Kisah pilu Ratna bermula saat ia bersama suami, anak, dan ibunya berada di rumah mereka di kawasan Sangkua, Kelurahan Silaing Bawah, Padangpanjang Barat, ketika hujan deras melanda.
Mendengar kabar meluapnya air sungai akibat hujan deras, Ratna berusaha menyelamatkan diri.
Namun karena ada barang penting yang masih tertinggal di dalam rumah, Ratna kembali untuk menyelamatkan barang tersebut.
Di saat itulah, air sungai dengan cepat meluap dan Ratna terjebak di dalam rumah. Ia mencoba menyelematkan diri dengan naik ke atas meja.
Suaminya yang masih berada di dalam rumah yang tengah berupaya menyelamatkan anak dan mertuanya, sempat memegangi baju sang istri. Tapi, arus deras banjir bandang memisahkan mereka. Ratna pun hanyut terbawa arus.
Setelah itu, Tim SAR Gabungan melakukan upaya pencarian. Jasad Ratna ditemukan oleh seorang nelayan Minggu (12/5/2024) di laut Muaro Anai Pasir Jambak, Koto Tangah, Kota Padang. Lokasinya berjarak sekitar 70 km dari lokasi kejadian.
Identitasnya baru diketahui Senin (13/5/2023) setelah pihak rumah sakit Bhayangkara Padang dan kepolisian menerima informasi dari keluarga korban.
Jenazah Ratna kemudian dibawa pulang ke Padangpanjang melalui Lembah Anai dan disemayamkan di SMK N 1 untuk penghormatan terakhir.
Suasana duka menyelimuti pelepasan jenazah Ratna. Para guru, staf, dan murid-murid SMK N 1, serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, mengantarkan Ratna ke peristirahatan terakhirnya di Sangkua, kampung halamannya.
Martoni, Asisten III Bidang Administrasi Umum, mewakili Pemerintah Kota Padangpanjang, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kepergian Ratna.
“Atas nama Pemerintah Kota, kami turut berbelasungkawa atas kejadian ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap sabar dan tabah," ucap Martoni.
Ia juga mengapresiasi upaya tim gabungan dan masyarakat yang telah menemukan korban, serta mengajak masyarakat untuk selalu waspada terhadap kondisi alam saat ini.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Sumatera Barat, Willya Zuwerni juga menyampaikan ucapan belasungkawa atas berpulangnya Ratna, yang merupakan keluarga besar Disdik Sumbar.
Kepergian Ratna meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar SMK N 1 dan Dinas Pendidikan Sumatera Barat. Dedikasi dan pengabdiannya selama 21 tahun di sekolah tersebut akan selalu dikenang.
Berdasarkan informasi Diskominfo Padangpanjang, banjir bandang di Kota Padangpanjang terjadi akibat galodo mengalir dari Aia Angek, Kecamatan X Koto Tanahdatar memicu meluapnya Sungai Lubuk Mata Kucing, Kelurahan Pasar Usang, Batang Aia Sangkua, Kelurahan Silaing Bawah, dan Sungai Batang Sikakek Kelurahan Sigando dan Ekor Lubuk.
“Akibat bencana alam tersebut, dua warga Padang Panjang meninggal dunia. Satu orang mengalami luka berat, serta 198 jiwa harus diungsikan,” kata Penjabat Wali Kota Sonny Budaya Putra.
Dalam laporannya kepada Kepala BNPB di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman, Senin (13/5/2024), Sonny juga menyampaikan bahwa sebelum pada 8 April 2024, banjir lahar dingin erupsi Gunung Marapi dari Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar juga mengakibatkan meluapnya Batang Air Tanjung yang berlanjut ke Batang Sikakek yang mengakibatkan terputusnya Jembatan Tanjung. Perkiraan kerugian sekitar Rp914 juta.
Untuk akses jalan di kawasan Lubuk Mata Kucing, akibat banjir bandang tersebut, jalan penghubung Padangpanjang dengan Nagari Singgalang, Kabupaten Tanahdatar amblas. Objek wisata Lubuk Mata Kucing juga hancur.(Rifki Mahendra, Diskominfo Padangpanjang)