Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Zul Hanif, Petani Kopi Yang ”Naik Kelas”, Produksi 900 Kg Kopi Sebulan

Novitri Selvia • Kamis, 5 Januari 2023 | 10:32 WIB
PRODUKTIF: Salah seorang karyawan Williem Florist saat membuat karangan bunga, kemarin.(ROHIMUDDIN/PADEK)
PRODUKTIF: Salah seorang karyawan Williem Florist saat membuat karangan bunga, kemarin.(ROHIMUDDIN/PADEK)
Banyak petani di Sumatera Barat, jago bertanam kopi robusta. Tapi, tidak banyak petani kopi robusta yang mampu menjadi prosesor, roaster, sales, sekaligus green buyer kecil-kecilan, seperti halnya Zul Hanif dari Kabupaten Limapuluh Kota.

Inilah, potret petani kopi yang ”naik kelas” jadi pelaku UMKM, meski tanpa sentuhan pemerintah. Pada suatu hari di tahun 2018 silam, Zul Hanif menanam 1.200 batang kopi robusta di Jorong Sialang, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. “Bibit kopi itu saya peroleh dari teman di Gunung Sago,” kata Zul Hanif kepada Padang Ekspres, Rabu malam (4/12).

Kontur tanah di Jorong Sialang nan subur, seperti lazimnya kontur tanah di nagari-nagari sekitaran Gunung Sago yang sudah terkenal sebagai penghasil kopi sejak zaman kolonial Belanda, membuat kopi robusta yang ditanam Zul Hanafi tumbuh dengan cepatnya. Pria kelahiran 28 Januari 1977 ini juga gigih dalam bertani. Sehingga, dalam tempo dua sampai tiga tahun, Zul Hanif sudah bisa memanen kopi.

Hanya saja, harga biji kopi robusta yang baru dipanen, berbeda dengan harga saat kopi tersebut sudah diolah atau dalam dunia kopi disebut dengan istilah di-processing dan di-roaster. Kondisi ini, membuat Zul Hanif belajar secara autodidak, menjadi seorang prosesor sekaligus roaster dari kopi robusta yang ditanamnya.

Tentu saja, usaha Zul Hanif tidak semudah membalik telapak tangan. Selain membutuhkan kesabaran, keuletan, dan ketekunan, juga butuh modal untuk membeli peralatan. Meski dalam skala kecil-kecilan “Saya membeli sendiri peralatan yang diperlukan untuk processing dan roaster kopi,” ucap Zul Hanif.

Prosesing dan roasting kopi robusta yang dilakukan Zul Hanif dari rumahnya nan sederhana, ternyata membuahkan hasil luar biasa. Zul Hanif bisa memproduksi tiga jenis kopi robusta. Yakni, green bean (biji kopi mentah yang belum disangrai dan biasanya berwarna hijau). Kemudian, roast beans dan ground coffee (kopi bubuk). Yang semuanya butuh ilmu dan seni.

Zul Hanif juga berhasil membuat spesifikasi khusus atas kopi-kopi yang dibuatnya. Mulai dari kopi robusta jenis natural, wine, sampai honey. “Untuk kopi robusta wine itu, saya produksi dengan gula aren, pisang, dan anggur,” kata ayah dari empat orang anak ini.

Hanya saja, setelah berhasil melakukan processing dan roaster atas kopi robusta yang ditanamnya, Zul Hanif tentu juga butuh kerja keras untuk memasarkan hasil produksinya. Dalam hal ini, Zul Hanif dan istrinya, Satria Murni yang kelahiran 1988 itu, saling bekerjasama menjadi sales.

“Istri saya, ikut menawarkan kopi yang saya produksi ke warung-warung. Awalnya, di sekitaran tempat tinggal kami. Terus ke sejumlah wilayah di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Bersamaan dengan itu, saya juga memasarkan ke kafe-kafe atau warung kopi yang ada di Sumbar dan luar Sumbar,” kata Zul Hanif.

Berkat keyakinan, Zul Hanif akhinya punya pasar sendiri atas kopi robusta yang diproduksinya. “Alhamdulilah. Kopi robusta yang kami produksi, kini sudah bisa dipasarkan, tidak hanya di Payakumbuh, Limapuluh Kota, dan daerah-daerah di Sumbar. Tapi, sudah masuk pula ke Jakarta, Bogor, dan Batam. Pemasaran ini juga kami lakukan secara online, memanfatkan media sosial,” kata Zul Hanif.

