Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kiprah Bandung Cancer Society Berbagi Kekuatan dan Harapan Hidup: Sediakan Rumah Singgah, Pasien Hanya Bayar Rp 10 Ribu

Novitri Selvia • Senin, 2 Desember 2024 | 11:30 WIB

TEBAR SEMANGAT: Anggota Bandung Cancer Society dalam sebuah kegiatan. Setiap bulan mereka menggelar edukasi untuk penyintas dan penderita kanker.(DOKUMENTASI BCS)
TEBAR SEMANGAT: Anggota Bandung Cancer Society dalam sebuah kegiatan. Setiap bulan mereka menggelar edukasi untuk penyintas dan penderita kanker.(DOKUMENTASI BCS)

PADEK.JAWAPOS.COM-BCS menjadi salah satu tumpuan para penderita kanker untuk mendapat edukasi dan kekuatan hidup. Mereka juga memiliki rumah singgah yang dapat diakses dengan harga terjangkau.

KOMUNITAS ini lahir di sebuah sudut Kota Bandung, di Aula Gereja Pandu, belasan tahun lalu. Pendirinya adalah tiga perempuan penyintas kanker. Salah satu di antaranya, Yanti Setiawadi.

Dia menjadi motor penggerak dan sosok yang hingga kini terus memberikan semangat dan harapan bagi banyak orang yang bergelut dengan penyakit ganas tersebut.

Kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres), Yanti yang kini menjabat ketua mengenang kembali awal terbentuknya Bandung Cancer Society (BCS). “Sebenarnya grup ini didirikan para penyintas kanker, termasuk saya sendiri,” ujarnya pekan lalu.

Saat itu, 17 tahun lalu, dia kesulitan untuk menemukan teman yang bisa diajak berbagi pengalaman tentang kemoterapi. Padahal, terapi itu dibutuhkannya.

Juga orang-orang yang bernasib sama sepertinya. “Akhirnya saya berpikir, kalau ada komunitas, kita bisa lebih mudah untuk berbagi,” kenangnya. Maka, pada 2 Desember 2007, BCS resmi berdiri, berawal dari kumpulan tiga penyintas kanker payudara.

Selain Yanti, dua sahabatnya, Yuni dan Hani, juga berperan dalam mendirikan komunitas tersebut. Namun, dua sahabatnya itu sudah berpulang pada 2012. Meski demikian, semangat mereka terus hidup dalam setiap langkah BCS.

Komunitas itu dibuka untuk semua jenis kanker, bukan hanya kanker payudara. Komitmen untuk saling mendukung pun semakin menguat, seiring bertambahnya anggota yang merasakan manfaat dan kebersamaan di dalamnya.

Awal mula kegiatan komunitas tersebut sederhana. Kumpul-kumpul dan berbagi pengalaman. “Waktu itu kita belum punya tempat, jadi sering pinjam aula gereja. Awalnya cuma tiga atau empat orang yang datang, tapi lama-lama makin banyak,” ujar Yanti.

Kemudian, seorang dokter bedah onkologi bernama Dradjat Suardi, yang juga merawat Yanti, memberikan nama “Bandung Cancer Society” sebagai identitas resmi komunitas tersebut. Sejak saat itu, BCS mulai diorganisasi dengan lebih terstruktur.

Seiring waktu, kegiatan komunitas itu semakin berkembang. Setiap bulan BCS mengadakan seminar yang menghadirkan dokter spesialis untuk memberikan pengetahuan seputar kanker.

Ada juga kegiatan olahraga dan meditasi, terutama saat perayaan World Cancer Day pada Februari atau Breast Cancer Awareness Month pada Oktober.

“Setiap bulan pasti ada kegiatan untuk menambah pengetahuan,” tuturnya. Sesekali juga mereka mengunjungi pasien kemoterapi. Antara lain, di Rumah Sakit Borromeus, Bandung.

Tidak hanya berbagi ilmu dan tenggang rasa, BCS juga mendirikan Rumah Singgah Kasih. Lokasinya tidak jauh dari Rumah Sakit Hasan Sadikin. RS terbesar di Jawa Barat.

Rumah singgah itu diperuntukkan pasien kanker dari luar kota yang menjalani pengobatan di Bandung. Khususnya mereka dengan kepesertaan BPJS kelas III. Dengan hanya membayar Rp 10.000 sebagai uang pendaftaran, pasien bersama pendampingnya bisa tinggal di sana tanpa biaya tambahan.

“Di rumah singgah, kami sediakan beras, dapur, dan air minum. Kami juga ajarkan cara merawat luka dan edukasi kesehatan,” kata Yanti.

