UKURAN bangunannya 26 meter x 25 meter persegi. Berdiri di atas tanah seluas 60 meter x 100 meter per segi. Berdirinya Masjid Miftahul Jannah Sipora Jaya tidak terlepas dari program transmigrasi pertama di Kepulauan Mentawai.
Kala itu, masih menjadi bagian dari Kabupaten Padangpariman pada tahun 1987. Saat itu, Desa Sipora Jaya masih dikenal dengan sebutan wilayah Satuan Pemukiman (SP) 1. Kemudian, disusul transmigrasi SP 2 di Desa Sidomakmur dan SP 3 di Desa Bukit Pamewa sekarang.
Meski, dikenal sebagai pemukiman transmigrasi pertama di Kepulauan Mentawai, Masjid Miftahul Jannah dengan konsep masjid kayu dan berpanggung kala itu masih sulit diakses warga. Sebab masih banyak hutan dan rerumputan yang sulit dilalui.
Di titik-titik pemukiman tertentu, pemerintah lewat program transmigrasi juga telah membangun sejumlah mushalla-mushalla kecil. Alhasil, keberadaannya kerap difungsikan hanya untuk pelaksanaan Shalat Jumat dan peringatan hari besar saja.
Sehingga, pendidikan belajar membaca Al Quran bagi anak-anak dan remaja yang didominasi warga asal Pulau Jawa ini, lewat guru-guru agama yang ada di mushalla-mushalla tersebut. Barulah, pada tahun 1993, renovasi Nasjid Miftahul Jannah pertama kali dilaksnaakan, sehingga menjadi bangunan permanen.
Namun, luas masjid sendiri, hampir tidak jauh berbeda dengan ukuran semula. Bedanya, pada penambahan teras saja. Seiring berjalannya waktu dan Mentawai memisahkan diri dari daerah induknya, Kabupaten Padangpariaman, pelan-pelan, baru mendapat perhatian.
Selain memang, telah terbukanya akses, juga ditambah lagi, dengan adanya kepedulian guru-guru dan PNS yang mengabdi di Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan memakmurkan masjid dan ikut membenahi masjid. Renovasi Masjid Miftahul Jannah kedua menjadi ukuran seperti saat sekarang.
Mulai dilaksanakan pada 25 Desember 2017 silam. Pembangunannya tuntas pada 18 April 2023 atau memakan waktu lebih kurang enam tahun. Selain dikenal sebagai salah satu masjid termewah di Kepulauan Mentawai, Miftahul Jannah juga saat ini sangat nyaman untuk melaksanakan ibadah, karena dilengkapi fasilitas ruangan berupa air conditioner (AC) dan ruangan berwuduk yang cukup luas.
Pada bagian sebelah kanan Masjid juga dibangun dua ruangan Tempat Pendidikan Anak-Anak (TPA). Setiap Subuh sebelum Ramadhan aktif melaksanakan kegiatan didikan subuh bagi anak-anak TPA. Lalu, pada Ramadhan tahun ini, kegiatan anak-anak TPA juga aktif mengisi kegiatan sebelum pelaksanakan shalat tarawih.
Kapasitas Masjid Miftahul Jannah sendiri, bisa menampung seluruh warga muslim yang ada di desa Sipora Jaya. Bahkan, untuk peringatan hari besar seperti Shalat Id, masjid masih bisa menampung seluruh jamaah. Untuk mimbar masjid sendiri, berasal dari kayu yang diwarnai seperti warna emas dan dihiasi ukiran serta kaligrafi.
Untuk pelaksanaan Shalat Jumat, Masjid Miftahul Jannah menerapkan dua kali azan. Azan pertama untuk menyuruh jamaah untuk segera bersiap dan hadir ke masjid, azan kedua untuk memulai rangkaian pelaksanaan ibadah. Sedangkan, untuk pelaksanaan Tarawih menerapkan shalat sebanyak 8 rakat dan witir 3 dengan menerapkan metode shalat dua rakaat salam.
Supeno, 55, pengurus Masjid Miftahul Jannah periode 2002-2023 yang ditemui di kediamanya Minggu (24/3) malam mengatakan, perjuangan pembangunan Masjid Mitahul Jannah, tidak terlepas dari peran dan dukungan kaum muslimin dan muslimat di Sumatera Barat.
Renovasi ke dua Miftahul Jannah menelan anggaran yang cukup besar mencapai Rp 2 Miliar lebih. Selain sumbangan kaum muslimin dan muslimat, juga terdapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang diserahkan Wakil Gubernur Sumatera Bara t Audy Joinaldy pada April 2022.
Di samping itu, salah seorang ulama Sumatera Barat yang terus mendorong percepatan pembangunan Masjid Miftahul Jannah sendiri, Buya Masoed Abidin. Lewat tangan dingin beliau, berbagai uluran bantuan dan infak terus mengalir.
“Buya merupakan salah satu tokoh yang berperan menjembatani sumbangan infak dan sedekah untuk pembangunan Masjid Miftahul Jannah. Semoga Allah SWT merahmati beliau dan seluruh keluarga beliau serta seluruh kaum muslimin dan muslimat yang telah peduli membantu pembangunan masjid Miftahul Jannah. Semoga Allah mengganti sedekah dan infak meraka dengan balasan Surga Firdaus. Buya juga berpesan, jadikan masjid ini sebagai masjid umat,” ungkapnya.
Pengurus Masjid Miftahul Jannah Amir mengatakan, meski perluasan masjid sudah tuntas. Namun, penataan halaman masjid masih perlu pembenahan. Dia mengatakan, insya Allah, tahun ini Masjid Miftahul Jannah mendapat bantuan dari Pemkab Mentawai. Rencananya, bantuan tersebut, untuk penataan halaman Masjid.
“Saat ini, halaman masjid kita masih dengan kondisi tanah. Kita pengurus berencana melakukan penataan halaman dan juga penghijauan di sekitar halaman masjid. Sekarang, untuk halaman masjid kita masih terkesan gersang, karena minim tanaman atau pepohonan pelindung. Mudah-mudahan, rencana tersebut, bisa berjalan dengan lancar,” pungkasnya. (ARIF RAHMAD DAUT---Mentawai)
Editor : Novitri Selvia