NAMANYA Masjid As Sa’adah. Sebenarnya banyak yang bisa diceritakan dari bangunan yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya tersebut. Mulai dari ornamen arsitekturnya, tukang, hingga sejarah yang melatarbelakanginya.
Nah, dari sisi desain lah, bisa dilihat keterbukaan orang Minangkabau terhadap kebudayaan-kebudayaan dari dunia luar. Ada perbauran ornamen masa kolonial Belanda, Tiongkok, Minang, dan Islam.
Mulai dibangun 1 Januari 1910, penyelesaiannya memakan waktu sekitar tujuh tahun. Nuansa Belanda terasa kental pada bagian dinding luarnya. Sedangkan oranamen Tiongkok dan Minang terlihat jelas pada struktru atapnya. Semuanya dipadukan dengan nuansa Islami.
Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri megah dan dimanfaatkan untuk shalat berjamaah lima waktu dan berbagai kegiatan keagamaan. Termasuk pada bulan suci Ramadhan tahun ini.
“Informasi yang saya terima dari orang tua saya dan pendahulu lainnya, masjid ini mulai dipergunakan untuk beribadah 1 Januari 1917. Uniknya, semen yang digunakan adalah Semen Padang yang pabriknya juga baru berdiri masa itu,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat Nagari Gurun A Jufri kepada Padang Ekspres, kemarin.
Kala itu Masjid As Sa’adah dibangun atas sumbangan masyarakat setempat dan Datuak Paduko Intan. Dia salah satu orang kaya di kampung tersebut.
Yang juga unik dari masjid yang telah berusia 112 tahun ini adalah kemiripan arsitekturnya dengan masjid Raya Nagari Rao-rao, Kecamatan Sungai Tarab. Hal tersebut tak lepas dari tukang bangunan dari kedua masjid tersebut merupakan orang yang sama.
Masjid yang telah dinyatakan sebagai cagar budaya ini berjarak sekitar 5 km dari Batusangkar. Akses jalan yang cukup lebar membuat masjid ini mudah untuk dijangkau.
Jufri memastikan, beberapa bagian masjid masih berupa bangunan asli semenjak awal dibangun dahulu, karena sudah termasuk salah satu cagar budaya di Tanahdatar.
Beberapa kali ada masyarakat perantau ataupun masyarakat setempat yang berkeinginan masjid ini dipugar atau dibangun baru, namun tidak jadi. “Walaupun begitu, masjid ini tetap menjadi kebanggaan kami masyarakat Gurun ini,” ujarnya.
Selain perlengkapan untuk shalat dan ibadah lainnya, di masjid tersebut juga terdapat dua lemari kaca yang berisi kelengkapan untuk keperluan penyelenggaraan jenazah. “Dalam lemari itu ada kapas, kain kafan sampai wangi-wangian yang bisa dipakai masyarakat,” kata Jufri.
Bangunan itu sudah tercatat pada Balai Pelestarian Kebudayaan sebagai cagar budaya. Dari bagian fisiknya, atap masjid berupa atap tumpang bersusun lima yang melambangkan lima suku, yakni suku Bendang, Koto Anti, Koto, Piliang, Patapa, dan Koto.
Pada bagian dalam masjid terdapat 4 tiang menggunakan bambu sebagai penyangga. Pintu masuk masjid sebanyak 2 buah dan jendela 6 buah. Lantai dalam Masjid As Sa’adah masih berupa lantai semen biasa. Sedangkan lantai bagian luar teras sudah diganti dengan lantai keramik berwarna putih.
Pada bagian samping kiri masjid terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat mengambil air wudu. Bagian menara masjid memakai gonjong yang berjumlah empat buah. Lantainya terbuat dari tegel dengan motif flora khas kolonial Belanda. (NANDA ANGGARA, Tanahdatar)
Editor : Novitri Selvia