Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Veddriq Leonardo: Memanjat Pohon-Terjun ke Sungai, Nasi Kuning dan Mimpi yang Tertunda

Heri Sugiarto • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 11:47 WIB

DUKUNGAN KELUARGA: Rosita Hamzah (dua dari kiri) dan Sumaryanto diapit dua putri mereka, Violita Equada (kanan) serta Panca Niqita Maura, di kediaman mereka di Pontianak. (Foto: Arief Nugroho/JPG)
DUKUNGAN KELUARGA: Rosita Hamzah (dua dari kiri) dan Sumaryanto diapit dua putri mereka, Violita Equada (kanan) serta Panca Niqita Maura, di kediaman mereka di Pontianak. (Foto: Arief Nugroho/JPG)
BERKOMPETISI di Olimpiade Paris 2024 sebenarnya mimpi yang tertunda bagi Veddriq Leonardo. Sebab, target dia sebenarnya tampil di Olimpiade Tokyo 2020.

Agus Nadiansyah, ketua Federasi Panjat Tebing Pontianak, Kalimantan Barat, mengatakan, angan Veddriq untuk bermain di Olimpiade itu dipupuknya sejak 2016.

”Target dia ingin bisa lolos Olimpiade Tokyo pada 2020, tapi baru kesampaian di Paris 2024,” kata Agus yang juga sahabat Veddriq kepada Pontianak Post (grup Padang Ekspres) kemarin (9/8).

Tapi, ketertundaan itu ternyata membawa hikmah. Veddriq merebut emas nomor speed yang juga menjadi emas pertama Indonesia di Olimpiade Paris.

Siapa sangka, bocah yang menghabiskan masa tumbuh di tepi Sungai Kapuas tersebut justru menjuarai lomba kecepatan memanjat tingkat dunia.

”Dia suka terjun ke sungai, main air. Memanjat kayu, lalu mencebur ke sungai,” ungkap Rosita Hamzah, ibu Veddriq, ketika ditemui di kediamannya di Tanjungraya, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari tepian Kapuas.

Buah hati pasangan Sumaryanto dan Rosita Hamzah itu menamatkan sekolah dasar di SD Islamiah Pontianak.

Sekolah tersebut berada di seberang sungai dari tempat dia tinggal. Pergi dan pulang ke sekolah pun, dia menyeberangi Kapuas menggunakan speedboat.

Tapi, air bukan satu-satunya arena bermain bagi anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Dia aktif di banyak tempat. Mulai berjalan di atas titian jalan yang sempit sampai memanjat pohon.

Veddriq mengenal panjat tebing lewat keaktifannya di ekstrakurikuler Sispala sewaktu menjadi siswa di SMA Negeri 6 Pontianak. Ketertarikannya pada panjat tebing juga terinspirasi dari program Ninja Warrior.

Tekadnya yang besar mengantarnya menjadi salah satu kontestan game show dari Jepang tersebut. Rosita ingat kala Veddriq membujuk dirinya agar diizinkan mengikuti kompetisi tersebut.

”Dia usaha sendiri untuk ikut ke sana. Dia bilang, doakan ya menang Ninja Warrior,” kata Rosita mengingat kejadian kala itu.

Belakangan, baru Rosita paham sang anak ternyata menginginkan hadiah yang ditawarkan bagi pemenang dari kompetisi tersebut. Dia ingin membantu ekonomi keluarga.

Veddriq memang berasal dari keluarga sederhana. Dia memiliki empat saudara, semuanya perempuan. Ayahnya yang berasal dari Jepara bekerja sebagai tukang ukir. Pernah pula membuka usaha mebel.

Sementara, Rosita ibu rumah tangga yang juga pernah bekerja di rumah makan.

Untuk memperkuat ekonomi keluarga, Rosita pernah berjualan makanan di depan rumahnya. ”Sempat jualan bubur, nasi kuning, buka warung kecil-kecilan di depan rumah,” tuturnya.

Veddriq turut mempromosikan jualan ibunya tersebut. ”Ada pesanan di sekolah, dibawakan (Veddriq),” tambah Rosita tentang sang anak yang telah menyelesaikan kuliah pada 2022 tersebut.

Agus juga menyaksikan sendiri perjuangan keras Veddriq dari bawah sekali. Hebatnya, lanjut Agus, ketika satu per satu prestasi nasional dan internasional diraih, Veddriq tak berubah.

”Dia tetap berkomunikasi dengan pelatih dan teman-teman di Kota Pontianak. Dia juga tak pelit ilmu, sering berbagi pengalaman dengan teman-teman lainnya,” katanya.

Tapi, Veddriq sudah lama tak pulang ke Pontianak. Rosita dan Sumaryanto sangat merindukan sang putra yang terakhir menginjak rumah pada Oktober tahun lalu tersebut.

Barangkali, itu konsekuensi pilihan namanya. Sang ayah yang memberinya nama Veddriq Leonardo. Rosita semula tak sepakat karena dia punya pilihan nama sendiri: Dimas. Namun, sang suami keukeuh.

”Kata bapak, tidak apa pakai nama itu biar nanti jadi orang hebat, biar nanti keliling dunia,” ucapnya. (sti/iza/c7/ttg/jpg)

Editor : Heri Sugiarto
#pontianak #Sumaryanto #Medali Emas Olimpiade #Rosita Hamzah #sungai kapuas #Olimpiade Paris 2024 #panjat tebing #Veddriq Leonardo