Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ponpes Modern Diniyyah Pasie: Kurikulum Serupa Gontor, Terus Bertransformasi

Novitri Selvia • Rabu, 19 April 2023 | 10:15 WIB
Petugas kepolisian berjaga saat rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan arus kendaraan yang akan melewati Jalan Jenderal Sudirman,Pekanbaru, kemarin (27/4). Pengalihan arus ini membatasi gerak masyarakat pada penerapan PSBB di Kota Pekanbaru. Hal sama jug
Petugas kepolisian berjaga saat rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan arus kendaraan yang akan melewati Jalan Jenderal Sudirman,Pekanbaru, kemarin (27/4). Pengalihan arus ini membatasi gerak masyarakat pada penerapan PSBB di Kota Pekanbaru. Hal sama jug
Sempat mengalami krisis jumlah siswa pada era 1980 hingga 1990-an, Diniyyah Pasie yang kala itu masih berbentuk madrasah, mulai melakukan transformasi. Sejak tahun 1991/1992 dimulai model baru dari Madrasah Diniyyah Pasie menjadi Pondok Pesantren Modern Diniyah Pasie.

Perubahan ini tentu bukan hanya sekedar nama, perubahan ini juga mencakup pengelolaan, sistem dan metode belajar serta pembangunan fasilitas yang lebih baik. Pesantren yang terletak di Nagari Pasia Kecamatan Ampekangkek, Kabupaten Agam, ini dipimpin oleh Ustaz Nashran Nazir, M.Pd sebagai direktur dan Drs. H. Nawazir Mukhtar, Lc sebagai Pembina Yayasan Pengembangan Diniyyah. Pesantren ini hanya berjarak sekitar 5 KM dari pusat Kota Bukittinggi.

Sekretaris Ponpes Modern Diniyyah Pasie, Ustad Fery Anggara M.Pd.Kons menyebut, bicara terkait transformasi di Diniyyah Pasie menjelaskan, melihat krisis jumlah siswa pada era 1990-an itu, sejumlah alumni kembali ke Diniyah Pasie dengan ide transformasi. Tokohnya di antaranya Muchtiar Muchtar dan Mahyudin St.

Tumenggung serta sejumlah alumni dan pihak Diniyah sendiri. Pokok pikirannya waktu itu kalau tidak bertransformasi, tetap seperti sebelumnya maka Diniyyah tidak akan berkembang. Dari pikiran inilah kemudian dilalukan tranformasi besar-besaran di Diniyyah Pasie, kemudian terus berkembang sampai hari ini.

“Kita terus melakukan perubahan, mulai dari pengelolaan hingga penerapan sistem pembelajaran. Kalau pengelolaan dijalankan oleh Yayasan Pengembangan Diniyyah dan untuk sistem pendidikan bertransformasi menjadi Pondok Pesantren Modern dengan menerapkan KMI (Kulliyatul Mualimin Islamiyah). Perubahan ini juga diiringi dengan transformasi sarana dan prasarana,” katanya.

Terkhusus untuk kurikulum KMI, merupakan kurikulum yang sama dengan Ponpes Gontor. “KMI merupakan kurikulum yang sama seperti Ponpes Gontor. Ini kini jadi sistem pelajaran kita yang terafiliasi dengan Ponpes Gontor. Jadi pendidikan kita sesuai dengan KMI adalah pendidikan 6 tahun, dimulai dari kelas I hingga kelas VI,” sambunya.

Selain kurikulum yang terafiliasi dengan Gontor, saat ini Diniyyah Pasie juga menjalankan kurikulum yang menyesuaikan dengan pemerintah, dan diteruskan melalui Kementerian Agama.

“Selain berafiliasi dengan Gontor kita juga berafiliasi dengan Kemenag untuk kurikulum. Jadi kita dalam konteks Kementrian Agama merupakan penyelenggara pendidikan setara dengan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Untuk tahun depan kita akan melaksanakan kurikulum merdeka, sesuai dengan apa yang diarahkan oleh pemerintah. Jadi kita menerapkan dua kurikulum secara bersamaan,” ujarnya.

Selain bertransformasi di bidang pengelolaan dan kurikulum, Diniah Pasia juga melakukan perubahan di sektor sarana dan prasarana. “Termasuk bertransformasi di bidang sarana dan prasarana untuk mengiringi perubahan pengelolaan dan kurikulum. Saat ini, terkhusus tiga tahun terakhir, kita sedang mengembangkan kampus empat. Kita punya empat kampus sekarang. Selain ruang belajar tentunya, kita juga memiliki asrama untuk putra dan putri. Juga sarana lain seperti perpustakaan, masjid, lapangan olahraga, labor dan sarana lain untuk menunjang proses belajar mengajar,” ujarnya.

