Laporan: Two Efly, Kabupaten Solok
Pikiran saya kembali ke tahun 1994-1995 yang lalu. Kala itu pucak Gunung Talang tidaklah begitu. Kalaupun ada kawah tapi tidaklah besar dan asap yang terus mengepul pekat. Mayoritas puncak Gunung masih terlihat hijau karena ditutupi tumbuhan.
Kini kondisi berbeda jauh, separuh dari puncak gunung berubah menjadi lautan dan hamparan batu vulkanik yang disemburkan dari perut bumi. Tumbuhan yang dulu hijau menutupi Gunung sebagian berubah menjadi gersang. Pepohonan berubah menjadi hutan mati. Konon di awal-awal letusan kawasan puncak itu kering dan gersang akibat aktivitas vulkanik.
Seiring berjalannya waktu, tumbuhan belukar mulai tumbuh. Hutan jarang dan pepohonan berubah menjadi hutan mati. Kayu dan hutan mati ini menjadi pemandangan unik dan indah untuk diabadikan. Alam memang luas biasa. Dia mengubah sesuatu yang tak terbayangkan oleh kita.
Menuju Puncak 2.597 Mdpl
Semangat anak saya menuju puncak sangat luar biasa. Alarm distel dan berdering pukul 04.00 WIB. Tapi kami tetap bangun jam 05.00 WIb dan mulai memasak. Kenapa? Dinginnya luar biasa pagi itu.
Setelah memasak kopi dan mie instan. Kami berdua mulai menaklukkan Puncak Gunung Talang dengan ketinggian 2.597 Mdpl. Berbekal dua botol air mineral dan dua bungkus kue kering Oreo kami mulai melangkah menuju kaki Cadas dan menapak menuju puncak Cadas. Track cadas Gunung Talang kali ini terasa berbeda. Terakhir kali saya naik Gunung Talang tahun 1995 yang lalu track cadas tidaklah seperti ini. Mungkin karena beda jalur maka tracknya juga berbeda.
Rasanya track saat ini menuju puncak lebih berat dari pada track dari Pintu Rimba ke Camp Area. Selain cadasnya rawan lepas diinjak, rutenya juga menanjak tajam. Untuk pemula dan orang tua seperti saya terus terang track ini sangat berat. Kalaulah dibobotkan jarak lk 800 meter menuju puncak itu membutuhkan tenaga dua kali lipat dari track Posko 2 ke Camp Area.
Dengan tersengal-sengal dan nafas sesak kami paksakan mengayunkan langkah. Sekali sekali sambil rehat kami memandang puncak dan sekali-sekali kami memandang Camp Area dan hamparan Danau Talang, Danau Di Atas dan Danau Di Bawah. View ini menjadi penyemangat untuk kami bisa menaklukkan puncak.
Perlahan-lahan kaki kami ayunkan. Guyonan anak dan ayah selalu kami mainkan untuk menghilang rasa lelah. Tak jarang juga banyak pendaki yang ketawa dan salut dengan duet ayah dan anak ini. Bapak umurnya berapa? Ini pendakian ke berapa, semangat pak, di puncak ada indomaret lo pak, puncak tak jauh lagi. Intinya macam-macamlah kakobeh para pendaki menyemangati kami agar bisa mencapai puncak.
Secara jarak antara Camp Area ke Hutan Mati dan puncak top (2.597 Mdpl) tidaklah jauh. Tapi karena tanjakannya tajam kami membutuhkan waktu 1 jam 30 menit untuk sampai puncak pertama. Biasanya pendaki profesional membutuhkan waktu 45 menit sampai 50 menit. Maklumlah kami kan pendaki pemula, he he he.
Kami mulai naik pukul 05.55 WIB dan sampai di puncak pertama pukul 07.30 WIB. Sesampai puncak pertama kami rehat sambil memandang ke bawah. Ada kawah selatan dan kawasan hutan mati, ada hamparan indah Danau Singkarak. Ada Gunung Marapi, Gunumg Singgalang, Gunumg Tandikek, Gunung Sago dan Gunung Talamau yang tampak dari puncak Gunung Talang ini. Wajarlah Puncak Talang ini disebut oleh para pendaki sebagai “Puncak Seribu Gunung dan Puncak Seribu Danau”.
Dari puncak Gunung Talang ini kita bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunng Tandikek, Gunung Sago, Gunung Talamau. Sementara dari arah sebaliknya kita bisa melihat Gunung Kerinci.
Ada satu puncak lagi, dalam pikiran saya bisa jadi ini puncak Gunung Pantai Cermin yang terletak antara Solok dan Pesisir Selatan.
Khusus untuk Gunung Pantai Cermin (2.690 Mdpl jenis gunung Non Vulkanik) tadi perlu pembuktian kembali. Bisa jadi pikiran saya salah dan jauh dari kebenaran atau bisa saja halusinasi saya saja.
Berbeda dengan arah belakang jalur pendakian, kalau arah belakang menyuguhkan banyak Gunung maka arah depan Pendakian menyuguhkan banyak danau. Segi tiga Danau Talang, Danau Di Bawah dan Danau Diatas bak tigo tungku sajarangan.
Secara visual terlihat seperti kaki tripod kamera. Benar-benar persisi terlihat ketiga danau tersebut dari puncak Gunung Talang.
