kapalo Koto. Sekarang, kondisi barang-barang tersebut sudah sangat memperihatinkan, terutama jubah dan sorbannya yang sudah mulai lapuk atau menuju hancur dimakan usia.

Syekh Kapalo Koto diperkirakan wafat awal abad 18 M dan dimakamkan tak jauh dari masjid yang beliau dirikan. Sekarang makam Syaikh Kapalo Koto tersebut bagian dari kompleks MTI Sitiung

Sepeninggal Syaikh Kapalo Koto kepemimpinan dilanjutkan Tuanku Alahan Panjang. Kalau ditilik dari nama, Tuanku Alahan Panjang berasal dari Alahan Panjang, sebuah nagari di kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Posisinya di lereng timur Taman Nasional Kerinci Seblat di ketinggian 1.200-1.600 mdpl.

Syekh Alahan Panjang diperkirakan datang ke Sitiung awal abad 18 M dan membawa Islam dengan pemahaman Tariqah asy-Syattoriyah. Pendapat ini diambil karena masa dakwah dan berada di akhir-akhir kehidupan Syaikh Burhanuddin.

Tak menutup mungkinan beliau adalah murid Syaikh Burhanuddin utusan Pagaruyuang yang Islam. Tuanku Alahan Panjang diperkirakan wafat pada akhir abad 18 M dan dimakamkan di kompleks Pemakaman Masjid Jami’ Tuo Sitiung.

Selanjutnya, ada juga kepemimpinan Syekh Tapianbiriang. Syekh Tapian Biriang, hidup semasa dengan Syaikh Alahan Panjang. Tak diketahui nama aslinya, sedangkan nama Tapian Biriang merujuk pada nama tempat di tepi Batanghari yang membelah kampung Sitiung.

”Tapian” dalam bahasa Sitiung juga berarti tempat pemandian. Menurut cerita, di Tapian Biriang tersebut surau tempat Syaikh Tapian Biriang mengajar murid-muridnya mengaji pernah berdiri. Rata-rata surau pada masa itu memang berdiri di tepi Batanghari, karena surau pada masa itu memang erat kaitannya dengan sumber air.

Pada masa Tuanku Tapian Biriang inilah Masjid Jami’ Sitiung sebelumnya (Masjid Syaikh Kapalo Koto) dipindahkan ke posisi Masjid Jami’ Tuo Sitiung tahun 1121 H (1709M). Awalnya, Masjid Jami’ Tuo Sitiung awalnya berbentuk panggung dengan lantai papan (kayu), dindingnya dari pelupuh (bambu), lima tiang utama di tengah bangunan utama masjid, dan beratap dari ijuk. Lima Tiang utama tersebut yang dinamakan dengan Tiang Sako Nan Limo

Tiang Sako Nan Limo memiliki filosofi empat penghulu suku di Kampung Sitiung yang berdiri di empat sisi dan seorang sosok raja yang bijaksana berdiri pada bagian tengah. Selain itu, Tiang Sako Nan Limo juga bermakna empat khalifah Nabi (Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali) yang berdiri di empat sisi dan Nabi sendiri berdiri pada bagian tengah.

Peninggalan Tuanku Tapian Biriang lainnya adalah dua buah naskah khutbah. Naskah khutbah tersebut dikenal dengan nama Khutbah Bajelo. Ukurannya 20 x 300 cm. Ditulis pada tahun 1192 H (1778 M). Membandingkan tahun dibangunnya Masjid Jami’ Tuo Sitiung dengan tahun ditulisnya Khutbah Bajelo, maka terlihat Tuanku Tapian Biriang berumur panjang.

Tuanku Tapian Biriang juga dikenal dengan nama Tuanku Cukua Sabola. Terdapat sebuah cerita yang mengiringi nama tersebut. Cerita tersebut terkait dengan karomah keulamaan beliau. Pada suatu hari beliau sedang mencukur rambut pada salah seorang muridnya.

Ketika rambutnya baru dicukur sebelah, tiba-tiba beliau menghilang dari tempat duduknya. Sedangkan murid yang mencukur rambutnya hanya bisa berdiri kaku sambil memegang pisau cukurnya.

Tuanku Tapian Biriang menghilang karena mendengar orang minta tolong. Ternyata terdapat sekolompok orang di sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah laut Bengkulu. Kapal mereka terbakar.

Dan, Tuanku Tapian Biriang menolong mereka memadamkan api dengan mengibaskan kain basahannya. Seketika itu juga api yang sedang menyala menjadi padam. Orang-orang di atas kapal berterima kasih kepadanya. Tuanku Tapian Biriang menjawab kalau dirinya berasal dari Sitiung.

Selepas menolong orang-orang di kapal tersebut, Tuanku Tapian Biriang kembali ketempat mencukur rambutnya dan murid yang mencukur rambutnya sama sekali tak menyadari kejadian tersebut.

Terlepas cerita ini benar atau tidak, tetapi kenyataannya pada suatu hari salah seorang dari orang kapal yang kapalnya terbakar tersebut datang ke Sitiung untuk mencari Tuanku Tapian Biriang atau Tuanku Cuku Sabolah.

Dari orang ini lah nama Tuanku Cuku Sabolah tersebut berasal, karena orang kapal tersebut melihat rambut ulama ini baru tercukur sebelah ketika menolong memadamkan api di kapal.

Akan tetapi, Tuanku Tapian Biriang sudah telah wafat ketika orang kapal tersebut datang ke Sitiung. Orang kapal tersebut hanya sempat menjumpai muridnya. Wallahu a’lam. Tuanku Tapian Biriang diperkirakan wafat di akhir abad 18 M dan dimakamkan di kompleks Masjid Jami’ Tuo Sitiung, tepatnya di samping mihrab sebelah kanan. (***) Editor : Novitri Selvia
#Tuanku Cukua Sabola #Tuanku Tapian Biriang #Syekh Kapalo #Masjid Tuo Sitiung