GANDA CIPTA—Padang
AJANG ini cukup bergengsi di tanah air. Banyak menghasilkan penulis-penulis terkenal yang karya-karyanya bagus. Beberapa penulis dari Sumbar yang pernah menang antara lain Wisran Hadi, Darman Moenir, Gus Tf Sakai, dan Fariq Alfaruqi.
Tahun ini ada empat penulis asal Sumbar yang diumumkan jadi pemenang pada Malam Anugerah Sayembara Novel dan Manuskrip Puisi DKJ 2023 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (22/7). Hebatnya, dua penulis menjadi pemenang pertama dan kedua pada kategori novel dan hal yang sama juga didapatkan pada manuskrip puisi.
Yoga Zen lewat judul novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali terpilih jadi pemenang pertama. Lalu pemenang keduanya Hasbunallah Haris dengan karya Leiden (2020-1920). Pada manuskrip puisi pemenang pertama diraih Muhaimin Nurrizqy dengan judul Selamat Malam, Kawan!. Heru Joni Putra dengan karya Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahun jadi pemenang keduanya.
Dari sisi umur, para pemenang tersebut masih berusia muda. Meskipun demikian, ada diantara mereka yang karya-karya sebelumnya telah mendapat apresiasi yang bagus dan luas. Seperti Heru Joni Putra yang pernah meraih Buku Sastra Terbaik tahun 2017 versi Majalah Tempo lewat buku puisi berjudul Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa. Satu penghargaan yang juga cukup bergengsi di tanah air.
Bagi Gus Tf Sakai, yang paling melegakannya dari kemenangan para penulis asal Sumbar di sayembara tersebut adalah tidak mandeknya regenerasi sastrawan di Sumbar.
”Selain bangga, ada rasa terharu. Di tengah derasnya arus kedangkalan yang dibawa oleh kemajuan teknologi yang membuat orang seperti balik surut ke tradisi lisan, kawan-kawan muda tentu berjuang lebih keras dibanding generasi sebelumnya,” tutur sastrawan Indonesia yang berdomisili di Kota Payakumbuh ini kepada Padang Ekspres beberapa waktu lalu.
Regenerasi yang tak putus itu, kata penerima SEA Write Award 2004 ini, karena masih hidupnya tradisi intelektual. Para penulis-penulis muda tetap rajin berdiskusi, mengasah pikirannya dengan kelompok-kelompok lain.
”Kita butuh banyak orang, banyak pikiran dari banyak kelompok, untuk menguji dan memperdalam gagasan yang mudah terkecoh oleh melimpahnya informasi yang seolah-olah tampak keren, padahal itu semua hanya busa-busa bodong; pseudo-informasi,” sebut Gus Tf Sakai.
Pendapat yang tak jauh berbeda diungkapkan Damhuri Muhammad. Katanya, iklim kekaryaan makin subur di Sumbar. Generasi penulis bermunculan karena tradisi kepengarangan yang sudah dibangun oleh generasi sebelumnya. Jadi itu membuktikan mata rantai tradisi kepengarangan tidak pernah putus di Sumbar.
Suburnya iklim kekaryaan tersebut karena para penulis-penulis saat ini tidak lagi berorientasi lokal. Tapi nasional bahkan global. Dengan jangkauan media sosial yang luas, terang Damhuri, kini dengan mudah bisa mengup-date berbagai kabar dan kegiatan kesusastraan yang ada di Indonesia.
”Jadi mereka sudah merasa menjadi bagian dari warga nasional. Bahkan warga internasional,” papar penulis Indonesia yang juga berasal dari Sumbar ini.
Tokoh Seni Pilihan Tempo 2019 Deddy Arsya menilai, infrastruktur pendukung yang membangun iklim dunia sastra di Sumbar lumayan bagus. Untuk Sumatera saja mungkin yang paling bagus untuk infrastuktur kepengarangan. Maksudnya ada banyak tempat untuk berkumpul, ada banyak ruang yang tersedia, dan ada banyak interaksi lintas pekerja kreatif. "Dapat dikatakan cukup ramai dan meriah. Tumbuh pesat dan bergairah,” ujarnya.
Terkait ruang yang tersedia di media massa, dia menyebut, kini media lokal jauh lebih banyak walau yang cetak semakin sempit. Tetapi media daring cukup banyak dan lapang memberi ruang.
”Dan pula, tidak perlu pula bergantung pada media lokal sekarang. Sebab media sudah tidak begitu terpartisi lokal atau nasional,” jelas penulis buku kumpulan puisi Khotbah Si Bisu itu.
Terpisah, akademisi sastra dan budaya dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Sudarmoko menyebut, penulis asal Sumbar hari ini tetap melakukan eksperimentasi estetik dan puitik dalam karya-karya mereka.
Pencarian yang tiada henti dalam arus dan perkembangan sastra Indonesia. Hal ini tidaklah mudah karena para penulis tentu telah mengolah dan mencari capaian dan gaya yang baru, segar, dan memberi kejutan.
”Sebagian besar saya belum baca karya pemenang ini, karena memang berupa manuskrip. Tetapi salah satu yang khas dari para penulis kita (penulis asal Sumbar, red) adalah mengolah dan merepresentasikan estetika yang ada di sekitar, dalam pengertian budaya, menjadi bentuk yang baru. Apakah menerjemahkan, mempertanyakan, atau menafsirkan dengan sumber-sumber yang mereka miliki,” jelasnya.
Dia pun melihat, ada semangat dan etos mencipta serta mencari sumber-sumber baru, menyajikan karya dalam bentuk baru, dan memberikan respons terhadap karya-karya yang pernah dihasilkan para penulis sebelumnya.
”Para penulis ini, beberapa yang saya tahu, memiliki keyakinan pada proses pencarian itu. Ini tantangan yang menjadi spirit untuk terus mencipta. Mereka lahir dari lingkungan yang besar dalam kesusastraan. Namun mereka juga ingin mengisi lingkungan itu dengan karya-karya mereka,” tukasnya. (***) Editor : Admin Padek