Laporan, JUFRI JAO, Padang
Warga Kampung Kandangkabuo, RT 5/ RW 3 Kelurahan Korong Gadang, Kuranji ini, hanya bisa terbaring di sebuah tikar lusuh di ruang tamu kakak ibunya.
Ruang tamu bercat hijau daun berukuran 4x4 itu menjadi salah satu halaman bermain gadis ini yang dipanggil Puput itu. Hari-harinya dihabiskan hanya tergolek tanpa daya. Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali mengandalkan pertolongan orang.
Penderitaan gadis ini tidak sampai di sana. Orangtua selama ini merawat dan menyayanginya meninggal ketika usianya 16 tahun. Ibunya meninggal usai divonis mengidap penyakit ginjal. Tuhan memanggilnya usai beberapa kali cuci darah.
Sejak itulah, dia tinggal bersama ayahnya Ekman, 52 dan adiknya Zahra, 16. Padahal, kondisinya butuh belaian seorang ibu. Seperti menukar pempes, makan, mandi dan kebutuhan wanita lainnya. Beruntung, ia mempunyai keluarga yang peduli dengannya.
“Ini sebenarnya bukan rumah Puput, rumahnya di sebelah sana. Tapi karena orangtua Puput sudah meninggal, saya yang urus, karena ibu Puput itu adik saya,” ujar Asmanidar, 62, sambil menyeka keringatnya.
Bapak Puput seorang penjual kacang rebus, ia berkeliling kampung menjajakan dagangannya. “Kalau bapaknya berjualan, Puput dititip di sini. Dia digendong ayahnya ke sini dari rumahnya,” ujar Asmanidar.
Mujurnya, keluarga Puput adalah salah seorang penerima Program Keluarga Harapan (PKH) yang kini penopang kebutuhan harian. Sedangkan hasil berjualan kacang rebus tidak bisa diharapkan.
“Paling setiap hari hanya bawa uang Rp 50-60 ribu ke rumah. Sementara kebutuhan lain cukup banyak, ya habis bagaimana lagi, dicukup-cukupan saja,” ujarnya.
Terkadang untuk modal berjualan, Ekman pinjam sana-sini. Setelah dana PKH diterima utang tadi baru dibayar. “Ya, kalau diharapkan dari hasil berjualan kacang rebus tidak cukup. Apalagi, adik Puput juga butuh biaya,” ungkap Asmanidar sedih.
Sewaktu Putri lahir, menurut Asmanidar, dia tidak menangis seperti anak-anak lain. Ia hanya diam saja. Waktu itu, dokter yang merawat menganjurkan Puput dibawa ke dokter spesialis. Tapi, karena biaya tidak ada, Puput urung dibawa. “Kami tidak menyangka juga jadi begini, mungkin sudah qadarullah,” ujar Asmanidar pasrah.
Usai ibu gadis malang itu meninggal, otomatis perawatan Puput langsung ditangani Asmanidar. Kini, gadis itu hanya bisa pasrah bertahan tanpa ada penanganan medis. Dulu ketika ibunya masih hidup, pernah dibawa terapi. Bahkan, ke orang pintar. Tapi, sejak kepergian ibunya tidak ada lagi.
“Melihat kondisinya sekarang, kami butuh tempat tidur engkol seperti di rumah sakit (RS), jadi kalau makan bisa dinaikan kepalanya, bisa didudukkan. Begitu juga kalau mau menukar pempes, kasurnya bisa diturunkan,” jelas Asmanidar.
Asmanidar berharap, ada dermawan yang bisa membantu tempat tidur engkol seperti di rumah sakit. Sehingga untuk keperluan sehari-hari, bisa lebih ringan. Seperti makan, minum, mandi dan tukar pempes.
“Mudah-mudahan lewat berita ini, ada dermawan yang bisa membantu, terutama untuk tempat tidur engkol atau ranjang rumah sakit. Kemudian, pempesnya,” ujar Asmanidar sambil mengucapkan terima kasih. (*) Editor : Admin Padek