Bak berandai-andai, tiga danau ini sepertinya di kawal oleh Gunung Kerinci. Kebetulan pula Gunung Kerinci adalah Gunung tertinggi di Pulau Sumatera yang terletak di tapal batas Sumatera Barat dengan provinsi Jambi. Terus terang pemadangan paripurna ini sugguh luar biasa.
Setelah puas menjepret dan memandang, kami melanjutkan pendakian menuju puncak TOP (Monument 2.597 Mdpl). Dari puncak pertama kami melewati kawasan Hutan Mati.
Butuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke puncak Top 2.597 Mdpl. Tracknya lumayan menanjak. Untuk mencapai puncak TOP ini kita menyisiri dinding dan puncak kawah selatan.
Ada fenomena aneh dengan Gunung Talang ini. Jika Marapi dan Tandikek kawahnya di puncak Gunung, justru Gunung Talang kawahnya di pinggang Gunung. Artinya, ketika kita menuju puncak TOP kita harus menyisiri puncak kawah. Kepulan asap belerangnya terasa kental dan pekat sekali.
Dengan langkah tertatih-tatih kami mencoba mencapai puncak top. Setelah menempuh waktu lebih kurang 30 menit akhirnya kami sampai di puncak TOP. Alhamdulillah dan sangat menakjubkan sekali rasanya.
Sesampai di Puncak TOP kami rehat sejenak. Dari salah satu pojok puncak top kita bisa menikmati view laut di Kota Padang. Dan dari arah sini pun kita bisa melihat tiga danau tadi.
Karena perjuangan kami untuk sampai ke puncak top terasa berat maka kami sisir beberapa pojok di puncak top tersebut. Setelah puas barulah kami mengabadi diri dan berfoto di Monumen 2.597 Mpld.
Usai berfoto kami mulai mempersiapkan diri untuk turun menuju Camp Area. Pukul 09.55 kami mulai turun menuju Area Camp. Ternyata untuk turun membutuhkan waktu yang lebih lama.
Kalau naik kami membutuhkan waktu hampir 120 menit untuk sampai puncak top maka untuk turun kami hampir menghabiskan waktu 180 menit. Bebatuan cadas yang rawan lepas saat diinjak dan jalur yang menukik membuat kami kesulitan mengayun langkah turun.
Dengan berhati-hati agar tak tergelincir dan berguling guling ke bawah kami terus mengayunkan langkah dengan hati hati.
Sayang saat turun cadas ini nak bujang saya mengalami cidera lutut. Dengan melangkah gontai dan lambat sekuat tenaga dia saya dampingi dan sekali-sekali saya gandeng turun hingga ke kaki cadas.
Setelah berjuang lebih kurang 190 menit akhirnya kami sampai di kaki cadas. Kebetulan dalam perjalanan turun saya ketemu si Gondromg (salah satu Ranger Gunung Talang). Kami berpesan tolong sampaikan ke guide kami si Ampu bahwa Azib cidera lutut.
Dari pinggang cadas kami terus turun dan dari Camp Area tampak Ampu (Guide-red) menjemput ke atas. Setelah ketemu Azib digandeng turun hingga sampai di Camp Area. Di Camp Area Ampu sebagai Guide dan Ketua Ranger Gunung Talang langsung melakukan tindakan.
Lutut yang cidera diurut. Kedua lututnya diurut, betis dan pergelangam kaki hingga ke jari kaki pun diurut. Rasa sakit yang mendera selama melangkah dari puncak cadas mulai sedikit lega setelah diurut.
Setelah dilakukan tindakan kami disuguhkan air minum hangat dan mie instan serta kue kue kering. Sambil menikmati makanan, Ampu mulai berkemas-kemas. Packing-paking barang dimulai sebagai persiapan untuk turun menuju Posko 2.
Sesampai di Posko 2, Ampu kontak Posko 1 dan mintak kirim 3 unit ojek. Ini terpaksa dilakukan karena cidera lutut Azib kembali terjadi ketika menuruni rute Shelter 1 ke Posko 2. Dari Posko 2 kami menumpang ojek turun ke Posko 1.
Di Posko 1 kami rehat dan persiapan menuju Padang. Kami lihat jam di tangan saat sampai di posko 1 menunjukkan pukul. 15.25 WIB. Artinya dari Camp Area ke Posko 1 kami menghabiskan waktu lebih kurang 3,5 Jam.
Setelah rehat kami mulai bergerak menuju Kota Padang dan sampai di Kompleks Perumahan Puri Bermindo - Sumbar Mas pukul 19.15 WIB.
Lelah, letih dan capek rasanya badan. Kaki terasa pegal, lututpun terasa perih. Namun, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah semua rasa lelah dan letih tak ada apa-apanya bandingkan indahnya sebuah petualagan.
Puncak Gunung Talang Via Bukik Bulek sangatlah mengasikkan. Jalurnya nyaman dan diyakini bisa ditaklukkan oleh segala usia.
Toh saya saja yang menginjak usia menjelang 51 tahun bisa menaklukkannya. Terima kasih Ampu, Terima kasih untuk Gunumg Talang dan keindahannya. Next time kami kembali datang untuk menikmati “Seribu Pesona Alam mu”. (Tamat)
Editor : Hendra Efison