Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Melihat Masjid Agung Inderapura, Salah Satu Masjid Tertua: Simbol Kejayaan Islam Masa Lalu di Pesisir Selatan

Yoni Syafrizal • Kamis, 13 Maret 2025 | 13:30 WIB

BERSEJARAH: Masjid Agung Inderapura, Kecamatan Pancung Soal.(YONI SYAFRIZAL/PADEK)
BERSEJARAH: Masjid Agung Inderapura, Kecamatan Pancung Soal.(YONI SYAFRIZAL/PADEK)

PADEk.JAWAPOS.COM-Bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah oleh sebagian besar umat muslim memang diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang tidak bersifat amalan wajib.

Sebab dengan balasan hingga mencapai 700 kali lipat, sehingga umat muslim tidak menyia-nyiakannya, tentunya dengan cara memperbanyak ibadah sunnah.

Kegiatan keagamaan itu hampir dilakukan di semua masjid atau surau yang ada, termasuk juga di Masjid Agung Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, kabupaten Pesisir Selatan (Pessel).

Masjid Agung Inderapura, yang terletak di Nagari Inderapura Tengah, merupakan salah satu masjid bersejarah di Kabupaten Pesisir Selatan yang dibangun pada pertengahan abad ke-18 oleh Kesultanan Inderapura.

Tokoh masyarakat Kenagarian Inderapura, Hasan 96, dengan didampingi tokoh pemuda Isep 43, mengatakan kepada Padang Ekspres saat berkunjung Rabu (12/3) menjelaskan bahwa keberadaan Masjid Agung Inderapura tersebut memiliki sejarah yang panjang, karena termasuk salah satu masjid tertua di Pesisir Selatan.

Sebagaimana diketahui bahwa Kenagarian Inderapura di Kecamatan Pancung Soal, merupakan daerah bekas kesultanan Islam masa lalu di pantai barat Sumatera.

“Sejumlah peninggalan kesultanan tersebut masih dapat ditemukan, misalnya makam sultan, bekas komplek istana. Sementara untuk keagamaan terdapat pula Masjid Agung, yang pembangunannya dilakukan sekitar tahun 1840-1860. Masjid ini tidak terlalu jauh dari Istana Mangkubumi Pasa Gedang, karena terletak antara Pasar Inderapura dengan Pasa Gedang Muaro Sakai,” katanya.

Disampaikan Hasan bahwa berdasarkan penuturan orang tua nya ketika masih hidup, masjid tersebut dibangun oleh Daulat Alam Tuanku Sembah Tuanku Balinduang Sultan Muhammad Arifin Gelar Sultan Muhammad Syah.

“Memang tidak ada catatan resmi sejak kapan masjid ini mulai dibangun. Tapi masjid ini memiliki peran yang amat strategis untuk kepentingan dakwah dan pembinaan akhlak rakyat yang dipimpinnya ketika itu,” jelasnya.

Disampaikannya bahwa dari namanya memang terdengar sangat kental pengaruh Atjeh (Aceh red). Berdasarkan hal itu, maka dapat disimpulkan bahwa agama Islam di sini juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan Aceh di masa lalu.

Dijelaskan lagi bahwa pada bangunan masjid yang berukuran sekitar 40 kali 40 meter itu, semua keperluan umat untuk menyelenggarakan ibadah masih ada dan terjaga dengan baik.

Saat ditelusuri Padang Ekspres bersama Hasan dan Isep, setelah memasuki gerbang, terdapat sebuah sumur tua yang masih dimanfaatkan hingga kini oleh jamaah untuk berwudhu. Batu-batu yang direkat semen di lingkaran cincin sumur tampak hitam dan mengkilap.

Susunan batu sebesar kelapa sebagai bahan utama pembuat sumur itu tampak rapi dan berkualitas. Kuat dan kokoh. Sumur itu, konon berumur sama dengan umur masjid itu.

Sedangkan di dalam masjid, terlihat pula bangunan ornamen yang masih asli, sebab hanya beberapa bagian saja yang direhab, misalnya pintu.

Bagian dalam masjid didominasi warna hijau dan putih. Warna biru tersebut merupakan warna yang sengaja dipertahankan semenjak masjid itu didirikan.

Kemudian di bagian loteng dan bagian penting dari kubah juga merupakan bagian bangunan yang tetap dijaga keasliannya. Rongga kubah tampak lebar dan dilengkapi jenjang kuno untuk mencapai ke atasnya.

Jenjang kuno itu terbuat dari besi dengan bentuk yang unik. Sedangkan di rongga kubah bagian tengah terdapat lantai terbuat dari papan.

Sebelum ada pengeras suara, tukang abang atau yang dikenal dengan sebutan bilal, mengumandangkan azan dari puncak kubah tersebut. Bahkan kubah masjid ini juga tidak pernah diubah bentuknya semenjak berdiri.

Kubahnya terbilang unik, tinggi dan berbentuk bunga kecubung terbalik dan berwarna hijau tua. Dari luar tampak, kubah itu terdiri dari dua bagian. Bagian bawah kubah dan bagian utama kubah. Meski demikian, bentuknya sangat serasi dan seimbang dengan badan masjid.

Wali Nagari Inderapura Tengah, Desri Boy, dengan didampingi pengurus Masjid Agung Inderapura, Amrul, ketika ditanya kepada Padang Ekspres Rabu (12/3) menambahkan bahwa masjid itu merupakan yang tertua di Pesisir Selatan.

“Bangunan masjid yang berdiri pada lahan seluas 40 x 40 meter ini memiliki 36 tiang, sebagai simbol bahwa Pesisir Selatan memiliki 36 Kenagarian, mulai dari Siguntur Kecamatan Koto XI Tarusan batas Kota Padang, hingga Kecamatan Silaut, batas Provinsi Bengkulu,” jelasnya.

Dijelaskan lagi bahwa kubah dengan desain persegi delapan, melambangkan delapan penjuru mata angin. “Dipuncak kubah ada gambar ayam sebagai tanda waktu, sebab memang hanya ini lah satu-satunya masjid yang ada di Pesisir Selatan ketika itu,” jelasnya.

Pengurus Masjid Agung Inderapura, Amrul, menambahkan bahwa sekarang masjid bersejarah itu tetap hidup dengan berbagai aktivitas ibadah wajib lima waktu, dan juga pengajian anak TPA dan TPSA.

“Bahkan di bulan suci Ramadhan ini, selain melaksanakan ibadah shalat tarawih, juga di isi dengan tadarus quran oleh para jamaah masjid ini,” timpalnya. (yon)

Editor : Novitri Selvia
#masjid tertua #Nagari Inderapura Tengah #Simbol Kejayaan Islam Masa Lalu #Masjid Agung Inderapura