Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Melirik Keberadaan Masjid Raya Ganting, Ikon Bersejarah dan Perkembangan Islam di Tanah Minang

Novitri Selvia • Rabu, 5 Maret 2025 | 14:30 WIB

KOKOH : Masjid Raya Gantiang menjadi saksi sejarah yang sudah ada dari zaman kolonial Belanda.(FAISAL/PADEK)
KOKOH : Masjid Raya Gantiang menjadi saksi sejarah yang sudah ada dari zaman kolonial Belanda.(FAISAL/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Masjid Raya Gantiang adalah salah satu ikon sejarah dan keagamaan di Kota Padang. Sebagai salah satu masjid tertua yang telah berdiri sejak tahun 1805, masjid ini memegang peran penting dalam perkembangan Islam di Sumatera Barat, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai wadah dakwah, pendidikan agama, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dengan arsitektur khas Minangkabau yang berpadu dengan nuansa kolonial, Masjid Raya Gantiang juga menjadi cagar budaya yang menyimpan nilai sejarah tinggi.

Senin (3/3), tim Padang Ekspres mendapat kesempatan berbincang dengan pengurus Masjid Raya Gantiang untuk menyelami sejarah dan keunikan masjid ini serta kegiatan dan program selama Ramadhan.

Irwanto, Wakil Ketua Pengurus Masjid Raya Gantiang, menceritakan awal mula berdirinya masjid tersebut.

“Awal mula pembangunan Masjid Raya Gantiang ini dimulai pada tahun 1805 berupa bangunan surau kayu di atas tanah kaum suku Chaniago dan melibatkan tiga tokoh Kampung Gantiang yang berasal dari suku Chaniago. Tiga tokoh ini kemudian dikenal dengan sebutan Tigo Tali Sapilin,” jelasnya.

“Tigo Tali Sapilin tersebut berasal dari kalangan yang berbeda. Angku Gapuak adalah seorang saudagar di Pasar Gadang, Angku Syech Haji Umar merupakan seorang pemimpin kampung, dan Angku Syech Kapalo Koto adalah seorang ulama berpengaruh yang dihormati masyarakat setempat. Perpaduan dari ketiga tokoh inilah yang menjadi fondasi kuat dalam mendirikan Masjid Raya Gantiang yang kita kenal sampai saat ini,” tambahnya.

Irwanto juga menceritakan berbagai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Masjid Raya Gantiang. Peristiwa seperti gempa dan tsunami yang melanda Kota Padang pada tahun 1833, saat itu Masjid Raya Gantiang masih berupa bangunan sederhana yang selamat dari hantaman gelombang tsunami.

Kemudian, pada tahun 1918, Masjid Raya Gantiang menjadi tempat berkumpulnya ulama pembaharu Islam di Minangkabau. Lebih dari itu, Pada tahun 1942 masjid ini juga pernah menjadi tempat Bung Karno menyebarkan semangat kemerdekaan.

“Pada masa peralihan dari pemerintah kolonial Belanda ke Jepang, Bung Karno pernah menyebarkan semangat kemerdekaan di Masjid Raya Gantiang,” ungkap Irwanto.

Selain peristiwa bersejarah, Masjid Raya Gantiang yang sudah berumur dua abad ini telah mengalami banyak renovasi. Menurut Yuza Marwan, Sekretaris Pengurus Masjid Raya Gantiang, masjid ini tercatat sudah mengalami delapan kali perombakan sejak tahun 1900.

“Masjid Raya Gantiang ini sudah mengalami delapan kali perombakan sejak tahun 1900. Perombakan pertama pada tahun 1900, kemudian 1910, 1923, 1948, 1970, 2004, 2009, dan terakhir 2012,” ujar Yuza Marwan.

Beralih dari renovasi masjid, pengurus Masjid Raya Gantiang juga menyampaikan kegiatan-kegiatan selama Ramadhan.

Yuza menjelaskan bahwa kegiatan selama Ramadhan di Masjid Raya Gantiang meliputi berbuka bersama, shalat Tarawih, hingga Subuh berjamaah yang dilengkapi dengan ceramah agama.

“Kegiatan Masjid Raya Gantiang selama Ramadhan, seperti masjid lainnya, yaitu berbuka bersama, Tarawih, dan Subuh berjamaah dengan ceramah-ceramah agama,” ungkapnya.

“Selain itu, Masjid Raya Gantiang juga mengadakan wirid dua kali seminggu, yaitu setiap hari Rabu dan Minggu malam,” tambahnya.

Yuza juga mengakui bahwa antusiasme masyarakat selama tiga hari pertama Ramadhan cukup tinggi dalam menjalani ibadah. “Selama tiga hari pertama Ramadhan, antusiasme masyarakat untuk beribadah di Masjid Raya Gantiang ini cukup tinggi,” ujarnya.

Di luar fungsi keagamaannya, Masjid Raya Gantiang juga memiliki peran sosial yang signifikan, terutama dalam membantu masyarakat yang membutuhkan selama bulan Ramadhan. Setiap tahunnya, Masjid Raya Gantiang rutin memberikan bantuan untuk anak yatim.

“Kami, pihak pengurus, rutin memberikan bantuan untuk anak yatim dua kali setiap tahun, dan untuk bulan Ramadhan ini kami akan menyerahkannya di minggu kedua Ramadhan,” ujar Yuza Marwan.

Masjid Raya Gantiang, dengan sejarah, kegiatan keagamaan, dan peran sosialnya, telah menjadi simbol semangat dan keberagaman. Setiap sudutnya menyimpan kisah perjuangan dan keikhlasan yang menginspirasi umat untuk bersatu dalam ibadah dan kebersamaan.

Masjid Raya Gantiang senantiasa membuka pintu untuk menyambut setiap hati dengan keramahan dan inspirasi yang tak lekang oleh waktu. (cr2)

Editor : Novitri Selvia
#nuansa kolonial #Perkembangan Islam di Tanah Minang #cagar budaya #Masjid Raya Ganting