Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perajin Lapiak Pandan Kecamatan Koto VII: Terancam Hilang, Bertahan di Era Modernisasi

Novitri Selvia • Kamis, 23 November 2023 | 13:29 WIB
TEKUN: Yuliniwati sedang menyelesaikan proses pembuatan lapiak pandan yang dikerjakan secara manual.(YULICEF ANTONI/PADEK)
TEKUN: Yuliniwati sedang menyelesaikan proses pembuatan lapiak pandan yang dikerjakan secara manual.(YULICEF ANTONI/PADEK)
Kabupaten Sijunjung selain dikenal dengan talempong ungan dan kerajinan songket (tenun) yang juga berpusat di Nagari Unggan, Kecamatan Sumpurkudus. Ternyata daerah berjuluk Negeri Lansek Manih ini menjadi daerah penghasil lapiak pandan (tikar anyaman daun pandan) yang banyak beredar ke berbagai pelosok daerah se-Sumatera Barat (Sumbar). Namun kini jumlah produksinya terus menurun akibat kemajuan zaman.

Lapiak pandan merupakan produk khas kerajinan masyarakat, terbuat dari daun pandan berduri dengan proses pengerjaan dilakukan secara tradisional/manual oleh kaum ibu-ibu. Salah-satunya berpusat di Nagari Padanglaweh Selatan, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung.

Industri lapiak khas Sijunjung ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan puluhan tahun silam.  Dengan pemasaran tercatat  menembus luar pulau Sumatrra, bahkan sampai ke negeri Jiran, Malaysia.

Namun siring waktu, produk kerajinan lapiak (tikar) anyaman dari bahan dasar daun pandan tersebut kian tergerus dimakan zaman (kemajuan teknologi), hingga kini terancam hilang. Akibatnya yang masih ada bertahan sekarang dapat dihitung dengan jari, dan jumlah produksi makin sedikit.

Ancaman terberat yang dihadapi sekarang, yakni menurunnya daya minat konsumen. Dimana lapiak pandan terbuat dari bahan dasar daun pandan yang tumbuh di alam, terutama banyak dijumpai di area rawa-rawa, atau tepi sungai.

Sebelum dianyam secara tradisional oleh para ibu-ibu perajin, terlebih dahulu daun pandan tersebut dibelah-belah memanjang dengan ukuran menyesuaikan, kemudian direbus, dan dikeringkan. Tanaman pandan duri biasanya memiliki ukuran daun dengan diameter panjang mencapai satu-dua meter, di bagian tepi dan tangah daun terdapat duri-duri tajam.

Yuliniwati, 61, seorang pengepul sekaligus pengrajin lapiak pandan di Nagari Padanglaweh Selatan, Kecamatan Koto VI, mengungkapkan, disela aktivitas mengurus keluarga mayoritas kaum ibu-ibu di daerahnya aktif membuat kerajinan lapiak pandan sebagai penghasilan tambahan.

“Tanaman pandan duri banyak tumbuh di sini, sehingga untuk bahan baku pembuatannya mudah dicari,” ujarnya. Pembuatan lapiak pandan dilakukan secara tradisional, dalam proses penganyamannya yakni hanya pakai tangan, mulai dari tahap awal hingga akhir.

Diawali dengan mengumpulkan pandan duri yang memiliki panjang daun sesuai dengan kbutuhan/ukuran lapiak (tikar) yang hendak dibuat. Setelah terkumpul dilanjutkan dengan membuang bagian duri-duri pada daun pandan tersebut.

Daun pandan yang sudah dibuang durinya, seterusnya dibagi menjadi dua bagian. Kemudian daun tersebut dijemur sampai kering, hingga warnanya yang semula hijau berubah menjadi coklat. Dalam menjemur daun, juga bergantung dengan cuaca. Jika cuaca relatif mendung daun tidak akan kering, sehingga dibutuhkan lebih lama dalam proses penjemurannya.

Disebutkannya pula, meski demikian pembuatan lapiak pandan juga bisa langsung dianyam sebelum terlebih dahulu dijemur. Tetapi, hasilnya secara kualitas memang kurang bagus.
Dijlaskannya lebih lanjut, ketika daun pandan dirasa sudah cukup kering, daun tersebut kemudian dipress manual menggunakan kayu dengan cara ditarik.

Sebelum akhirnya masuk ke proses menganyam sampai ukuran (bidang) ideal yang diinginkan. Untuk menyelesaikan setiap satu helai lapiak pandan membutuhkan waktu satu hari penuh.  Harga jual pada tauke tiap satu lembarnya hanya berkisar Rp 20.000. Nantinya harga eceran dipasaran berkisar Rp 22.500 per helai.

“Harganya cukup murah, yakni haya Rp 20.000 per helai. Dalam sehari hanya bisa selesai dibuat satu lembar pula,” imbuhnya.

Murahnya harga pasar lapiak pandan disebabkan karena semakin kuranga minat masyarakat. Umumnya masyarakat lebih memilih produk tikar berbahan plastik, busa,  serta lain sebagainya. Baik untuk sebagai alas lantai dalam rumah, atau lain sebagainya. (YULICEF ANTJONY— Sijunjung) Editor : Novitri Selvia
#Tikar #Perajin Songket #Nagari Unggan #Lapiak Pandan #Sumpurkudus #Negeri Lansek Manih #Yuliniwati