Harga jual kopi robusta yang diproduksi Zul Hanif, juga terbilang menjanjikan. Untuk green bean jenis honey kelas premium dijual Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan untuk kopi green beans kelas natural harga jualnya Rp55 ribu per kilogram.

Sementara untuk untuk wine robusta, dilepas dengan harga Rp90 ribu per kilogram. Kemudian, untuk roast beans wine, dilepas dengan harga Rp120 per kilogram. “Untuk roast beans wine ini, Rp120 ribu per kilogram itu sebelum direndang. Kalau setelah direndang, harganya jadi Rp150 ribu per kilogram. Karena dalam proses perendangan itu, ada penyusutan 2 ons per kilogramnya,” tukul Zul Hanif,

Sedangkan untuk kopi bubuk robusta kelas premoum, Zul Hanif menjual seharga Rp120 ribu per kilogram. Kemudian, untuk kopi bubuk robusta asalan dijual dengan harga Rp60 ribu. “Untuk asalan ini, tidak hanya kita sediakan dalam bentuk bubuk, tapi juga ada asalan natural dan honey,” kata Zul Hanif.

Lantas, apa bedanya kopi robusta asalan dengan premium ini? “Kalau asalan itu, banyak quicker atau belang-belang. Warnanya, bercampur-campur. Kalau premium, cirinya merah semua. Ini yang membuat kopi robusta premium lebih mahal dari asalan,” ujar Zul Hanif.

Kini, dalam sehari, Zul Hanif bersama istrinya, bisa memproduksi kopi robusta dalam berbagai jenis, dengan kapasitas mencapai 30 kilogram. “Sebulan itu, saya memproduksi sekitar 900 kilogram kopi. Target saya, nantinya dalam sebulan, bisa memproduksi 2 ton kopi robusta dalam berbagai jenis,” kata Zul Hanafi.

Dalam memproduksi kopi robusta yang diberi brand ‘Dafa Coffe Rostery”, Zul Hanif juga mempekerjakan orang untuk sortir buah cerry dan sortir kopi premium. Sedangkan untuk proses merendang, dia kerjakan sendiri, dibantu sang istri. Lantaran produksi sudah banyak, Zul Hanif tidak hanya memperoleh biji kopi robusta dari lahannya sendiri, tapi juga membeli kopi robusta dari petani lainnya.

Menariknya, selama proses bertumbuh dari seorang petani, prosesor, roaster, sales, sekaligus green buyer kecil-kecilan, Zul Hanif nyaris belum tersentuh pemerintah. “Pernah sekali ikut pelatihan yang digelar Disperindag di Padang. Sisanya, apa yang saya lakukan, boleh dibilang, tidak pernah disentuh atau mendapat perhatian dari pemerintah. Termasuk untuk membeli mesin, pakai uang pribadi,” kata Zul Hanif.

Meski demikian, Zul Hanif tidak berkecil hati. Dia yakin, pemerintah pasti akan membantu pelaku UMKM seperti dirinya, untuk bisa naik kelas lagi. Sebab, Zul Hanif mengaku, selama lima tahun bergelut dengan kopi robusta, dia masih punya kendala. “Paling utama itu, kendala saya adalah belum punya izin BPOM dan Logo Halal. Sebab, saya belum punya rumah kopi yang layak,” kata Zul Hanif.

Hanya saja, untuk rumah kopi yang layak ini, Zul Hanif optimis bisa memiliknya dalam beberapa waktu ke depan. “Ada rencana, saya akan membuka kafe kopi juga di Payakumbuh. Nanti, kalau sudah punya rumah kopi yang layak ini, saya berharap dibantu pemerintah dan pihak terkait, dalam mendapatkan izin BPOM dan logo halal,” ulas Zul Hanif sambil menawari Padang Ekspres ngopi bareng. Yuk, ngopi.(Fajar Rillah Vesky) Editor : Novitri Selvia
#petani kopi #Zul Hanif #naik kelas #Nagari Tungkar #Jorong Sialang #kopi robusta