PADEK.JAWAPOS.COM-Masjid Gadang, yang berdiri kokoh di Kelurahan Balai Gadang, Nagari Koto Nan Gadang, Kecamatan Payakumbuh Utara, bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah penanda sejarah, saksi bisu perjalanan Kota Payakumbuh, dan simbol kearifan lokal Minangkabau.
Diperkirakan berdiri sejak tahun 1600 Masehi, Masjid Gadang awalnya terletak di kawasan Batang Agam, tepatnya di Kelurahan Balai Tangah Koto, Kecamatan Kota Payakumbuh.
Lokasi ini dipilih karena dekat dengan sumber air, memudahkan jamaah untuk mandi dan berwudhu. Namun, karena seringnya banjir musiman dan tahunan di Sungai Batang Agam, serta kondisi bangunan yang masih berupa kayu beratap ijuk, masjid ini kemudian dipindahkan.
“Akibat Sungai Batang Agam yang sering mengalami banjir musiman, banjir tahunan sewaktu-waktu, akibat perubahan sungai, serta bangunan kayu dan beratapkan ijuk, lalu masjid ini dipindahkan ke lokasi bebas banjir,” ungkap Ketua Masjid Gadang, Atur Satria Dt. Patiah Sabatang.
Ia menyebut pada tahun 1717 Masehi, atas persetujuan para tetua adat, masjid dipindahkan ke lokasi saat ini. “Masjid itu harus berdampingan dengan Balai Adat Balai Gadang, yang menandakan ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’, ‘syarak mengato, adat memakai’, yang merupakan Balai Adat Luak 50,” jelas Atur Satria.
Pemindahan ini juga dilakukan karena jumlah jamaah yang semakin banyak, sehingga masjid yang lama terasa terlalu kecil. Ia mengungkapkan pembangunan Masjid Gadang pada masa pemerintahan Belanda dipengaruhi oleh kearifan lokal, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai Islam.
“Rujukan bangunan belum mencontohkan ke tanah Arab dan masih mengedepan budaya, ide/ciri tidak jauh dari ajaran Islam, misalnya memaknai kerukunan,” tutur Atur Satria.
Seiring berjalannya waktu, Masjid Gadang mengalami beberapa perubahan. Bangunan yang semula terbuat dari kayu digantikan dengan beton, dan atap ijuk diganti dengan seng. Renovasi besar-besaran dilakukan setelah kemerdekaan Republik Indonesia.
Meskipun telah mengalami perubahan, beberapa ornamen asli masih dipertahankan. “Ada tiang di dalam masjid yang tidak pernah dirombak, dulunya kayu digantikan beton. Pada lantai dua masih papan, lalu mode gonjong masjid yang di tengah itu yang pakai mihrab dan itu masih asli,” jelas Atur Satria.
Sebagai masjid pertama di Kota Payakumbuh, Masjid Gadang menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi warga sekitar. “Warga dari Pasar Payakumbuh, dari Koto Nan Godang, dulunya salat di sini, sebab dulunya masjid di Koto Nan Godang ini inilah satu-satunya,” kata Atur Satria.
Selain kegiatan ibadah rutin, Masjid Gadang juga aktif dalam kegiatan sosial. “Selain aktivitas masjid rutin, kita mengadakan kegiatan sosial buat anak yatim, fakir miskin, serta orang-orang terlantar,” ungkap Atur Satria.
Masjid ini juga menyelenggarakan wirid mingguan, Taman Pendidikan Al Quran (TPA), dan program Jumat Berkah, yaitu makan bersama setelah salat Jumat. “Kemudian kami ada berbuka bersama setiap hari Senin dan Kamis rutin yang telah berjalan 2,5 tahun,” tambahnya.
Ia menambahkan Masjid Gadang bukan hanya sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga pusat kegiatan yang memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial di Kota Payakumbuh. (SY RIDWAN—
Payakumbuh)