Pondok pesantren Modern Diniyyah Pasie selain menjalankan kedua kurikulum juga memiliki sejumlah ekstrakulikuler. “Kita mempunyai sejumlah program ekstrakurikuler, di antaranya Mukhayyam Qur’an, Kepramukaan, Pendidikan Komputer, Pidato/Muhadharah, Arabic/English Club, Olahraga, Seni Bela Diri, Kesenian. Selain itu juga ada Pelatihan Jurnalistik, Palang Merah Remaja, Drumband, Nasyid, Tata Boga, Menjahit dan Tibbun Nabawi,” sebutnya.

Selain itu juga punya program takhasus, yakni program Baitul Quran. Program ini merupakan takhasus hafalan Al Quran 30 juz. Berbicara terkait jumlah santri dan pengajar di Ponpes Modern Diniyyah Pasia saat ini ia mengatakan, perubahan yang telah dimulai sejak tiga dekade sebelumnya itu, telah berdampak banyak bagi Diniyyah, termasuk juga jumlah santri. “Jumlah santri kita terus meningkat, terakhir jumlah santri kita mencapai 988 orang, dengan jumlah pengajar sebanyak 127 ustaz dan ustazah,” ujarnya

Sejarah Diniyyah Pasie

Diniyah Pasie, sebenarnya sudah berdiri sejak 1928, tepatnya 11 Oktober 1928. Sudah melalui beragam dinamika kita. Dua penjajahan dan masa kemerdekaan Indonesia, Diniyyah Pasie terus berkembang.

“Pesantren ini didirikan oleh Buya H. Muhammad Isa bersama teman-temannya, ada H. Sulaiman Dt. Tumanggung, J. Tuanku Tunaro dan Saleh Mangkuto Sutan. Gedung yang pertama didikan itu sekarang yang menjadi kampus I. Untuk bangunan kampus I sekarang merupakan warisan dari para pendiri yang dibangun pada 1928 dan masih orisinal. Pada tahun itu juga operasional sekolah sudah dimulai dengan sistem klasikal. Sejak berdiri hingga tahun 1990 kita terus menjalankan Diniyyah Pasia sebagai madrasah, “ ujarnya.

Tapi yang populer kala itu bahwa Diniyyah Pasie merupakan sekolah dengan biaya sekolah yang murah dan terjangkau. Untuk guru-gurunya di kala itu banyak yang masih berjualan dan bertani. Semisal pagi mereka mengajar dan nantinya berjualan atau bertani, atau mereka berjualan dan bertani di hari-hari tertentu. Tentunya ini sebagai upaya memastikan agar biaya di sini tidak mahal.

Berbicara terkait kontribusi Diniyyah Pasie di masa penjajahan tersebut, Ustad Fery menyatakan bahwa fokus Diniyah Pasie untuk memastikan pendidikan bagi masyarakat. “Kita di masa penjajahan kontribusi kita ialah untuk memastikan bahwa proses pendidikan berjalan dengan baik. Nanti kader-kader itulah yang berjuang di pergerakan mendapatkan kemerdekaan,” ujarnya.

Berdiri di atas dan untuk semua golongan

Diniyyah Pasie tidak memiliki kecendrungan Mazhab, ataupun terkait dengan ormas-ormas tertentu.” Motto pertama kita ialah Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan, dan yang kedua Berakhlak mulia, Berbadan sehat, Berpengetahuan luas, Berpikiran bebas dan Bertanggung jawab,” katanya.

“Kalau Diniyyah sesuai dengan motto itu, jadi kalau dibilang terafiliasi dengan ormas, gerakan politik kita tidak ada. Kalau dibilang kita moderat atau konservatif, kita tidak melekat ke sana. Kita itu ya modelnya berdiri sendiri di atas dan untuk semua golongan,” sambungnya.

“Kalau tenaga pengajar kita ada yang Muhammadiyah atau Tarbiyah juga ada. Tidak pernah terjadi kalau ada guru yang terafiliasi dengan ormas atau organisasi lain dilarang atau sebagainya,” ucapnya.

“Motto ini juga ada di Ponpes Gontor dan kita juga memakai motto yang sama,” tutupnya. (Rian Afdol) Editor : Novitri Selvia
#Ustad Fery Anggara M.Pd.Kons #Pondok Pesantren Modern Diniyah Pasie #Ponpes Modern Diniyyah Pasie #Ponpes Gontor