Laporan: Two Efly -- Kabupaten Solok
Jalurnya mulai menanjak, nafas saya mulai ngos-ngosan bak mobil tronton menapaki kawasan Sitinjau Lauik, he hehe. Akibat, sesak nafas kerongkongan terasa kering. Berulang kali saya membuka botol air dan meneguk air untuk membasahi tenggorokan.
Setelah melangkah lebih kurang 45 menit dari Shelter 1 akhirnya kami sampai pada sebuah titik menarik. Pembukaan perladangan oleh warga telah membuka celah untuk menikmati sebuah view langka.
Dari pinggir jalur di ketinggian antara Shelter 1 dengan Shelter 2 kami melihat hamparan tiga danau. Ya, Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah. Ini benar-benar pandangan yang cantik luar biasa.
Naluri “pak Bento” saya muncul lagi setelah redup dari Shelter 1. Dengan “semangat 45”, Saya suruh nak bujang saya berdiri dalam posisi menyamping dengan latar Danau Talang, Danau Di Bawah dan Danau Di Atas, serta hamparan kebun markisah. Empat sampai lima jepretan dapat saya abadikan. Ini hanya beberapa saat saja terjadi. Setelah itu kabut tebal kembali menutup pandangan ke arah hamparan tiga danau tersebut.
Kesempatan emas mendapatkan view menarik saya kirim langsung ke WA Grup Keluarga. Hitungan detik istri saya langsung komen. “Wuihh mantap ya, tau kayak gitu bagus dan jalurnya santai saya ikut dong,” ujar Istri. Kebetulan Istri saya juga seorang mantan pendaki gunung di era tahun 1990-an.
Dari titik view tiga danau tadi kami kembali melanjutlan perjalanan. Selangkah demi selangkah kami mengayunkan kaki menuju Shelter 2. Walau kian berat dan kian letih kami paksakan diri untuk terus melangkah. Tekat kami hanya satu. Kami sudah capek-capek dari Kota Padang, masak harus pulang sebelum mencapai puncak. Ndak lah, ayunkan langkah dan jangan terlalu sering melihat ke atas agar tak patah semangat. Tak terasa di ayunan langkah nan letih itu kami sampai juga di Shelter 2.
Sama dengan Shelter 1, di Shelter 2 kami rehat. Dalam pikiran saya masih jauh dan butuh tenaga yang banyak lagi untuk mencapai Camp Area. Saya harus pandai-pandai mengatur tenaga. Masak mantan pendaki kalah pula dengan pendaki pemula (anak bujang saya). Saya pacu semangat dan optimis saya agar terus menggelora menuju Puncak Gunung Talang.
Di sini saya kembali “kecele”. Shelter 2 yang saya pikir baru separoh perjalanan eeee ternyata sudah mendekati puncak. Dari depan Shelter 2 sudah tampak Puncak Gunung Talang. Dari depan Shelter 2 juga sudah tampak kepulan asap kawah. Dari Shelter 2 sudah mulai terasa aroma asap belerang. Artinya, Camp Area dan Puncak Gunung Talang sudah kian dekat.
Di Shelter 2 ini kami rehat lebih kurang 15 menit. Setelah nafas tidak begitu sesak kami kembali melanjutkan perjalanan. Target kami adalah Shelter 3 dan mata air. Shelter 3 selain tempat rehat juga penanda kita kian dekat dengan Camp Area dan kawasan batas vegetasi.
Jarak antara Shelter 2 dengan Shelter 3 tidaklah terpaut jauh. Untuk mencapai Shelter 3 kami membutuhkan waktu lebih kurang 45 menit. Jalurnya pun sudah berbeda. Kalau dari Shelter 1 ke Shelter 2 jalurnya menanjak maka dari Shelter 2 menuju Shelter 3 jalurnya melandai. Kata anak Gunung banyak dan panjang “Bonusnya”.
