DIDIRIKAN pada tahun 2003 dengan nama Yayasan Waqaf Ar-Risalah, butuh perjalanan panjang bagi Perguruan Islam Ar-Risalah menjadi pesantren yang diperhitungkan seperti saat ini. Tidak hanya Sumbar tapi juga nasional.
Salah seorang pendiri perguruan tersebut adalah Irsyad Safar yang saat ini juga dipercaya menjadi wakil rakyat di DPRD Sumbar. Selain dia ada empat orang lainnya. Yakni Kamrizal, Firman Bahar, Saleh Zulfahmi dan Arwin Al Ibrahim.
Irsyad Safar menceritakan, pendirian Ar-Risalah beranjak dari sebuah keprihatinan. Yakni terkait dengan banyaknya masyarakat Sumbar yang lebih memilih memondokan anaknya ke luar Sumbar.
Kemudian dipilih lah Kenagarian Cupak, Kabupaten Solok, sebagai lokasi perdana didirikanya lembaga pendidikan perdana Ar-Risalah. “Dapatlah kami sebuah lahan wakaf dari perantau Cupak seluas 3 hektare. Lalu dari lahan tersebut kami mulai mendirikan sebuah Aliyah setingkat SMP untuk generasi pertama Ar-Risalah,” paparnya.
Pada tahun 2004 Perguruan Islam Ar-Risalah resmi diluncurkan Gamawan Fauzi yang saat itu bupati Solok. Pada masa awal tersebut Ar-Risalah baru memiliki empat kelas. Dalam perjalanan selanjutnya, melihat potensi perkembangannya, pihak yayasan pun mulai mencari lokasi alternatif.
Dengan pencarian yang ada didapati sebuah tanah wakaf yang berada di daerah Airdingin, Kota Padang. “Selain itu kita juga mendapatkan donatur dari Timur Tengah yang bersedia untuk membantu pembangunan fasilitas Ar-Risalah dengan demikian perancanaan tetap berlangsung,” ucapnya.
Usai mendapatkan lahan wakaf 2,5 hektar di Airdingin, Yayasan Waqaf Ar-Risalah lansung bergerak cepat dalam pembanungan sarana dan prasarana pembelajaran. Irsyad Safar mengatakan sembari proses pembangunan terus berlangsung Perguruan Islam Ar-Risalah yang berada di cupak perlahan berangsur di pindahkan ke Padang.
Hingga kini Ar-Risalah telah tumbuh menjadi sebuah lembaga pendidikan agama Islam besar yang memiliki jenjang pendidikan yang cukup komplit. Dimulai dari tingkat TK, SD, MTS, MA dan SITE.
Ketua Yayasan Waqaf Ar-Risalah Arwin Al Ibrahim mengatakan, dari segi Pendidikan, kurikulum yang diterapkan masih mengaju kepada Kemenag serta dikombinasikan dengan metode sendiri dari Perguruan Islam Ar-Risalah.
“Kita memiliki moto membangun generasi penuh berkah yang berkarakter Qurani dan berprestasi. Layaknya perguruan Islam lainnya, kita memiliki target hafalan di tiap tingkatan. Untuk SMP kita menargetkan 5 juz, SMA 10 Juz sebagai syarat kelulusan mereka. Saat ini banyak yang melampaui bahkan hingga 30 juz dan kita berikan reward berupa beasiswa penuh,” katanya. Perguruan Islam Ar-Risalah juga sangat mementingka pendidikan karakter.
Untuk saat ini ada 1800 siswa SMP dan Aliyah. Lalu di tingkat SD ada sekiar 550 siswa dan TK sekitar 70 siswa dan STIE 60 orang. “Sedangkan untuk kiprah para lulusan sendiri sudah ada yang melanjutkan ke perguruan-perguruan tinggi yang ada di Indonesia serta ke Timur Tengah. Selain itu para lulusan juga sudah ada yang bekerja di berbagai bidang. Bahkan ada juga yang kembali untuk mengabdi ke perguruan,” ungkapnya.
Selain itu terkait dengan perkembangan zaman, Perguruan Islam Ar-Risalah menjamin tidak akan tertinggal dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Arwin menyebut, meski siswa dilarang menggunakan handphone selama pendidikan boarding, para siswa tidak akan tertinggal dalam basis teknologi digital dan sebagainya yang digunakan sekolah pada umumnya.
“Pada satu sisi, para siswa kita larang menggunakan handphone karena kita mengetahui efek samping dari perangkat digital tersebut. Meski demikian Ar-Risalah menyediakan digital serta internet support di laboratorim dan Pustaka. Bahkan kita juga sudah mulai mendigitalisasi pengelolaan kita,” ungkapnya.
Saat ini Ar-Risalah telah menggunakan aplikasi yang terintregasi melalui koperasi KSPPS Risalatuna yang dikelola oleh Yayasan. Sehingga para orangtua dan santri tidak perlu repot dengan persoalan keuangan.
“Melalui sistem yang sudah terintregasi, orangtua tidak perlu waswas untuk membayar SPP anak dan mengirim uang kepada siswa yang sedang berada di asrama. Cukup dengan aplikasi yang kami miliki dapat diatasi. Selain itu di Sumbar Perguruan Islam Ar-Risalah yang menjadi role model pertama penerapan aplikasi ini,” ucapnya.
Arwin mengatakan menjadi sebuah yayasan wakaf merupakan sebuah amanah harus dijaga sebaik mungkin oleh Yayasan Waqaf Ar-Risalah. Untuk itu ia mengatakan Perguruan Islam Ar-Risalah akan berusaha sebaik mungkin menjadi lembaga pendidikan yang dapat memberikan kesejahteraan pendidikan kepada masyarakat.
“Per tahun kita memiliki subsidi silang paling kurang Rp 1,2 miliar. Dari satu sisi ada orangtua yang membayar lebih yang kita tawarkan untuk disilangkan ke anak-anak yang kurang mampu untuk mendapatkan keringanan hingga digratiskan. Di sisi lain dari unit-unit usaha yang dikelola dengan sistem wakaf juga dapat untuk membantu serta berkontribusi untuk membantu masyarakat,” tutupnya. (Suyudi Adri Pratama) Editor : Novitri Selvia