Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masjid Hidayatullah Ampangpulai Dekat dengan Mandeh, Tanpa Mesin Pendingin Terasa Sejuk di Daerah Panas

Novitri Selvia • Jumat, 22 Maret 2024 | 10:05 WIB

DESAIN UNIK: Masjid Hidayatullah di Ampangpulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan berada di dekat kawasan wisata Mandeh, baru-baru ini.(SHYNTIA APRIZANI/PADEK)
DESAIN UNIK: Masjid Hidayatullah di Ampangpulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan berada di dekat kawasan wisata Mandeh, baru-baru ini.(SHYNTIA APRIZANI/PADEK)
Desainnya seperti anjungan kapal. Ini sejalan dengan lokasinya yang dekat dengan objek wisata bahari Mandeh di Pesisir Selatan. Ada juga rasa gonjong rumah gadang. Seperti apa Masjid Hidayatullah?

SUMATERA Barat memiliki beragam kekayaan. Salah satunya destinasi wisata religi dengan hadirnya berbagai masjid beragam desain. Mulai dari gaya klasik, tradisional, juga modern ditambah. 
Salah satu masjid yang jadi perhatian terletak di Jalan Raya Ampangpulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Yakni Masjid Hidayatullah.

Masjid ini berada dekat dengan daerah wisata Mandeh. Lokasi strategis untuk masyarakat yang hendak berwisata sekaligus menikmati suasana Ramadhan dengan wisata religius. 

Bentuknya yang unik. Gabungan gaya modern dan tradisional. Salah seorang warga Pesisir Selatan Dwi Candra Putra, 27, menilai, masjid ini sangat mencerminkan wilayah Pesisir Pelatan yang berada di pinggir pantai barat Sumatera. 

Walau berada pada daerah berhawa panas, masjid tersebut terasa sejuk. Tapi tanpa menggunakan mesin pendingin. “Ini yang juga membuatnya unik. Hanya mengandalkan udara dari luar karena ada lobang lobang udara,” katanya kepada Padang Ekspres Senin (18/3) lalu.

Namun dia mengusulkan, sebaiknya ada beberapa hal yang mesti ditambahkan di sekitar masjid. Seperti adanya taman dan juga pohon-pohon. Sehingga menambah kesejukan dan keindahan mata dalam memandang.

Ahmad Dayat Paraya, warga Pesisir Selatan lainnya mengatakan karakter dari bangunan masjid dan juga suasana sangat mendukung dan strategis sehingga menjadi pilihan bagi masyarakat untuk beribadah apabila mengunjungi kawasan wisata Mandeh.

“Memiliki bangunan yang sangat mewah dengan kombinasi warna putih dan emas yang menambah megahnya masjid ini. Kemudian, kita yang beribadah juga semakin tenang melihat jejeran ukiran kalimat-kalimat tauhid yang menjadi hiasan pada dinding dalam masjid,” tuturnya. 

Renggo Pernanda yang merupakan arsitek dari masjid ini mengungkapkan, masjid tersebut diberi Hidayatullah karena usulan dari almarhum Rusniman Rajo Basa semasa hidupnya. Masjid ini dibangun berlandaskan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah dengan menggabungkan gaya tradisional dengan modern.  

“Desainnya mencerminkan hubungan manusia dengan Allah seperti desain bangunan dengan garis vertikal meruncing ke atas yang mencerminkan hubungan manusia dengan penciptanya sedangkan di bagian masjid ini juga terdapat garis horizontal yang mencerminkan hubungan manusia dengan sesamanya,” terangnya.

Masjid ini sengaja diciptakan bergonjong atau seperti Gonjong rumah Gadang yang tentunya mencerminkan wilayah Minangkabau di mana setiap bangunannya bercirikan genjang tersebut.

“Kita harapkan dengan desain yang menarik masyarakat menjadi lebih senang untuk beribadah ke masjid dan diharapkan menjadi identitas baru sehingga dapat dirawat dan dijaga oleh masyarakat dengan sebaik-baiknya,” tuturnya lagi. 

Lemudian, pada bagian dinding-dinding masjid ini tercermin asmaulhusna yang 99. Yang dibubuhkan melalui kaligrafi kaligrafi yang tersusun rapi pada Bahagian dinding. Dinding ini juga sengaja tidak diberi penutup sehingga angin laut lebih mudah untuk masuk ke dalam sehingga menciptakan kesan sejuk. 

“Dinding Masjid Hidayatullah dirancang menggunakan prinsip perforated wall, memanfaatkan sirkulasi angin laut yang berhembus pada siang hari melawati site Masjid. Kemudian, kita berikan aksen lengkungan yang mencerminkan ukiran itiak pulang patang,” jelas dia. 

Kemudian, Pada arah kiblat kita juga akan melihat lafaz ashaduallailahaillallah wa ashaduanna Muhammadarrasulullah. Sehingga masyarakat yang beribadah pikirannya tak pernah lepas dari Allah. 

“40 persen dinding masjid merupakan lobang-lobang angin yang dilalui udara bergerak sehingga Masjid Hidayatullah diperkirakan dapat berfungsi normal tanpa menggunakan AC,” ujar Renggo.

Semestinya, kata dia, arsitektur Minangkabau tidak dianggap final. Generasi saat ini mestinya mampu melanjutkan eksplorasi arsitektur Minangkabau yang mampu beradaptasi dengan berbagai fungsi baru pada masa modern tanpa meninggalkan karakteristik dan identitas bangunan di ranah Minang.

“Eksplorasi desain Masjid Hidayatullah berupaya menjangkau masa lalu dan menghubungkannya dengan masa saat ini sehingga diharapkan tercipta benang merah perjalanan Arsitektur Minangkabau dari waktu ke waktu,” tukasnya. (SHYNTIA APRIZANI---Pessel) 

Editor : Novitri Selvia
#mesjid unik #Masjid Hidayatullah Ampangpulai #Wisata Bahari Mandeh #Kecamatan Koto XI Tarusan