Di Shelter 3 kami rehat tapi tak lama. Kami menargetkan harus cepat sampai Camp Area. Kalau bisa sebelum jam 17.00 WIB sudah tiba di Camp Area. Kebetulan sore itu awan mulai gelap. Kami takut bangun tenda saat hujan. Makanya kami memburukan perjalanan. Di Shelter 3 kami kami hanya rehat sambil berdiri saja.
Setelah nafas relatif stabil kami melangkah lagi. Rute dari Shelter 3 ke Camp Area relatif landai dan malahan lebih banyak menurun. Kita menuju puncak tapi jalurnya menurun, aneh saja rasanya. Tapi itulah realita jalur “Sejuta umat” via Bukik Buek.
Jalur menurun ini saya temui hingga mata air pertama. Beberapa meter setelah mata air pertama kami bertemu lagi dengan sumber air kedua. Rencana saya mau ambil air lagi tapi guide saya melarang. “Tak usah, kita ambil air di mata air ketiga saja. Di situ airnya lumayan besar dan bening,” ujar Ampu.
Tak jauh dari sumber air kedua, kami bertemu mata air ketiga. Dari kemiringan tanah tersembul dua pipa ½ inci. Air jernih dan bening serta segar keluar dengan deras dari mulut pipa. Tanpa basa-basi saya mendekat dan membuka tutup botol air meniral dan menampung air. Spontan saja, setelah penuh saya teguk air segar itu sampai dahaga lepas dan botol air saya isi kembali.
Setelah mengampil air di mata Aur ketiga kami kembali melanjutkan langkah. Vegetasi alam selepas mata air ketiga sudah mulai berubah.
Rerata tumbun yang tumbuhan adalah pandan rimba dan akasia rimba serta rumput ilalang. Jalan yang dilewati juga rerata becek karena memang daerah resapan air. Tapi biasanya rute seperti ini jamak ditemui pada Gunung Gunung lain di zona Pulau Sumatera.
Sambil memilah-milah pijakan agar tak jerumus dalam lumpur kami terus melangkah. Satu demi satu langkah kami ayunkan dan akhirnya kami sampai di sebuah hamparan luas. “Alhamdulillah, kita sudah sampai di Camp Area,” kata Ampu.
Penyakit “pak Bento” saya kambuh lagi. Saya ambil gadget dan saya jepret apa yang menurut saya indah. Nak bujang saya mintak berpose bak “pendaki profesional”. Dengan mengacukan kedua jempol dan membelakangi kawah Gunung Talang saya jempret dia. Luar biasa bangga rasanya sampai Camp Area ini.
Badan yang tadi terasa lelah, kini serasa ringan kembali. Saya sisir hamparan luas di kaki cadas Gunung Talang ini dengan kedua bola mata saya. Indah nian maakkk, kok ada ya alam secantik ini. Sungguh luar biasa kekuasaan Tuhan. Benar-benar indah dan tak terbayangkan dengan akal pikiran kita.
Setelah puas memotret dan memandang, kami bergerak mencari tempat untuk mendirikan tenda. Pilihan kami tertuju ke Camp Area dekat musala. Ternyata Mapala Unand telah berbuat sesuatu yang istimewa.
Mereka membuat musala di Camp Area dan menjadi satu-satunya bangunan “termegah lah” di Camp Area saat ini. Selain bagus untuk ukuran Musala di puncak gunung, bangunan ini dijadikan Pendaki untuk tempat beribadah. Semoga saja amal baik ini pahalanya terus mengalir untuk anak anak Mapala Unand.
Udara mulai terasa dingin dan cuaca pun mulai redup. Saya lihat jam di tangan, ehh ternyata hari sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB. Saya dan tim bergerak cepat mendirikan tenda. Sementara dua pendaki kakak beradik dari Bogor tadi berpisah dan mencari lokasi pula untuk mendirikan tenda pula.
Tak butuh waktu lama untuk mendirikan tenda fortabel. Lebih kurang 30 menit tenda sudah terpancang dan berdiri kokoh. Peralatan dan logistik pun kami keluarkan dari karel (Tas punggung khusus naik gunung) dan kami susun rapi dalam tenda.
