Tetua adat Nagari Limaulunggo, Kecamatan Lembangjaya mengusapkan ramuan limau ke bagian wajah dan kepala, kemudian dikuti oleh orangtua. Anak-anak muda pun tak mau ketinggalan, mereka melakukan hal yang sama dalam suasana yang sangat sakral.
Tak lama berselang, suasana sontak jadi heboh, sorak sorai kegembiraan membahana ke udara. Seluruh anak nagari yang hadir saling siram ramuan limau, aroma bunga tujuh ragam menusuk hidung. Anak nagari larut dalam kegembiraan penuh canda dan tawa.
Hari itu, Rabu (22/3), ratusan anak Nagari Limaulunggo Kecamatan Lembangjaya, Kabupaten Solok tumpah ruah di balai, tepatnya di depan kantor wali nagari. Dari siang hingga senja, mereka menampilkan kebolehan mereka dalam berkesenian.
Mulai dari seni tradisi seperti randai, pencak silat, tari piring hingga seni kontemporer ditampilkan anak nagari. Dan puncak acara diakhiri dengan taradisi Balimau Patang.
“Tradisi Balimau Patang merupakan tradisi yang istimewa bagi anak Nagari Limaulunggo dalam menyambut bulan suci Ramadhan, tradisi ini juga diikuti kalangan perantau,” ujar Wali Nagari Limaulunggo, Syahrial, Rabu (22/3).
Syahrial menjelaskan, ramuan limau terbuat dari air bercampur irisan limau lunggo, limau kapeh, limau puruik, limau kunci, cakua, urek pisa, pandan wangi dan bunga tujuh ragam diletakkan dibelakang carano yang telah diisi sirih, sadah dan gambir.
Perantau sukses dan anak nagari yang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih mapan memberikan sumbangan dalam bentuk sembako. Dalam tradisi Balimau Patang di Limaulunggo itu, tak ada kegiatan mandi mandi sama sekali.
Baik itu mandi tempat terbuka seperti di danau, hulu sungai, lubuk maupun di rumah sendiri. Bagi anak Nagari Limaulunggo mandi dengan limau hanyalah simbol. Anak nagari hanya mengusapkan air ramuan limau ke bagian wajah dan kepala. Dengan cara itu, mereka berharap dinilai bersih oleh Sang Pencipta, baik secara lahir maupun bathin.
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Solok, Jamris, yang juga merupakan mantan Wali Nagari Limaulunggo mengatakan, inti dari kegiatan Balimau Patang ini adalah mengumpulkan seluruh warga di satu tempat untuk bersilaturahmi dan saling bermaaf maafkan.
Sementara penampilan kesenian randai, silat, tari piring dan kesenian lainnya tak ada hubungannya sama sekali dengan ibadah. Peran kesenian ini hanya sebagai jembatan untuk beribadah. Tradisi Balimau Patang Nagari Limaulunggo merupakan salah satu tradisi bernuansa Islam yang layak dilestarikan.
Asisten I Pemkab Solok Syahrial yang ikut menghadiri kegiatan itu mengatakan, Balimau ini merupakan budaya kita di Kabupaten solok dalam rangka ikut meriah dan bergembira dalam menyambut Bulan Suci Ramadan.
Anggota DPR RI Komisi V Athari Gauthi Ardi, yang juga turut hadir dalam kegiatan itu menyebut, acara Balimau seperti ini yang membuatnya cinta ke kampung halaman.
“Saya berharap generasi muda kita akan terus menjaga dan melestarikan kebudayaan dan adat kita yang baik seperti ini karena melalui adat ini kita dapat menjaga tali silaturahmi sesama kita,” tukasnya. (Frikel Adilla Mender) Editor : Novitri Selvia