Edukasi memang merupakan salah satu fokus utama BCS. Menurut Yanti, pasien kanker dari daerah sering memiliki pemahaman yang kurang mengenai penyakit tersebut.

“Banyak yang masih berpikir bahwa kanker itu menular atau merupakan kutukan. Ini adalah hal-hal yang perlu kita luruskan, terutama tentang makanan, kebersihan, dan bahaya pengobatan alternatif yang kurang efektif,” paparnya.

Untuk menghadapi ketakutan pada efek samping kemoterapi, Yanti dan komunitasnya menjadi saksi hidup yang memberikan kekuatan kepada sesama pasien kanker. Cerita dari para penyintas diyakini lebih bisa diterima daripada orang lain.

Sebab, penyintas mengalami dan merasakan langsung. “Mereka bisa melihat kami, orang yang pernah menjalani kemoterapi dan masih bisa aktif kembali. Itu membuat mereka lebih berani,” ujarnya.

Menjalankan komunitas tersebut tentu membutuhkan biaya. Namun, Yanti percaya bahwa berkat Tuhan selalu ada. “Kalau butuh, ada saja yang membantu,” ungkapnya.

Beberapa donatur menyediakan air minum, beras, bahkan bantuan untuk biaya seminar di hotel. Dokter-dokter dari Bandung juga sering memberikan jasa mereka tanpa biaya.

Selain menyediakan tempat tinggal, Rumah Singgah Kasih berfungsi sebagai tempat pasien bisa merasa diterima dan punya keluarga. “Di sini mereka merasa punya teman untuk berbagi,” kata Yanti.

Anggota BCS umumnya berasal dari Jawa Barat. Namun, rumah singgah itu sudah menerima pasien dari berbagai daerah seperti Bali, Sulawesi, Kalimantan, bahkan Aceh.

Sebab, sering kali para penderita dari daerah mendapat rujukan untuk berobat ke Bandung. Untuk mempermudah komunikasi antaranggota, komunitas tersebut memiliki grup WhatsApp yang berfungsi sebagai media informasi dan dukungan moral.

Di sana, mereka saling menguatkan, berbagi informasi, dan mendoakan satu sama lain. Hingga saat ini, BCS memiliki sekitar 600 anggota. Meskipun, ada sebagian yang telah meninggal dunia.

“Untuk rumah singgah sendiri, sudah ada 616 pasien yang tinggal di sana selama dua setengah tahun terakhir,” tambah Yanti.

Ke depan, Yanti berencana menggandeng dinas kesehatan untuk memperluas jangkauan edukasi komunitas tersebut ke daerah-daerah. Dia berharap bisa memberikan pengetahuan yang benar tentang kanker sehingga masyarakat kian teredukasi.

Salah satu fenomena yang cukup meresahkannya adalah keyakinan pada pengobatan alternatif yang tidak tepat. Akibatnya, banyak orang yang sudah berobat alternatif akhirnya kembali ke medis dalam keadaan stadium 4. “Udah nggak bisa ditolong lagi kalau udah stadium 4,” ceritanya.

Di pengobatan alternatif, lanjut dia, obat kanker kerap disamakan. Padahal, setiap orang, walaupun sama-sama kanker payudara misalnya, memiliki hormon tubuh yang berbeda.

Jadi, obatnya juga beda-beda. “Sampai kalau kita kemoterapi saja, dosis obat dihitung dari berat dan tinggi badan. Jadi, itu yang mesti kita jelasin ke mereka,” paparnya.

Dia mengakui, perjalanan BCS tidak selalu mulus. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan dana yang menghambat mereka untuk bergerak lebih jauh.

Semangat untuk saling mendukung di antara anggota juga menjadi kekuatan yang memperkokoh komunitas tersebut. Di tengah kondisi kesehatan yang masih harus dijaga, Yanti tetap aktif mengelola BCS.

“Saya masih kontrol setiap tahun, masih terjaga. Walaupun kondisi fisik tidak sekuat dulu, saya masih bisa terus mendukung komunitas ini,” ungkapnya.

BCS adalah wujud nyata dari perjuangan melawan kanker, yang bukan hanya tentang melawan penyakit, melainkan juga tentang mempertahankan semangat hidup, saling mendukung, dan memberikan harapan.

Yanti Setiawadi dan BCS adalah saksi hidup bahwa kanker bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan baru untuk berbagi, menguatkan, dan menginspirasi. (*/oni/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#bcs #rumah singgah #Bandung Cancer Society #Yanti Setiawadi