Sambil rehat kami mulai memasak. Kompor fortable kami keluarkan dan kami memulai memasak air. Dua jenis makanan dan minuman yang ingin kami hadirkan saat itu. Pertama, kopi dan kedua mie instan. Tak butuh waktu lama, kopi dan mie instan siap untuk disantap.
Sambil duduk santai melepas penat, kopi diteguk dan rokokpun sulut. Paripurna sekali rasanya, sangat sulit menggambarkan nikmatnya dengan kata kata. Nikmat makanan, nikmat alam membaur jadi satu. Sungguh sebuah kesempatan yang luar biasa.
Dari pintu tenda saya memandang kepulan asap kawah Gunung Talang. Walau terpaut jarak tak yang jauh namun aroma belerangnya tidaklah begitu terasa. Mungkin faktor arah angin yang mendukung sehingga asap belerang tak mengarah ke kawasan Camp Area.
“Sampai juga ya bang. Kita menghabiskan waktu lebih kurang 4 jam lebih untuk sampai ke sini. Tak apa apalah, namanya juga pendaki pemula dan mantan pendaki. Tentu membutuhkan proses dan perjuangan berat untuk sampai ke Camp Area ini," ujar Ampu yang setia meng-guide kami dari Padang sampai ke Puncak Gunung Talang.
Dalam catatan saya, untuk mencapai puncak Gunung Talang setidaknya sampai Camp Area terdapat dua Posko Pendakian. Selain Posko juga terdapat tiga Shelter peristirahatan. Satu lagi tercatat 32 R (rest) penanda rute perjalanan dan terdapat tiga sumber mata air.
Camp Area, Lapangan Upacara dan Bunga Edelwys
Jika di sebagian besar kaki cadas pergunungan hanya menyediakan tempat Camp Area relatif kecil dan sempit, maka beda jauh dengan Gunung Talang. Camp Area Gunung Talang ini sanggup menampung ratusan tenda dan hampir 2.000-an pendaki. Sungguh sangat luas sekali Camp Area ini.
Di tengah kawasan Camp Area berdiri satu tiang bendera yang mulai bengkok akibat deraan angin. Rupanya setiap 17 Agustus atau pergantian tahun ada “ritual khusus” yang dilakukan pendaki. Apa itu? Upacara bendera. Peristiwa inipun sudah diviralkan oleh para selegram Gunung Talang.
Layaknya hamparan di ketinggian, tumbuhan endemi pergunungan juga dapat kita temui di Camp Area. Selain bunga padi padi, Pandan Duri, pakis rimba di beberapa pojok kita juga menemukan bunga Edelwys. Sayang waktu kami datang bunganya banyak yang baru berputik. Kalaupun ada yang mekar itupun sedikit sekali.
Camp Area memang tidak menjadi tempat tumbuh suburnya Edelwys di Gunung Talang. Di kawasan ini lebih banyak ditumbuhi rumput dan belukar. Sekelilingnya juga banyak ditumbuhi pandan berduri dan pakis rimba. Sementara di lereng gunungnya banyak tumbuh rerumputan dan hutan mati akibat letusan Gunung Talang tahun 2008 yang lalu.
Camp Area ini menjadi tempat “rechange” stamina bagi pendaki. Mayoritas pendaki ngecamp semalam sebelum menapak dan menanjak menuju puncak Gunung Talang. Kami pun begitu, setelah makan dan minum sekitar pukul 20.00 WIB kami mulai istiharat dan tidur.
“Mby kita cepat saja tidurnya. Besok pagi pukul 04.00 WIB kita bangun dan naik menuju puncak. Mudah-mudahan kita bisa summit dan dapat melihat matahari terbit. Kata teman-teman Jijib pemandangan di puncak itu sangat cantik sekali,” ujar Azib. (Bersambung)
Editor : Hendra Efison