Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masjid Agung Al Muhsinin: Simbol Kemegahan Kota Beras, Pusat Keagamaan

Novitri Selvia • Rabu, 13 April 2022 | 11:43 WIB
BERSIH-BERSIH: orang petugas Masjid Raya Sumbar membersihkan tikar lantai dua masjid yang akan dijadikan tempat pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan mendatang, Jumat (9/4) lalu. (IST)
BERSIH-BERSIH: orang petugas Masjid Raya Sumbar membersihkan tikar lantai dua masjid yang akan dijadikan tempat pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan mendatang, Jumat (9/4) lalu. (IST)
Berjuluk Kota Beras Serambi Madinah, Kota Solok sangat kental nuansa Islami. Salah satu cirinya Masjid Agung Al Muhsinin. Bangunannya ikonik dan sekarang menjadi simbol Kota Solok.

MASJID Agung Al Muhsinin yang beralamat di Jalan Datuak Perpatih Nan Sabatang, Kelurahan Aro IV Korong, Kecamatan Lubuksikar merupakan pusat studi, edukasi, penelitian, serta menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan skala regional seperti tabligh akbar dan pertemuan jamaah, khususnya di Kota Solok.

Masjid dengan gaya arsitektur yang unik dan mirip seperti bangunan Masjidil Haram ini ramai dikunjungi untuk beribadah atau hanya sekadar untuk melihat keindahan bangunannya saja.

Tak hanya bangunannya saja yang unik dan mewah, masjid ini juga menyediakan tempat parkir yang luas dan aman untuk kendaraan para pengunjung.

Awalnya, Masjid Agung dibangun tahun 1984 lalu, yang dibiayai dari sumbangan Yayasan Bhakti Muslimin dan digunakan pertama kali tahun 1987. Namun akibat gempa bumi yang melanda Kota Solok dan sekitar pada Maret 2007 lalu, bangunan masjid sempat hancur dan roboh sehingga harus dibangun ulang.

“Setelah kerusakan itu Pemko Solok kemudian melakukan beberapa perbaikan, dan pada Agustus 2009 dimulai pembangunan kembali, hingga hasilnya seperti sekarang,” ujar Walikota Solok Zul Elfian Umar, yang juga sebagai Ketua Pembangunan Masjid saat masjid dibangun kembali tahun 2009 silam.

Ia menyebutkan, saat itu proses pembangunan memakan waktu 28 bulan, menghabiskan biaya sebesar Rp35 miliar lebih, berasal dari sumbangan pemerintah melalui APBD, masyarakat dan lainnya. Peresmian masjid dilakukan oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia pada 14 Desember 2011.

Dana pembangunan diluncurkan dalam dua tahap. Tahap I sebesar Rp 31 miliar untuk pembangunan badan masjid, dan tahap II sebesar Rp4 miliar untuk pembangunan pagar dan bangunan penunjang lainnya.

Adapun bangunan utama berupa ruang shalat terdiri dari dua lantai dengan denah dasar ruang lepas 35x35meter. Masjid dikelilingi empat menara masing-masing setinggi 40 meter. Dengan ukuran itu, masjid tersebut menjadi yang terbesar di Kota Solok, dan menjadi salah satu yang terbesar di Sumatera Barat.

“Saat ini masjid mampu menampung 7.000 lebih jamaah, dengan rincian untuk ruangan lantai satu sebanyak 3.000 jamaah, lantai dua 2.000 jamaah dan 2.000 jamaah lainnya dipelataran parkir,” ungkapnya.

Kemudian, Masjid Agung dibangun dengan sentuhan modern, seperti pintu utama menggunakan mode sensor (respons terhadap gerak), plafon masjid dilukis dengan lukisan awan yang menambah kesan sejuk di dalam masjid.

Lalu, terdapat kubah masjid yang besar dengan warna kuning keemasan dan ornamen berwarna hijau, menurut Zul Elfian, Kuning keemasan melambang kemakmuran, dan hijau sebagai tanda kesuburan, hal itu merupakan doa bagi seluruh masyarakat Kota Solok agar selalu makmur diatas tanah yang subur.

Kubah berukuran besar itu, terlihat sangat mencolok, bahkan dari kejauhan masjid sangat mudah dilihat karena kilauan kubah tersebut sangat jelas. Selain itu, juga ada 4 kubah yang berukuran lebih kecil yang ditempatkan mengelilingi kubah besar.

Tak hanya itu, kemegahan Masjid Agung kian dipermanis dengan 4 menara tinggi menjulang, kurang lebih setinggi 40 meter yang masing-masing terletak di sudut bangunan.

Belum lagi lahan parkir yang cukup luas, yang juga bisa menampung ribuan orang.
Sehingga pengunjung pun bisa merasakan kenyamanan saat singgah di masjid dengan tidak susah-susah mencari tempat parkir.

“Dari dulu sampai sekarang, Masjid Agung merupakan pusat kegiatan keagamaan di Kota Solok yang berskala besar baik nasional maupun regional,” tambah Zul Elfian.

Ke depannya, Pemko Solok akan menggiatkan peningkatan peran masjid Agung menjadi pusat perkembangan ekonomi syariah dan lembaga pendidikan, serta masuk dalam proses digitalisasi di Kota Solok.

Sebagai penunjang aktivitas masyarakat, penerapan digitalisasi tidak hanya pada pelayanan publik dan teknologi informasi di lingkungan pemerintahan, tetapi juga untuk meningkatkan peran masjid.

“Digitalisasi di masjid akan kita arahkan untuk pengembangan ekonomi syariah maupun pendidikan bagi kaum muda maka dari itu dibutuhkan media digital untuk menarik interest dari kaum milenial,” jelasnya.

Selain pencapaian digitalisasi di ruang pelayanan publik, Pemko Solok juga sedang mempersiapkan masjid-masjid untuk menjadi sarana pengembangan ekonomi syariah, yang memakai teknologi digitalisasi agar masyarakat dapat mengakses, dan mendapatkan informasi yang lansung bisa diakses oleh masyarakat.

“Yang jelas akan kita mulai dulu di Masjid Agung, baru nanti kita kembangkan ke masjid-masjid lain,” tukasnya. (***) Editor : Novitri Selvia
#kota solok #Simbol Kemegahan #Masjid Agung Al Muhsinin